Anak merupakan generasi penerus, aset yang harus dijaga agar tumbuh dan berkembang dengan kasih sayang orang tua, agar berada di lingkungan yang baik dan sehat. Orang tua memiliki peran penting dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk anak-anak.
Terkhusus seorang ibun harus berusaha dengan mempertaruhkan separuh hidup, meluangkan waktu untuk mendidik dan mendampingi anak-anaknya. Sebab pengasuhan anak dapat mempengaruhi karakter ketika anak menginjak dewasa. Sebagai seorang ibu yang melahirkan, dan merawat sejak dalam kandungan, harus selalu terlihat bahagia di depan anak-anaknya.
Ibu yang senantiasa bersedih, akan mempengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Mereka akan tahu, ketika ibunya sedih, dia tahu saat ibunya tidak bahagia. Seorang anak akan merasakan apa yang dirasakan orang tuanya. Karenanya, ibu harus selalu bahagia dalam mengasuh anak-anak.
Pada kegiatan majelis ibu yang dilaksanakan DPW Wahdah Islamiyah Sulsel, Sabtu 30 September 2023, Ustazah Herda Hasanah, membawakan materi dengan topik defenisi bahagia.
Menurutnya, ibu yang senantiasa bahagia mengasuh anak akan menjadikannya sebagai ladang investasi ke depan. Sebuah ungkapan tentang pentingnya kebahagiaan ibu menyebutkan “If mother aint happy aint nobody happy.” Artinya jika ibu tidak bahagia, maka tidak seorang pun yang bahagia.
“Jika kebahagiaan sangat mempengaruhi, maka apa sebenarnya makna bahagia dari kita?”
Bahagia itu apakah dengan banyaknya harta atau jabatan? Ternyata kebahagiaan yang sesungguhnya yang harus dimiliki ialah kekayaan hati. Sesuai hadist dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu’ Alaihi Wasallam bersabda, “Hakikat kaya bukan dari banyaknya harta. Namun kekayaan hati.” (HR.Bukhari).
Ustazah yang kerap disapa Ummu Maryam ini melanjutkan bahwa kekayaan hati disini ialah penerimaan kenyataan yang ada. Penerimaan takdir yang Allah berikan kepada kita. Namun bukan berarti penerimaan takdir yang dimaksudkan adalah ketika menerima sekedar takdir itu begitu saja. Melainkan ada usaha bagaimana menghadapi suatu hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi diri kita.
“Pada proses penerimaan itu ada usaha bukan hanya sekadarnya. Jika sekadarnya namanya putus asa. Hal terpenting adalah dari bentuk kekayaan hati itu adalah tawakkal. Meyakini bahwa yakin dari usaha yang diri kita lakukan akan ada hasil terbaik yang Allah berikan. Seperti menerima kondisi anak dan suami yang tidak sesuai harapan kita,” lanjut trainer dan konselor Rumah Parenting Bekasi ini.
Ada Ibu Yang Tidak Bahagia Dalam Pengasuhan Anak
Lalu, beberapa kasus ditemukan sebagian ibu merasa tidak bahagia dalam mengasuh sang anak. Mengapa hal itu terjadi? Ternyata hal yang sering terjadi ialah tidak ada waktu untuk diri sendiri atau biasa dikenal istilah “me time”.
Mindset seorang ibu biasanya merasa bahwa ia harus berkorban apapun kondisinya. Padahal berkorban itu seharusnya tidak mengabaikan diri sendiri. Ini sama saja dengan mendzholimi diri sendiri.

Kemudian sebagai orangtua kita menuntut untuk anak menjadi seorang yang penurut dan patuh sesuai mindset kita. Sehingga berujung membuat diri merasa capek dalam mengasuh mereka. Padahal anak bukan seorang robot. Ia memiliki perasaan dan pikiran sendiri. Mereka punya cara untuk patuh dan menurut sesuai keunikan masing-masing.
Hal yang membuat tidak bahagia dalam pengasuhan anak adalah tidak menikmati hari ini. Tidak menikmati setiap proses dan moment suka duka dari tumbuh kembang anak yang tidak akan bisa terulang lagi sepanjang hidup.
Dari problematika yang terjadi solusi dari bagaimana menjadi ibu bahagia dalam mengasuh anak ialah kenali diri sendiri agar tahu sisi kelebihan dan kekurangan kita sebagai ibu. Sehingga ada usaha untuk memperbaikinya. Hindari membandingkan diri sendiri. Membandingkan tumbuh kembang anak dengan anak yang lainnya.
Mengendalikan emosi agar dapat mengontrol ketika sedang mengasuh anak. Berpikir positif untuk memberi afirmasi positif yang melahirkan tindakan yang bijak. Mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama bukan hanya diemban dari seorang ibu. Tetapi seorang ayah memiliki peranan penting, maka hangatkan hubungan dengan suami untuk saling mendukung. Terakhir dari solusi yang kadangkala terabaikan ialah seorang ibu harus lagi lagi memiliki me time.
Majelis Ibu merupakan kegiatan untuk membekali para ibu dalam menjalankan perannya dalam rumah tangga. Diharapkan dengan kegiatan ini, rumah tangga menjadi lebih berkualitas sehingga keluarga pun menjadi berkualitas. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan muslimah se-Sulawesi Selatan melalui aplikasi Zoom meetings.
