Ketika Anak Kecanduan Game, Belajar Sabar dari Si Sulung

Kali ini saya sedikit bercerita tentang besarnya tantangan hidup orang tua masa kini. Ya, ini tentang anak kecanduan game.

Saya adalah seorang ibu dari tiga anak. Anak pertama, perempuan, kini duduk di kelas 2 SMP. Anak kedua, laki-laki yang baru tamat SD, sebentar lagi menyusul kakaknya. Si bungsu, anak laki-laki kelas 3 SD, manja dan sangat sensitif.

Setiap hari rumah kami penuh warna, tawa, tangis, pertengkaran kecil, dan pelukan yang saling menyembuhkan. Mereka sering berantem, lalu akur, lalu berantem lagi begitulah dinamika hari-hari kami.

Tiga anak, tiga karakter, tiga sumber tawa sekaligus ujian jiwa.

Hampir setiap hari rumah kami ramai oleh riuhnya pertengkaran kecil, berebut remote, saling sindir, berteriak, lalu tertawa bersama seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kadang saya ikut tersulut, kadang hanya bisa menghela napas panjang dan berkata dalam hati, “Namanya juga anak-anak”

Namun, hari itu berbeda. Saya mulai kehilangan anak pertama saya, bukan secara fisik, tapi jiwanya seolah mulai menjauh.

Saat Game Mengambilnya dari Kehidupan Nyata

Anak kami kecanduan game, bangun pagi yang dicari handphone. Tidak ada lagi semangat belajar, apalagi berangkat sekolah. Dunia baginya hanya layar dan karakter digital.

Sebagai orang tua, kami sangat terpukul. Puncaknya, saat kami mengambil handphonenya, dia mengamuk luar biasa, tantrum. Teriakan, tangisan. Ia seperti orang lain. Anak pendiam kami berubah menjadi lautan emosi yang meledak-ledak.

Kami mencari jawaban ke mana-mana, bertanya ke teman, membaca ratusan artikel parenting. Tapi tidak ada yang benar-benar menjawab keresahan hati kami.

Lalu saya mengambil langkah yang tidak biasa, kami izinkan ia tidak masuk sekolah seperti permintaannya. Bukan karena menyerah, tapi karena saya ingin membangun ulang jembatan antara hati kami berdua. Kami ingin dia tahu, kami bukan musuhnya.

Mencoba Jalan Profesional

Atas saran seorang sahabat, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi ke psikiater. Selama dua minggu kami mendampingi si sulung. Kami belajar tentang trauma, emosi yang tak bisa diungkapkan, dan pentingnya koneksi batin dengan anak remaja.

Namun hasilnya belum terlihat, ia masih diam, masih jauh dan di titik itu, kami sadar bahwa sabar bukan tentang menunggu hasil cepat,tapi tentang tetap hadir meski tak tahu akhir.

Pelajaran yang Tak Kami Temukan di Buku

Kami belajar bahwa anak-anak tidak tumbuh dari teori kita, tapi dari teladan dan pelukan. Kadang cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi harus ditunjukkan. Menjadi ibu berarti menjadi ruang pulang bahkan saat anak tidak menginginkan kita dekat.

Saya tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini, tapi saya tahu, saya tidak boleh menyerah.

Untuk semua ibu yang sedang menghadapi anaknya yang “berubah”
Kamu tidak sendiri, kamu tidak gagal, kamu hanya sedang tumbuh bersama anakmu di medan yang sunyi dan penuh air mata.

Sabar yang Membutuhkan Waktu

Tidak hanya berhenti pada psikiater pertama, kami terus mencari jalan lain.
Kami ingin putri sulung kami kembali meski hanya satu langkah kecil saja.
Kami ingin ada harapan, walau tipis.

Hingga akhirnya kami membawanya ke dokter penyakit dalam, bukan karena yakin ada penyakit fisik, tapi karena kami kehabisan arah. Kami bercerita dari awal tentang tangisan, kemarahan, keputusasaan.

Dari dokter tersebut, kami diberi rujukan ke rumah sakit untuk bertemu lagi dengan dokter psikiater yang berbeda.

Pertemuan itu seperti menemukan cahaya samar di lorong panjang. Ada ketenangan, ada harapan kecil. Anak kami diberi beberapa jenis obat untuk dikonsumsi selama seminggu.

Kami harus rutin kontrol, seminggu sekali. Sebulan penuh kami jalani itu, bolak balik rumah sakit ke rumah dan selama itu pula, anak kami tidak bersekolah.

Tapi dari hari ke hari, perlahan wajahnya mulai kembali seperti dulu. Suaranya lebih tenang, tatapannya tidak seasing kemarin.

Dan suatu pagi yang tak akan pernah saya lupakan, ia sendiri yang bangun dan berkata, “Bunda saya mau sekolah.”

Saya hanya bisa menangis bukan karena sedih, tapi karena Tuhan menjawab kesabaran kami.

Kini, ia kembali menjalani hari-harinya. Tak lagi sulit dibangunkan.
Tak lagi teriak ketika kami menyebut kata “belajar”. Ia kembali menjadi anak perempuan kami yang selama ini seperti hilang dalam kabut.

Saya belajar bahwa sabar itu tidak instan. Ia bisa menjadi ujian yang menyesakkan dada dan menguras air mata, tapi andai dulu kami menyerah, entah bagaimana nasib putri kami hari ini.

Continue Reading

Sekolah Islam, Bekal untuk Dunia dan Akhirat

Sekolah Islam adalah tempat anak-anak ditempa dengan dzikir, doa, dan akhlak mulia.Di sana, mereka tumbuh dalam lingkungan yang senantiasa mengingat Allah dan mencintai Rasul-Nya.

Sejak usia dini, mereka mulai dikenalkan pada tujuan hidup yang hakiki menjadi hamba Allah yang taat dan bermanfaat.Tak heran, sekolah-sekolah Islam kini semakin diminati dan hadir di tengah masyarakat sebagai pilihan pendidikan yang membawa keberkahan. Tinggal bagaimana kita, sebagai orang tua, memilih jalan pendidikan terbaik—bukan hanya untuk masa depan dunia, tapi juga akhirat anak-anak kita.

Tidak perlu khawatir apalagi menganggap sekolah islam ketinggalan zaman, kurikulum moderen telah diterapkan berpadu dengan nilai-nilai Islam. Anak-anak tetap belajar sains, teknologi, dan bahasa dengan pondasi iman yang kokoh. Sekolah islam bukan hanya menanamkan hafalan, tapi juga membentuk perilaku. Anak-anak belajar berkata lembut karena mereka tahu Rasul bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Mereka belajar jujur, karena tahu bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.

Salah satu sekolah Islam di kota Makassar, tempat anak kami mengenyam pendidikan yakni Cobig Islamic School. Anak ke dua kami Nawaf Syahdan Al Muhtada, mulai sekolah di SDIT Cobig sejak kelas satu. Dia menginjakkan kaki di sekolah penghafal Alquran dan Hadist Shahih itu, dengan pikiran yang kosong, belum mengetahui banyak hal. Dia mengenal huruf dan belajar membaca di bimbing oleh ustazah dan ustadz di Cobig Islamic School.

Sewaktu kelas I Nawaf diajar dan didik oleh seorang ustazah, sang ustazah lah memperkenalkan huruf demi huruf pada anak kami. Sampai dia bisa membaca, di tangan ustazah juga anak kami bisa membaca Alqur’an. Bukan hanya itu, Nawaf bahkan belum tahu mengaji dan tata cara salat, semua ia dapatkan saat pertama kali belajar di SDIT Cobig.

Belajar di Cobig, anak kami dikelilingi oleh guru yang menjadi teladan dalam ibadah, teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan, serta sistem pendidikan yang mendekatkan mereka kepada Allah setiap hari. Mulai dari shalat dhuha bersama, dzikir pagi, tahfidz harian, hingga kajian hadist sederhana yang disampaikan dengan penuh cinta. Semua itu, membantu menjaga fitrah anak agar tetap bersih dan kokoh dalam iman.

Kita semua tahu bahwa menghafal Qur’an dan hadist bukan perkara ringan, membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan tekad. Tapi justru di sinilah hebatnya sekolah Cobig. Di usia belia, anak-anak telah dilatih untuk fokus, konsisten, dan pantang menyerah. Mereka belajar bahwa hidup adalah perjuangan, dan pertolongan Allah selalu bersama orang yang bersungguh-sungguh.

Awalnya kami pesimis, anak kami bisa menyelesaikan pendidikan di sekolah Cobig Islamic School apalagi saat dia mulai tersentuh oleh gadget dan mulai candu bermain game, ada rasa khawatir melihat sikapnya. Ternyata, dia menyediakan waktu untuk bermain gadget setelah menyelesaikan tugas sekolah. Semua itu, tak lepas dari siapa yang mendidiknya dan di sekolah mana dia mengenyam pendidikan.

Kenapa kami memilih Cobig?

Keempat anak kami sekolah di Cobig, biayanya terjangkau murah tetapi tidak murahan. Tenaga pendidik yang bekerja di sana, tidak hanya mengajar tetapi juga menginspirasi. Salah satu keunggulan sekolah Islam penghafal Qur’an dan hadist shahih adalah tenaga pengajarnya yang luar biasa. Mereka bukan hanya lulusan pendidikan terbaik, tapi juga penghafal Qur’an yang hidup bersama nilai-nilai yang diajarkan.

Guru seperti ini tidak sekadar menyampaikan ilmu, tapi menjadi teladan nyata bagi murid-muridnya, para pendidik di sekolah anak kami berbicara dengan lembut, konsisten dalam ibadah, dan penuh kasih saat membimbing. Tenaga pendidik seperti itu, akan menghidupkan proses belajar, menjadi lebih bermakna. Anak-anak tidak hanya menghafal ayat, tapi juga memahami dan merasakan bagaimana ayat itu dihidupkan dalam keseharian. Karena pendidikan terbaik bukan hanya soal materi pelajaran, tapi tentang siapa yang menjadi sumber ilmunya.

Di dunia ini, kita bisa memilih sekolah terbaik, guru terbaik bahkan sistem pendidikan terbaik. Tapi jika semuanya hanya untuk mengejar dunia maka kita kehilangan arah. Namun jika kita memilih pendidikan yang mendekatkan anak pada Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sedang menanam investasi yang tak hanya menyelamatkan mereka, tapi juga diri kita sendiri. Karena anak yang shalih bukan hanya kebanggaan, tapi doa yang tak putus saat kita telah tiada.

Nah, memasuki tahun ajaran baru, jangan salah memilih sekolah untuk anak-anak yang kita cintai.

Continue Reading

Tinggal Terpisah dari Orang Tua, Bagaimana Tumbuh Kembang Anak?

Setiap anak yang terlahir ke dunia ini menjadi hadiah terindah bagi kedua orang tuanya. Tidak sedikit orang tua menantikan kehadiran anaknya dengan penuh suka dan kebahagiaan yang tiada tandingannya. Anak adalah anugerah terindah yang diberikan oleh sang pencipta karenanya harus dijaga, di didik dengan baik.

Perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua masih dibutuhkan oleh seorang anak sehingga mereka tidak bisa hidup terpisah.  Jika kedua orang tua masih hidup, sebaiknya tidak tinggal terpisah dengan anaknya sebab akan memberikan dampak negatif terhadap psykologisnya. Anak cenderung akan mengalami stress, trauma, tidak konsentrasi dan akan menyebabkan anak tidak percaya diri. Secara tidak langsung akan menjadi pemalu, tidak mau bertemu dengan orang-orang meskipun itu adalah keluarganya sendiri.

Apabila Anda seorang ibu yang aktif di dunia kerja, setiap hari menghabiskan waktu pagi hingga sore di kantor. Tidak seharusnya menitipkan akan-anak ke tempat yang sangat jauh meskipun itu adalah keluarga terdekat. Sebab orang tua masih bisa menghabiskan waktu bersama anaknya saat mereka pulang kerja. Anak-anak pun rindu bercanda dengan kedua orang tuanya.

Mereka memberikan hiburan dan kenyamanan tersendiri setelah kita lelah seharian bekerja di kantor. Bukan hanya itu, anak juga akan merasa bahagia jika bisa melihat kedua orang tuanya apalagi bisa memeluk dan bermanja-manja setiap hari.

Ada satu cerita, seorang anak perempuan anak pertama dari sebuah keluarga. Dia tinggal bersama ayah, ibu dan keluarga dari ibunya. Sebagai anak perempuan yang lucu, semua orang sangat memanjakannya termasuk ibunya sendiri. Kakek dan neneknya pun merasa sangat senang bisa melihat cucunya setiap hari. Hingga akhirnya anak perempuan itu, menjadi sangat manja.

Tiba saatnya dia masuk sekolah, dia mulai malas-malasan mungkin karena dia terlalu lama menimba ilmu di sekolah Taman Kanak- kanak (TK). Kondisi itu, membuat sang ayahnya panik dan mengirimnya sekolah di kampung dengan alasan anaknya tidak bisa baik jika masih hidup se rumah, sifat malasnya semakin menjadi katanya.

Meskipun berat anak perempuan itu, pun  menurut. Dia kelihatan sangat terpaksa meninggalkan keluarga yang selama bertahun-tahun sudah mengerti dan memahami sifatnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di TK, dia kembali bersama keluarganya tetapi, hanya satu tahun.

Saat duduk di bangku SD kelas I , rasa malas kembali menghantui hingga dia tinggal kelas. Kondisi ini, kembali membuat sang ayah stress dan mengirimnya ke kampung lagi dan lagi.  Kali ini, dalam waktu yang cukup lama kurang lebih dua tahun. Naik kelas 4 SD, dia kembali berkumpul bersama keluarganya, berkumpul bersama ayah, ibu dan adik-adiknya.

Setelah kembali ke rumah dan melanjutkan pendidikan bersama kedua adiknya dia seperti anak asing, cenderung pemalu, malas keluar rumah kalau tidak di paksa, malas bergaul dan seperti baru beradaptasi kembali. Dia selalu memberontak, menjadi anak yang wataknya sangat keras dan selalu mencari perhatian.  Padahal di sana mereka mendapatkan pendidikan yang sangat baik, berperilaku dengan baik. Setelah kembali, dia seperti ingin melampiaskan sesuatu seolah ingin berontak, sebab selama dua tahun hidupnya jauh dari orang tua. Bisa jadi dia kesal dan kecewa berat tetapi, tidak bisa menyampaikan langsung sehingga dia pendam sendiri.

Saya pernah membaca satu artikel tentang perkembangan dan pertumbuhan anak-anak jika di hidup terpisah dari kedua orang tuanya. Artikel tersebut terbit dihalaman website haibunda.com terbit tahun 2023, dalam artikel tersebut dijelaskan, ada 13 dampak psikologis anak ketika jauh dari orang tua.

Menurut profesor psikologi Stanford University, Ian H. Gotlib, dalam proses pengasuhan dan kesehatan anak. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting. Katanya Perpisahan dari orang tua itu traumatis, menghilangkan perlindungan terpenting bagi anak. Hal ini diketahui dapat mengganggu perkembangan dan memiliki konsekuensi negatif jangka panjang bagi kesehatan psikologis dan fisik anak,

Dalam artikel itu pun disebutkan 13 dampak psikologis anak di antaranya,

  1. Stres dan menurunkan kinerja otak
  2. Anak bisa trauma
  3. Tidak percaya diri
  4. Tidak mau bersosialisasi
  5. Susah konsentrasi
  6. Sulit mengontrol emosi
  7. Cenderung manja
  8. Mudah curiga
  9. Cemas berlebihan
  10. Merasa tidak diinginkan
  11. Sering merasa kesepian
  12. Sulit mengungkapkan perasaan
  13. Berpotensi memiliki masalah ketika dewasa

 

 

 

 

 

Continue Reading

Seorang Ibu Membuang Bayinya “Maaf belum Bisa Merawat Kamu, Makan Aja Susah”

Hujan dan angin bersamaan menyapa bersamaan menghadirkan pagi yang dingin dan hari terasa sunyi, menghadirkan rasa malas beranjak dari pembaringan yang empuk. Sambil memainkan ponsel, Saya membuka sejumlah media online, lalu mencari berita viral di media sosial. Ada satu berita yang membuat perasaanku sedih, hampir semua portal mengangkat cerita tentang seorang bayi ditemukan dalam kardus.

Sejenak sekujur tubuhku merinding, kuperhatikan wajah bayi yang tidak berdosa itu. Wajahnya sangat gagah, matanya tertutup rapat, rambutnya hitam dan padat, tubuhnya beralaskan selimut dan ditutupi sarung bantal. Dia ditemukan dalam kardus, seperti yang diberitakan seorang laki-laki tua yang setiap hari bekerja mencari kardus bekas dan menemukan bayi tersebut pagi hari sekira pukul 07.00 WIB Kamis (17/05/20205). Lokasi tempat ditemukan bayi tersebut di depan bangunan gudang baru PT Waxinda, Jepara.

Di atas tubuh sang bayi, ditemukan kertas dengan tulisan, “Maaf ya belum bisa merawat kamu karena masih ngekos, makan aja susah. Tolong titipin ke panti aja, yang mau merawat makasih ya. BTW anaknya cowok,”

Sejenak berita itu membuatku tidak percaya jika ibu yang melahirkan dengan susah payah, telah membuang buah hatinya. Anak yang di kandung selama sembilan bulan yang selama itu, mungkin dia mempertaruhkan hidupnya berusaha menjaga dirinya agar anaknya terlahir dengan selamat. Namun, sehari setelah sang buah hatinya lahir dia bahkan meninggalkannya padahal sangat membutuhkan kasih sayang dan ASI. Bayi yang tidak berdosa itu, belum membutuhkan makanan dan minuman seperti isi surat yang ditulis ibu sang bayi. Dia hanya membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya, membutuhkan perhatian dan pelukan hangat dari orang yang telah melahirkannya.

Anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dengan baik, dirawat dan dibesarkan oleh orang tuanya. Semua ibu di dunia ini, akan mempertaruhkan hidupnya demi untuk anak yang dilahirkannya, sesungguhnya seorang ibu memiliki hati yang lembut jika sudah menyangkut masalah anak. Sekalipun dia marah terhadap anaknya tetapi, marahnya bukan marah yang menyakiti.

Namun, beberapa tahun terakhir ini., banyak ibu yang mencelakai anak-anaknya disebabkan faktor ekonomi. Ada bayi yang ditelantarkan, di buang bahkan di bunuh oleh ibu kandungnya sungguh sangat menyedihkan mendengarnya. Dibeberapa daerah bahkan ada bayi dibuang dan tidak dapat diselamatkan lagi. Banyak juga anak yang baru lahir dibuang oleh orang tuanya diadopsi oleh orang lain dan mendapatkan kasih sayang yang layak.

Continue Reading

Stop, Jadikan Masjid seperti Taman Bermain Anak Saat SalatTarawih

Ramadan sebentar lagi berakhir, rasanya ada yang akan hilang dari kebiasaan kita sehari-hari selama satu bulan terakhir. Bulan yang penuh berkah ini, selalu saja menyisahkan kenangan indah yang membuat air mata menetes saat mengingatnya. Kesibukan-kesibukan di waktu sahur, saat berbuka dan setelah berbuka kita ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih menjadi kenangan yang sangat manis, belum tentu bisa kita ulang di tahun berikutnya.

Namun, ada satu hal yang membuat saya sedikit mengeluh dalam hati, tatkala melaksanakan salat tarawih di masjid. Semua jemaah fokus untuk beribadah dan mendengarkan ceramah dengan tenang dan penuh hikmat. Namun, di luar masjid ada segerombolan anak-anak yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka memakai songkok, membawa sarung dan terlihat sangat gagah dengan pakaian muslimnya.

Anak-anak tersebut tadinya ikut melaksanakan salat Isya berjamaah, setelah salat mereka meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke luar masjid. Di sana mereka sibuk bermain, anak-anak yang berusia remaja sibuk bercerita dengan rekannya. Sementara di dalam masjid, anak-anak perempuan sekira berusia 10 tahun juga sibuk cerita dengan anak seusianya saat ceramah berlangsung.

Kulihat kiri kananku, ibu-ibu sibuk menegur anak perempuan yang sedang bercerita dengan rekannya. Entah apa yang mereka bahas,sampai mereka tertawa dan sangat mengganggu kami yang sedang fokus mendengar ceramah.

Tidak sedikit ibu-ibu yang mengeluh. “Dari kemarin anak-anak ini, kalau sudah ketemu temannya selalu cerita”. Keluh seorang ibu disampingku. Saya hanya tersenyum sebagai tanda mendukung keluhan ibu itu, saya juga sangat tidak suka jika anak-anak ribut di masjid. Entah, kenapa konsentrasi saya seakan teganggu.

Hal yang menyedihkan lagi, ketika salat tarawih. Ada seorang ibu yang membawa anaknya sekira berusia 3 tahun ke masjid. Saat ceramah berlangsung anak tersebut dengan tenang duduk dipangkuan ibunya. Namun, ketika salat tarawih sudah dilaksanakan, anak kecil yang tidak berdosa itu pun lari-lari depan kami sampai sajadah jemaah di sekelilingku terbongkar.

Kami memperbaiki kembali posisi sajadah setelah selesai salat dua rakaat. Namun, anak itu masih saya melakukan aksinya sampai salat tarawih berakhir. Lari-lari di depan orang salat sambil teriak, mereka sangat mengganggu. Kondisi ini terjadi di masjid dekat rumah saya.

Dulu, waktu saya masih kecil di masjid juga sering ada orang tua yang membawa anaknya ke masjid saat bulan puasa. Namun, anak-anak itu hanya menangis di depan ibunya dan tidak lari-lari di depan jemaah lain. Kalau menurut saya pribadi sih, sebaiknya ibu-ibu tidak usah membawa anak yang masih kecil ke masjid. Sebab hanya membuat jemaah lain tidak khusyuk dalam melaksanakan ibadah. Bagaimana dengan Anda ?

Bagi Anda yang memiliki pengalaman salat tarawih di masjid dengan kondisi banyak anak yang bermain-main, bisa komen di kolom komentar.

Continue Reading

Ramadan dan Malasnya Anak-anak ke Sekolah

Ramadan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, waktu yang sangat singkat untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Pokoknya bulan bagi umat Islam menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh.

Tahun ini, pada Ramadan 2025 banyak perbedaan dari tahun sebelumnya, harus sih. Namanya juga pemimpin baru harus ada perubahan. Kalau tidak beda, tidak ada perubahan dong. Terkait libur sekolah. Masya Allah pemerintah memberikan banyak libur untuk anak-anak sekolah agar anak-anak bisa fokus melaksanakan ibadah.

Sekolah mulai libur satu Minggu pada awal puasa, sebelumnya anak-anak ujian selama satu Minggu kemudian masuk sekolah satu minggu. Memasuki bulan Ramadan, sekolah diliburkan awal puasa selama sepekan.

Nah, setelah sepekan libur harusnya anak-anak kembali sekolah selama satu Minggu. Khusus di sekolah anak-anak saya yang biasanya pulang sore. Sekolahnya hanya setengah hari, mereka pulang pukul 10.15 WITA, tapi justru sekolah setengah hari itulah yang membuat saya lelah. Meskipun pulangnya cepat, ketiga anak-anakku yang cantik dan gagah perkasa ini (menurut saya) jadi malas-malasan ke sekolah. Mereka sudah merasa nyaman menikmati libur.

Tidur setelah salat subuh dan bangunnya menjelang salat duhur, entahlah susah sekali membangunkan mereka, diwarnai perdebatan kadang membuat saya malas. “Tidak papa Bund, hari ini saja besok ke saya sudah ke sekolah. Lagian di sekolah juga tidak belajar ” katanya dengan nada mengeluh.

Keesokan harinya dengan alasan yang sama, mengantuklah, capeklah karena puasa dan berbagai alasan yang membuat saya luluh begitu saja. Entahlah mungkin karena saya juga merasa lelah seharian, mengurus dagangan dan harus menjemput lagi pukul 10.00 kemudian mengantar ke rumah. Sampai rumah kembali lagi ke sekolah menjemput anak perempuanku yang duduk di bangku SMP, dia pulangnya pukul 12.000 WITA.

Aku berpikir masuk akal juga sih, jika selama seminggu aktivitasku seperti itu, banyak tenaga, waktu dan bensin yang terkuras (hehehe). Akhirnya aku setuju jika mereka tidak usah ke sekolah, seandainya mereka pulang pukul 12.00 bersamaan dengan kakaknya, bisa satu kali menjemput dan daganganku pun bisa diurus dengan baik.

Dan ini, kesalahan besar yang telah saya lakukan. Sebenarnya tidak boleh memberikan dukungan pada anak-anak untuk malas ke sekolah. Apalagi setelah seminggu sekolah, mereka libur lebaran lagi selama dua pekan. Tetapi, disisi lain banyak pekerjaan juga yang harus saya selesaikan dan membutuhkan banyak waktu.

Saya melihat anak-anak tidak ke sekolah, tetapi mereka tetap memanfaatkan momen Ramadan untuk belajar di rumah, morajaah, dan mengaji. Salat lima waktunya pun tetap terjaga, puasanya Alhamdulillah sehari full. Didikan dari sekolah oleh para ustadz membuat sikap anak kami lebih baik. Mereka sangat patuh dan disiplin terhadap apa yang diajarkan oleh ustadz nya di sekolah.

Continue Reading

Ketika Ustazah Kesayangan Ananda Resign

Tiba-tiba merasa rapuh saat mendengar wali kelas ananda sudah resign. Perempuan yang sangat berjasa, perempuan yang telah mengubah anak pertamaku menjadi lebih baik dan kembali normal dalam bersikap.

Namanya Ananda Reskita, seorang guru. Dia mengajar di SMP Cobig Islamic School, salah satu sekolah islam swasta di kota Makassar.

Saya mengenalnya sekira tahun 2023, ketiga anak kami mengenyam pendidikan di tingkat SD, SMP dan SMA. Kala itu, perempuan yang sehari-hari mengenakan pakaian syar’I dan bercadar mengajar di sekolah SD. Namun, namanya cukup familiar dikalangan orang tua siswa.

Dia terkenal baik, disiplin dan cukup tegas saat mengajar, dalam mendidik anak-anak dia bahkan dengan ikhlas memberikan semua ilmu dan pemahaman yang dimilikinya. Banyak ide cemerlang sang ustazah yang mungkin tidak dimiliki oleh teman se profesinya. Cara memberikan pelajaran pun tidak membuat anak-anak bosan apalagi seharian bersamanya.

Oh, ya mulai kenal dan akrab dengan ustazah kelahiran Majene ini, saat menjadi wali kelas X SMA Cobig. Waktu itu, dia ditarik dari SD untuk mengajar di SMA menggantikan wali kelas sebelumnya yang sedikit bermasalah.

Cerita tentang sepak terjang ustazah dalam mengajar, saya dengar langsung dari Ketua Yayasan sekolah Cobig, Ustadz Supirman. Kala itu, kami bertemu di kantor Cobig Jl. Baji Gau saat membayar iuran bulanan anak-anak tahun 2023.

Saya sempat menceritakan kepada pemilik sekolah bahwa ada keponakan yang satu rumah dengan kami juga bersekolah di SMA Cobig kelas X. Pada saat itu, ustadz Supirman pun menjelaskan bahwa wali kelas X akan diganti dengan ustazah yang dulu mengajar di SD Cobig karena banyaknya keluhan anak-anak dan orang tua siswa.

Saya hanya diam, hati kecilku berkata guru SD dipindahkan ke SMA. Apa tidak salah, sedangkan wali kelas sebelumnya diprotes anak-anak karena lebih banyak diamnya daripada mengajarnya.

Kemudian ustadz kembali menjelaskan, ustazah yang akan menggantikan ustazah Jesica adalah Ananda Reskita. “Ustazah andalan Cobig, ustazah terbaik, “katanya. Dia bahkan menjelaskan bahwa banyak orang tua siswa yang suka dan senang anaknya diajar oleh Ananda Reskita.

Mendengar ceritanya, saya jadi penasaran seperti apa sosoknya. Setidaknya ada sedikit gambaran bahwa anak kami akan diajar dan dibimbing oleh ustazah andalan (asyik).

Singkat cerita, Ananda Reskita pun sudah resmi menjadi wali kelas X, kami para orang tua siswa sudah berkenalan di group whatshap kelas.Sejak saat itu, saya dan ustazah Reskita sering berinteraksi, komunikasi di antara kami terjalin dengan baik. Tentu saja seputar perkembangan anak didiknya, dan saya sebagai wali orang tua sangat senang dengan caranya berkomunikasi. Jujur sangat jauh berbeda dengan ustazah sebelumnya yang sangat penyabar dan pendiam.

Tahun 2024, kebaikan dan ketulusan ustazah Reskita sangat kami rasakan ketika dia di rolling menjadi wali kelas 8 SMP Cobig, dia mengajar anak pertama kami. Nadia Safwana. Anak kami sedikit berbeda dengan teman-temannya, tidak suka bergaul dan cenderung pemalu. Bukan hanya itu, Safwa memiliki kelebihan yang lain yang tidak semua anak memilikinya.

Kondisi Safwa cukup unik, kami kedua orang tuanya bahkan nyaris kehilangan akal menghadapi sikapnya. Setiap hari kelakuannya seperti anak kecil sementara usianya sudah menginjak remaja. Dia merasa nyaman saat menghabiskan waktu di kamar seharian bermain boneka, handphone hingga mencampur campur bedak dengan minyak gosok dalam satu wadah.

Hal itulah yang kadang membuatnya malas ke sekolah, lebih sering berontak ketika kami paksa untuk sekolah.Karena kondisi Safwa seperti itu, kadang membuat kami merasa tidak nyaman pada guru atau pun wali kelasnya. Saya selalu menganggap sikap Safwa ini, membuat semua ustazah pusing.

Anak pertama kami ini, sempat kecanduan main game sehingga membuatnya malas ke sekolah. Awalnya kami pikir dengan mengambil handphonenya, Safwa akan bersikap normal sebaliknya dia tantrum. Setiap hari kami antar ke sekolah, tiba di gerbang dia mengamuk tidak mau turun. Dia berontak bahkan teriak dan berakhir menangis. Kalau sudah seperti itu, kami pun membawanya pulang.

Dua Minggu berjalan, kami berharap ada perubahan begitupula dengan Ustazah Reskita. Dia berusaha agar setiap hari Safwa masuk sekolah sekalipun harus menangis dulu. Ustazah Reskita sangat memahami karakternya, dia seperti sudah lama mengenal Safwa padahal baru kemarin menjadi wali kelasnya.

Hampir setiap hari, saat kendaraan kami parkir di depan SMP Cobig, selalu menjadi pusat perhatian para ustazah yang piket dan siswi SMP dan SMA, sebab saat itu Safwa tidak mau turun dari mobil. Cukup banyak alasannya yang menurut kami tidak masuk akal.

Ustazah pun berjalan menyapa kami dan membujuk Safwa untuk turun. Setiap hari seperti itu. Pernah suatu hari, Safwa sudah turun dari mobil. Saat itu, ustazah Reskita berbisik “Jika Safwa sudah turun dari mobil, ummi dan abinya sudah bisa langsung pulang.”

Kami pun mengikut saran ustazah, Safwa malah teriak menangis sambil berlari menghampiri kami. Namun, ustazah Reskita berusaha memegang tangannya dibantu oleh rekannya. Saat Safwa berlari ke pagar, ustazah yang piket saat itu, lebih dulu menutup dan menghalangi Safwa keluar. Ada rasa sedih melihatnya, meninggalkan dia dalam kondisi seperti itu. Setengah jam kemudian, ustazah mengirim pesan, “Ananda sudah aman umm, tidak menangis dan sudah belajar dengan teman-temannya.” Hatiku pun mulai tenang.

Membaca pesan dari ustazah, air mataku menetes sangat senang mendengarnya. Berkali-kali aku memuji perempuan itu, perempuan yang hebat. Dia belum menikah, tapi dia bisa memahami karakter anak didiknya. Dia sangat tahu apa yang harus dia lakukan saat menghadapi anak seperti Safwa.

Sikap Safwa kadang membuat kami tidak nyaman apalagi jika merepotkan ustazah.
Saat dia kembali mogok sekolah, awalnya hanya seminggu, lalu dua minggu dan sampai sebulan. Ustazah Reskita bahkan berkunjung ke rumah untuk membujuk Safwa ke sekolah, tapi anak kami tetap menolak ami pun memutuskan untuk memindahkan ke sekolah lain.

Niatku pun ku sampaikan kepada ustazah Reskita, namun perempuan kelahiran tahun 2002 itu, meminta kami untuk bersabar. Dia tidak setuju jika Safwa pindah sekolah. “Saya rasa ini, bukan jalan keluar, Umm.”

“Saran saya Safwa tetap sekolah di Cobig, sambil menjalani pengobatan,” katanya. Dia bahkan menyarankan agar kami konsultasi ke kepala sekolah, menyampaikan bahwa sudah sebulan anak kami tidak masuk sekolah. Langkah itu pun kami tempuh, kepala sekolah memberi izin Safwa untuk berobat.

Selama menjalani pengobatan, ustazah tidak pernah lupa bahwa ada siswinya bernama Safwa. Beberapa kali dia menanyakan kabar anak perempuan kami. Bukan hanya itu, dia juga menanyakan perkembangannya dan sudah sejauh mana pengobatannya.

Sikap istimewa dari ustazah, selalu membuat saya meneteskan air mata dan membuat hatiku bergetar hebat. Saya bahkan merasa tidak sendiri menghadapi Safwa, tidak sendiri membuat Safwa menjadi anak yang baik. Hadirnya ustazah Reskita, membuat saya merasa menemukan adik perempuan yang siap membantu mendengarkan keluhan terkait Safwa.

Sungguh sikap anak perempuan kami sempat membuat otak saya lumpuh, tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan agar dia bisa kembali ke sekolah. Menurut ustazah, jika dia sudah sampai ke sekolah, Safwa bahkan menurut semua yang dikatakan oleh ustazah. Lagi-lagi kalimat ustazah membuat saya bingung, benarkah itu?

“Safwa anak yang baik umm. Dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya.” Katanya saat penerimaan rapor. Kalimat yang diucapkan oleh ustazah Reskita selalu membuat saya terharu dan ingin menumpahkan air mata.

Sejak saat itu, Safwa sudah mulai rajin ke sekolah. Sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya. Dia bahkan tidak lagi merepotkan kami dan juga ustazah Reskita. Lagi-lagi saya sangat bangga padanya. Safwa bahkan beberapa kali memuji ustazahnya dan untuk pertama kali saya mendengar dia memuji seseorang.

Ananda Reskita berhasil merubah Safwa menjadi lebih baik, Safwa tetap bersekolah di Cobig atas saran dari ustazah. Tapi, hari ini, Kamis tanggal 06 Februari 2025, saya mendengar kabar bahwa ustazah akan pulang kampung dan tidak mengajar lagi di Cobig. Sedihnya sampai menusuk ke hati.

Seketika saya menjadi rapuh. Seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan anak-anak. Saya pun langsung menanyakan kabar itu pada ustazah, dan informasinya benar. Sejumlah pertanyaan pun kutanyakan, untuk mengobati rasa penasaranku. Jawaban ustazah cukup jelas, dia sedang sakit dan akan menjalani pengobatan di kampung.

Tapi, kenapa saya sangat sedih?

Sebab ustazah Reskita perempuan yang luar biasa. Dia sudah membuat Safwa berubah dan rajin ke sekolah. Dia bahkan mampu merubah Safwa yang tadinya keras kepala menjadi lebih baik.

Sikapnya telah membuat kami kagum, dia berhasil mengembalikan semangat belajar anak kami, dia layak menjadi panutan tidak hanya pada anak didiknya tetapi juga pada orang tua siswa. Ustazah sangat tegas tetapi, tidak membuat siswinya takut justru semua siswi yang pernah dia didik merasa sangat kehilangan.

Terima Kasih Ustazah, jasamu tentu tidak akan pernah bisa ku lupakan. Sedih sekali rasanya tidak bisa membersamai anak kami sampai tamat. Namun, ini yang terbaik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan untuk ustazah, sehingga kita bisa berjumpa lagi.

Terima kasih sudah meyakinkan saya bahwa Safwa bisa tetap lebih baik jika sekolah di Cobig.

Continue Reading

Pentingnya Mendidik Anak Mandiri Sejak Dini

Anak memiliki banyak arti dalam kehidupan seseorang utamanya bagi mereka yang telah berkeluarga. Bagi saya pribadi, anak sebuah anugerah terindah yang wajib ada dalam keluarga, titipan dari Allah yang harus dijaga. Sebab tanpa seorang anak kehidupan dalam rumah tangga akan terasa hambar. Kehadiran anak akan membuat sebuah hubungan menjadi awet, meskipun kasih dan sayang akan terbagi pada anak.

Hadirnya seorang anak dalam kehidupan rumah tangga, memberikan kebahagiaan yang tiada tandingannya. Namun, sebagai orang tua harus memikirkan pola pengasuhan yang akan diberikan pada anak. Ini sangat penting untuk membentuk karakter anak ke depannya, kesalahan dalam mendidik sejak dini memberikan pengaruh negatif terhadap anak.

Anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, maka orang tua sudah seharusnya memberikan kasih sayang, tanggungjawab orang tua memberikan perhatian dan membiayai kehidupan anak hingga mereka dewasa. Tetapi dalam memberikan kasih sayang sebaiknya tidak berlebihan sebab jika berlebihan akan memberikan dampak buruk bagi anak itu sendiri. Anak-anak akan bersikap manja dan merasa bahwa semua yang dilakukannya adalah benar. Mereka jadi malas dan lebih banyak tergantung pada kedua orang tua.

Mengajarkan anak mandiri, secara tidak langsung mendidik anak untuk bersikap dewasa. Berani mengakui kesalahan dan tidak cengeng saat menemui masalah, entah itu di sekolah, di lingkungan maupun ketika di dalam rumah sendiri. Anak-anak bisa belajar mengambil keputusan.

Ketika anak diajarkan mandiri, orang tua tidak akan repot lagi saat harus meninggalkan anak karena tuntutan pekerjaan. Misalnya ada kegiatan di luar kota maka anak bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Seperti menyediakan makanan dan membersihkan rumah.

Bukan hanya itu,sebagai orang tua harus memikirkan ketika tiba-tiba Tuhan memanggil maka kita sudah siap meninggalkan anak-anak sebab mereka sudah mandiri dan tidak sepenuhnya tergantung pada ayah dan ibunya. Anak-anak juga tidak akan merasakan kesedihan yang mendalam karena mereka sudah kita didik untuk bersikap dewasa.

Dengan mengajarkan anak mandiri, mereka akan lebih mudah mengatur kehidupannya sendiri, anak-anak akan menjadi kuat, lebih percaya diri dan siap menghadapi berbagai macam tantangan, serta pahit getirnya kehidupan.

Continue Reading

Ada Luka yang Menyayat Saat Nonton Video Viral KDRT

Video KDRT foto:Instagram Cut Intan

Video viral Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang diunggah oleh Cut Intan Nabila , di akun instagramnya @cut.intannabila, sontak mengagetkan publik.

Kondisi yang dialami oleh selebgram Indonesia ini, memberi luka yang mendalam bagi semua masyarakat yang melihatnya, khususnya kaum perempuan. Tidak sedikit yang mengomentari video sadis yang dilakukan oleh suami Cut Intan, Amor Toreador.

Dalam video tersebut, korban dipukul dan di tindih menggunakan bantal. Terlihat pula seorang bayi Cut Intan mendapat tendangan dari sang ayah, Astagfirullah.
Melihat video yang viral sejak tanggal 22 Agustus di media sosial, banyak yang meneteskan air mata bahkan sempat jadi perbincangan hangat di setiap pertemuan.
Saat itu, saya sedang berada di warkop baru mau buka handphone. Namun, di kiri dan kanan saya sudah membahas Cut Intan, ceritanya sangat heboh. Karena penasaran segera searching di google, trending topik kala itu.

Perempuan cantik kelahiran 23 Maret 2001 itu, ternyata sudah sering mengalami KDRT oleh suaminya. Jadi ikut meneteskan air mata, saat nonton videonya. Rambutnya dijambak, dan berkali-kali dipukul dengan sangat sadis. Perasaan tidak nyaman, tidak tenang sehingga ada keinginan untuk membantu.

Video keji yang dilakukan pengusaha bar shop terhadap istrinya, seakan membuat masyarakat khususnya kaum hawa menjadi rapuh bahkan ada yang trauma untuk menikah. Apalagi di video tersebut terdengar jelas rintihan Cut Intan.

Mantan atlet Anggar itu, hanya bisa menangis saat dianiaya oleh suaminya, di atas ranjang tanpa melakukan perlawanan.

Continue Reading

Judi Online Picu Istri Bakar Suami di Mojokerto

Ilustrasi, duniacerita

Awal bulan Juni tahun 2024, merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh seluruh aparatur negara, baik itu dilingkup ASN, pensiunan PNS, TNI dan Polri. Pasalnya pada bulan tersebut pemerintah akan mengucurkan dana ke-13.

Tambahan gaji yang diperuntukkan kepada seluruh aparatur sipil negara ini, tentu sangat membantu meringankan beban ekonomi mereka. Apalagi pencairannya jelang hari raya Idul Adha, dan memasuki musim libur sekolah.

Tentu saja menjadi kesempatan untuk membahagiakan anak-anak dengan membawanya liburan.

Selain itu, banyak pengeluaran tidak terduga dalam keluarga sehingga gaji 13 bagian dari mimpi indah pegawai negeri.
Mungkin bisa meringankan beban cicilan, dan mengatasi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tidak heran, pada awal bulan Juni, ASN memadati sejumlah Bank. Para pensiunan pun tidak kalah lincahnya. Meskipun mereka tergolong lanjut usia, tetapi semangatnya untuk menerima gaji 13 terlihat berkobar. Ada cucu dan anak yang menanti sedekah, para pensiunan juga masih memiliki segudang kebutuhan.

Tetapi, disela-sela bahagianya sejumlah PNS atas pencairan gaji 13. Ada sebuah keluarga yang sangat kecewa dan tersakiti.

Gara-gara gaji 13 habis digunakan judi online, seorang istri di Mojokerto membakar suaminya hingga tewas. Peristiwa ini, menggemparkan bukan hanya dikalangan rakyat kecil. Seluruh pejabat-pejabat tinggi di lingkup pemerintahan, terkejut dan sangat prihatin.

Salah satu keluarga polisi di Mojokerto Jawa Timur, seorang istri yang berprofesi sebagai Polisi Wanita (Polwan), berharap gaji 13 suaminya bisa menutupi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya yang masih sangat kecil membutuhkan susu. Sebagai nutrisi menunjang tumbuh kembangnya.\

Pada Sabtu siang sekira pukul 10.30, dia menitipkan anaknya yang masih bayi pada pengasuh untuk mengecek gaji suaminya di ATM.

Alangkah kecewanya, ketika melihat saldo ATM yang sisa Rp800.000, seharusnya ada gaji 13 sebesar Rp2,8 juta.

Polwan yang bernama Briptu Fadhilahtun Nikmah pun terbakar emosi, marahnya tak terbendung. Dia pun menelepon suaminya yang bertugas di Polres Jombang Briptu Rian, agar segera kembali ke rumah untuk membicarakan perihal gaji ke 13.

Sebelum kembali ke rumah, entah apa yang ada dipikiran ibu tiga anak itu. Dia pun singgah membeli pertalite eceran dan mengisinya di botol plastik.

Setiba di rumah Briptu cantik pun meletakkannya di atas lemari yang ada di teras rumah, pertalitenya di foto. Kemudian dikirim ke suaminya melalui WhatsApp, isi pesan “kalau tidak pulang anak-anak dibakar”.

Dari informasi yang beredar, sang suami Briptu Rian segera kembali ke rumah. Istrinya sudah menunggu. Menyambutnya dengan wajah kesal. Tetapi, masih sempat meminta suaminya untuk mengganti pakaian, baju kaos dan celana pendek.

Setelah itu terjadilah pertengkaran. Polwan yang baru saja melahirkan anak kembar, memborgol tangan suaminya dan mengaitkan di tangga dan menyiram pertalite yang tadi dibelinya.

Selanjutnya dia membakar tisu, tidak menyangka api di tisu tersebut melukai tangannya dan menyebar ke tubuh suaminya.

Sempat teriak minta tolong, sebab tangannya terborgol. Tetangga yang datang segera membawanya ke rumah sakit bersama Briptu Fadhilah.

Namun, karena kondisinya sangat parah. Kata dokter yang menangani, 96 persen tubuhnya terbakar. Pada Ahad, 10 Juni 2024 Briptu yang kata rekan-rekan kerjanya sangat baik dan disiplin itu, meninggal di rumah sakit Wahidin Sudiro Husodo.

Akibat Judi Online

Dirangkum dari berbagai media, kabarnya Briptu Rian sering bermain judi online. Bahkan pertengkaran sering terjadi, sang istri sudah mengingatkan berkali-kali agar menghentikan kebiasaan buruknya, tetapi tidak pernah didengarkan.

Hingga puncak kemarahan sang istri ketika menemukan gaji 13 suaminya berkurang. Sementara banyak kebutuhan yang belum terpenuhi.

Continue Reading