Sate, kuliner Nusantara yang juga terdapat di sejumlah negara. Makanan ini, berbahan dasar daging di potong kecil, lalu di tusuk dengan batang kayu yang sudah di bentuk tipis dan bersih. Kemudian sate di bakar menggunakan arang.
Sate bisa kita temui di semua daerah di Indonesia, namun yang menjadi pembeda rasa pada olahan bumbunya. Tiap daerah tentu saja meracik resep bumbu sate dengan rempah-rempah andalan mereka. Tidak heran jika sate menjadi menu favorit yang selalu jadi incaran di setiap acara.
Sate menghadirkan kenikmatan tersendiri jika disandingkan dengan menu yang lain. Aroma asap saat membakar sate, terasa kental meskipun telah dilumuri bumbu, rasa itulah yang membuat penikmat sate jadi ketagihan.
Nah, kelebihan makanan yang telah ada sejak belasan abad yang lalu, selain pada racikan bumbunya, aroma asap pembakaran yang melekat pada daging sate pun menggugah selera makan. Semakin garing cara membakar maka terasa nikmat di lidah.
Cukup mudah untuk mendapatkan sate, penjual sate biasanya kita temui di pinggir jalan dengan gerobak dan memasang tenda. Biasanya di samping gerobak tersedia pembakaran. Penjual sate membakar daging sesuai jumlah pesanan.
Pembeli bahkan rela antri berlama-lama untuk mendapatkan sate, mereka berdiri di pinggir jalan tak jauh dari gerobak sate untuk menghindari asap. Namun, ada juga penjual sate yang menyediakan kursi dan meja bagi pengunjung yang ingin makan di tempat.
Di Indonesia sate yang terkenal yakni Sate Madura, sate ini, bahkan ada di setiap daerah. Biasanya gerobak satenya berbentuk perahu. Lalu, ada sate Bali, sate Solo, sate Makassar, sate Padang dan masih banyak lagi. Umumnya daging yang digunakan untuk membuat sate, daging sapi, ayam bahkan ada juga daging kambing.
Sate Dipopulerkan Pedagang Muslim dari India
Seperti dilansir dari bobogird.id, awal mula munculnya sate di kota Ponorogo, Jawa Timur, sekira abad-19. Konon ceritanya pada zaman itu, banyak pedagang muslim dari India ke Indonesia. Mereka memberi pengaruh kuliner.
Dari kota yang berjuluk Reog inilah, sate mulai populer hingga ke seluruh Nusantara. Kemudian masing-masing daerah mulai membuat sesuai cita rasa khas daerahnya sendiri.
