Tantangan Literasi di Era Digital

Tidak dipungkiri, perkembangan zaman telah merubah banyak kebiasaan masyarakat dalam menemukan informasi termasuk literasi.Terbukanya kran informasi melalui peran digital tersebut menjadi peluang besar untuk pembentukan budaya rajin membaca dan menulis.

Namun, jalan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, bukannya tanpa tantangan. Bahkan lebih dari itu, dibutuhkan upaya yang lebih maksimal untuk menggiring budaya literasi lebih baik dari era sebelumnya.

Dulu, para penggiat literasi sangat sulit mendapatkan informasi tentang buku-buku yang dibutuhkan oleh anak-anak. Ada, tetapi ruang geraknya sangat terbatas. Sementara pada saat itu, antusias anak-anak untuk membaca dan menulis sangat tinggi.

Bukan hanya anak sekolah, anak putus sekolah bahkan berusaha mencari ruang untuk belajar membaca atau pun menulis. Bergabung dengan komunitas yang bergerak di bidang literasi menjadi salah satu langkah awal bagi anak-anak untuk bisa belajar.

Memasuki era digital, untuk menghidupkan literasi cukup banyak platfon digital yang menyediakan ruang untuk mencari informasi tentang buku bacaan hingga tempat untuk belajar menulis.

Bahkan untuk menarik minat masyarakat khususnya anak usia remaja dalam mencintai literasi, bisa mengikuti sejumlah lomba menulis cerita hingga lomba membaca novel. Hampir semua anak pun sudah memiliki handphone. Mereka tidak ketinggalan bahkan larut dengan perkembangan zaman.

Pertanyaannya, apakah anak-anak tertarik membaca melalui alat komunikasi yang mereka miliki?

Atau sebaliknya anak-anak lebih banyak membuka gawai hanya untuk nonton tayangan di sosial media seperti Tiktok, YouTube, Instagram bahkan anak-anak cenderung bermain game.

Mereka lebih asyik berjam-jam di depan layar handphone nya hanya untuk nonton konten-konten yang mungkin tidak bermanfaat baginya. Tetapi, justru tontonan itu yang membuatnya betah.

Tahun, 2021 salah satu provinsi di kawasan timur Indonesia, Sulawesi-Selatan terus berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat. Pemerintah provinsi bahkan menghadirkan Pojok Baca Digital (Pocadi) di Masjid.

Sejumlah masjid yang lokasinya strategis, ada perpustakaan yang lengkap dengan Pocadinya. Program yang diinisiasi oleh mantan gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman itu, sangat diminati oleh masyarakat dan mendapat respon positif.

Komponen dari Pocadi ini terdiri dari 274 eksemplar buku konvensional siap layan, 1.956 copy buku digital subjek Islam, 1 paket rak buku, 2 unit komputer, 2 unit meja PC, 2 unit kursi, 1 set tempat televisi, 1 unit televisi, 1 unit meja /podium informasi, 1 unit UPS Stabilizer, 1 set karpet tile, 1 unit kursi sofa, 2 set Xbanner, dan 1 set desain property.

Pada tahun itu, sedikitnya ada 10 titik fokus Pocadi yang disiapkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel yang dipusatkan di Masjid yang tersebar di Kabupaten/Kota se Sulsel, sementara 10 lainnya di tempatkan di Perpustakaan Komunitas, TBM (Taman Baca Masyarakat), dan Desa/Kelurahan. Untuk Pocadi di Masjid konten bacaannya lebih spesifik bernuansa Islam. Untuk di Perpustakaan Komunitas kontennya umum.

Layanan Pocadi salah satu langkah yang diambil pemerintah Sulsel untuk meningkatkan SDM nya dan mendorong literasi masyarakat. Dengan harapan agar anak-anak kelak bisa menjadi orang yang mampu membangun daerah dengan menjadi pemimpin yang amanah, memiliki akhlak dan moral kepemimpinan.

“Kita selalu dorong SDM jauh lebih penting. Kita tidak tahu, kelak anak-anak kita akan menjadi orang-orang yang bisa membangun daerah kita yang lebih baik ke depan, bisa menjadi pemimpin yang amanah dan memiliki moral kepemimpinan (akhlak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *