16 Tahun Perjalanan Kita, dari Ruang Redaksi ke Ruang Hati

Kisah kita dimulai bukan dengan kalimat puitis, tapi dengan suara ketikan komputer dan deadline yang selalu minta perhatian lebih dari kita.

Kala itu, aku dan kamu adalah dua orang jurnalis yang bekerja pada sebuah media cetak populer. Dunia kerja kita diwarnai kopi dingin, berita hangat dan editor yang hobi marah-marah. Perkenalan yang singkat di sebuah kantor yang berlokasi di Jl. H.Bau Makassar, tempat aku dan kamu mengais rezeki.

Tidak ada yang bisa menduga, dua orang yang sehari-hari meliput suka duka orang lain, akhirnya menulis bab-bab baru dalam kehidupannya sendiri. Tanggal 21 November 2009, tiga bulan setelah kita kenalan kita lanjutkan ke pelaminan.

Perjalanan rumah tangga yang kita bangun kini sudah 16 tahun, ada tiga orang anak yang dititipkan untuk kita jaga, dan besarkan serta kita didik sesuai kemampuan yang kita miliki. (Jangan didik mereka jadi wartawan, berat. Cukup kita saja).

Selama 16 tahun, kami belajar satu hal bahagia itu tidak selalu datang dari waktu luang, tapi dari niat untuk saling menjaga.

Pekerjaan kami sering kali menyita hampir seluruh tenaga dan waktu, nyaris tak memberi ruang untuk benar-benar beristirahat.

Namun entah bagaimana, kami selalu menemukan cara untuk menyisakan waktu untuk tertawa, untuk berbagi, dan untuk menciptakan kebahagiaan bersama anak-anak.

Dari pekerjaan yang gajinya mungkin terlihat receh di mata dunia, Allah justru menghadirkan keberkahan. 

Dari situlah kita bisa menyekolahkan tiga buah hati kami di sekolah Islam, menanamkan nilai, adab, dan harapan untuk masa depan mereka.

Terima kasih ya Allah atas 16 tahun pernikahan kami. Kami bisa bertahan sejauh ini karena Engkau selalu ada dalam setiap langkah. 

Aku akui, ini bukan waktu yang singkat, dan jalan yang kami lalui pun tidak mudah.
Namun sampai di titik ini, kami masih berdiribersama, saling menguatkan, dan terus belajar bersyukur.

Continue Reading

Dari Tangan Kecil ke Toga Sarjana

Hari ini, dari jarak yang lumayan jauh, aku menyaksikan sebuah momen yang begitu berharga. Keponakanku, Mona Putri Yudifa, resmi menyandang gelar sarjana muda. Sebuah capaian yang tidak hanya membuatnya bangga, tapi juga kami yang membersamainya sejak ia masih kecil sangat bangga, bangga di atas segalanya.

Sejak kecil, membersamainya, menemani masa-masa tumbuhnya, mendengar celotehnya, melihat tingkah lakunya yang ceria, keras kepala kadang-kadang, tapi selalu punya semangat besar dalam hal belajar.

Aku masih ingat bagaimana dia dulu sering bertanya tentang hal-hal kecil dalam hidup, seakan ingin tahu semuanya sekaligus. Yang kutahu, dia sangat mandiri memilih sekolah sendiri sejak masuk SMP, SMA dan tentunya dengan meminta pendapat kami, dan ujung-ujungnya kami pun setuju dengan pilihannya.

Hari bahagiamu ini, mengingatkanku pada momen beberapa tahun lalu 2021, tepat setelah Mona tamat SMA. Di ruang tamu rumahku yang sederhana, kami duduk bersama membahas masa depannya. Mona, dengan sikapnya yang selalu menghormati orang tua, meminta pendapat kami, pendapat aku dan ibuku. Tentang ke mana ia harus melangkah setelah ini.

Perbincangan berlangsung lama. Sehari, dua hari berlalu tanpa keputusan. Kami ingin memilih yang terbaik untuknya, tapi bingung. Sementara itu, jadwal ujian masuk perguruan tinggi sudah makin dekat.

Di tengah kebuntuan, datanglah sosok yang tak terduga membawa angin segar. Suami dari sepupuku Namanya Bang Yadi. Orangnya santai, suka bercanda, tapi pikirannya tajam dan selalu memberi ide yang di luar dugaan. Dialah yang pertama kali menyarankan Mona untuk mencoba mendaftar ke Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung.

Kami pun mulai menimbang-nimbang saran itu, awalnya kami pikir di kampus itu, hanya untuk cowok, ternyata ada cewek juga. Sepertinya cocok dengan semangat Mona yang tangguh, dan kami setuju asal Mona lulus ujian.

Tak berhenti di situ, Bang Yadi juga menyampaikan ide itu kepada suami sepupuku yang lain, Kak Eko, dia alumni Poltek KP Bitung angkatan pertama yang kini sudah menjadi kapten kapal. Sosoknya tenang, bersahaja, tapi terlihat sangat serius.
Sosok Kak Eko juga sangat mendukung dan memberikan dorongan penuh. Dua abang sepupu kami ini bukan hanya bijaksana, tapi juga dikenal baik hati, penyuka musik, dan jarang marah kecuali saat lagunya dipotong pas karaoke (Hahahaha).

Siapa sangka, dari obrolan di ruang tamu sederhana itu, jalan Mona benar-benar mengarah ke dunia kelautan dan perikanan dan hari ini, perjalanan itu sampai pada titik terang, hari wisuda.

Wisuda bukan hanya tentang menerima ijazah atau memakai toga yang megah. Wisuda merupakan titik dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, tangis, tawa, dan pengorbanan. Mona bukan hanya menjalani kuliah seperti biasa.
Ia melaluinya dengan penuh kerja keras, berdiri di atas kaki sendiri, dan menjaga semangat meski rintangan datang silih berganti.

Melihatnya hari ini, lengkap dengan jubah hitam dan topi segi empat, rasanya seperti menyaksikan bunga yang mulai mekar. Meskipun tidak ada di sana, tidak melihatnya langsung, tetapi setelah dia mengenakan jubah wisuda, foto cantiknya terkirim di ponselku. Aku terharu. Mataku berkaca-kaca, dan doaku semoga ini menjadi awal dari keberhasilan yang lebih besar.

Mona, terima kasih sudah membuat keluarga bangga. Gelar sarjana itu bukan akhir. Ia adalah awal. Awal dari tanggung jawab baru, dari mimpi yang lebih besar, dari kerja keras yang lebih nyata.

Selamat, Mona.
Semoga ijazahmu segera menemukan tempat berlabuh terbaik. Jangan disimpan di laci. Biar dia bekerja.

Continue Reading

Ketika Arisan Keluarga Jadi Ajang Tertawa, Terharu, Terseragam

Ada yang bilang, arisan itu cuma ajang kumpul-kumpul dan setor uang. Tapi bagi kami, arisan keluarga adalah tempat paling pas untuk menata rindu, memperbaiki sinyal silaturahmi, dan yang paling penting menguji kualitas pita suara.

Bulan ini, tepatnya Ahad 22 Juni 2025 arisan keluarga kami terasa beda. Bukan cuma karena tempatnya yang kece, tapi karena tawa yang tumpah ruah dan rindu yang akhirnya tersampaikan.

Bertempat di sebuah restoran bernama Bola Bale di Kabupaten Maros, sebuah lokasi arisan yang dipilih oleh sepupu kita tersayang Puang Tika. Acara yang luar biasa kerennya dan sangat berkesan mungkin sampai anak cucu kita lahir.

Di tempat itulah, kami para kakak, adik, dan sepupu kembali berkumpul. Duduk satu meja, menyantap makanan enak, dan membagikan cerita yang kadang receh tapi penuh makna.

Restorannya ternyata lengkap, bukan cuma menu makanan yang sedap, tapi juga disediakan sound system. Nah, ini dia momen paling ditunggu karaoke dadakan!

Meski suara kami lebih cocok untuk menakut-nakuti ayam tetangga (wkwk wkwk) tapi tetap saja mic berpindah tangan tanpa malu. Ada yang nyanyi lagu galau, ada yang semangat menyanyikan dangdut koplo, bahkan ada yang lupa lirik tapi tetap lanjut seperti pemenang The Voice.

Tertawa sampai perut sakit. Tersipu malu karena suara sendiri. Tapi itulah indahnya tidak ada yang menilai, semua hanya saling menghibur dan bahagia.

Beberapa sepupu memang ada sibuk kerja, ada sibuk di dapur, sibuk urus anak, bahkan ada yang sibuk dengan cuciannya menumpuk setinggi gunung Bawakaraeng. Pokoknya setiap hari kita sibuk dengan dunia masing-masing.

Tapi hari itu, Ahad, 22 Juni 2025, semua kesibukan ditinggal di rumah yang dibawa ke acara hanya hati yang rindu dan tubuh yang butuh liburan walau cuma sebentar.

Pokoknya arisan keluarga kita ini, tidak ada yang boleh absen atau menitip uang arisan saja tanpa memperlihatkan wajah. Apalagi dengan alasan ada kegiatan lain. Sebelum jarum infus terpasang di tangan tidak ada satu anggota arisan pun yang bikin alasan tidak bisa hadir sebab hukumnya wajib bukan Sunnah.(wkwkwkw).

Intinya jangan pernah ada yang memiliki jadwal di hari arisan yang telah kita sepakati bersama. Sebab ada ketua arisan yang kejamnya melebihi security kompleks yang jaga portal di subuh hari (hahahaha}.

Kembali ke suasana Arisan, setelah makan kenyang dan nyanyi puas, kami lanjut jalan-jalan ke sebuah tempat yang sangat indah. Di sana kita makan jagung, tempatnya sejuk dan menenangkan. Pemandangan alamnya luar biasa, pegunungan hijau, udara bersih, dan suasana sunyi yang nggak bisa dibeli di kota.

Kami duduk santai, foto-foto, nyemil lagi, dan menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi. Rasanya seperti di reset. Lelah hilang, hati tenang.

Bahkan ada momen haru yang diam-diam terasa. Saat semua sedang asyik ngobrol, sesekali kami saling menatap dan sadar, waktu terus berjalan. Anak-anak makin besar. Rambut orang tua mulai beruban. Tapi hubungan ini, semoga tetap awet.

Arisan keluarga kita bukan cuma urusan giliran, tapi urusan hati yang datang bukan hanya tubuh, tapi juga kenangan, rindu, dan doa-doa diam-diam.

Semoga arisan selanjutnya tetap seseru ini kalau perlu, mic disiapkan dua biar suara fals kami bisa duet.

Dresscode Arisan Jadi Hiburan

Oh ya, seperti biasa, menit-menit terakhir menjelang bubar selalu digunakan untuk satu hal yang krusial tapi nggak penting-penting amat membahas dresscode!

Iya, dresscode buat arisan bulan depan. Hahaha.

Entah kenapa, warna baju jadi hal yang tak bisa dilewatkan. Biar apa? Ya biar pas foto bareng, feeds Instagram kelihatan cakep dong!

Ada yang sampai beli baju dengan model dan bahan yang sama, ada juga yang cukup menyesuaikan warnanya saja. Tapi ada juga yang langsung pucat begitu mendengar keputusan warna katanya sih, bukan karena nggak cocok, tapi karena asam lambung naik gegara mikirin dresscode. Bahkan ada yang nyelutuk, dresscode bikin asam urat kumat!”

Pokoknya, dresscode adalah drama kecil yang paling dinanti.Bukan karena ribetnya, tapi karena di situlah tawa-tawa receh bermula. Sebenarnya bukan bajunya yang penting, tapi kebersamaan saat saling usil, saling goda, dan akhirnya tetap berusaha tampil kompak walau beda gaya.

Dan begitulah, arisan ini selalu jadi tempat kita jadi diri sendiri. Suara boleh fals, baju boleh beda model, tapi tawa dan cinta tetap seirama Asyik.

Continue Reading

Nawaf, Sekolah Cobig Jadi Saksi, Doa Kami Jadi Sayapmu

Untuk Anakku yang hari Ini tamat SDIT

Tak terasa, hari ini engkau resmi menamatkan pendidikan sekolah dasar mu di SDIT Cobig Islamic School. Rasanya baru kemarin Bunda menimangmu dalam balutan selimut bayi mungil, mengusap lembut rambutmu, dan mendekap tubuhmu. Kini, kau berdiri gagah berseragam rapi, menerima ijazah, disaksikan langit dan bumi yang ikut berbahagia atas perjuanganmu.

SDIT Cobig adalah saksi enam tahun perjalananmu meniti ilmu, dari hari-hari pertama belajar mengeja huruf hijaiyah, dari tangis saat hafalan pertama, hingga senyummu ketika bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Kau tak hanya belajar menulis dan berhitung, tapi juga belajar tentang sabar, tanggung jawab, dan cinta pada agama.

Ingat enam tahun yang lalu, pertama kali menginjakkan kaki di sekolah Cobig, kamu tidak tahu apa-apa bahkan belum bisa membaca jangankan membaca Alquran, mengenal Alfabet pun tidak. Berkat seorang ustazah, kala itu ustazah Nurhayati di kelas 1, kamu dijari sampai bisa membaca hingga mampu menyusun kalimat. Seteusnya berlanjut hingga akhirnya tahun ini, tamat.

Hari ini bukan hanya tentang kelulusan, tapi sebuah pertanda bahwa masa kecilmu perlahan mulai berpamitan. Masa remaja sedang mengetuk pintu hatimu, membawa banyak tantangan dan pilihan. Akan datang hari-hari yang menuntut lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dewasa. Tapi Ibu percaya, dengan iman yang tertanam, dan akhlak yang diajarkan di Cobig, engkau akan berjalan dalam cahaya.

Malaikat kecilku yang kini menginjak remaja teruslah belajar, tapi jangan hanya dari buku. Belajarlah dari kehidupan. Jangan hanya mengejar nilai, tapi kejar pula makna, jangan hanya ingin jadi pintar, tapi berusahalah menjadi pribadi yang bermanfaat.

Tamat dari Cobig bukan berarti tamat dari doa kami. Doa Ayah dan Bunda akan terus menjadi sayapmu, menuntunmu dalam langkah-langkah yang tak selalu mudah. Semoga ilmu yang kau pelajari menjadi cahaya yang tak pernah padam, dan menjadi amal jariyah bagi semua yang mengajarkanmu.

Terima kasih, Nak telah membuat kami bangga. Terima kasih telah menjadi anak yang penuh semangat dan kesungguhan, terima kasih karena telah melalui masa kecilmu di tempat yang penuh nilai dan iman.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu, memudahkan langkahmu, dan menjadikanmu anak shalih yang menyejukkan mata orang tuanya.Selamat atas penamatan Perjalanan masih panjang, dan kami akan selalu membersamaimu dalam doa.

Ustadz Terima Kasih Telah Menuntun

Anak-anak kami menamatkan pendidikan di SDIT Cobig Islamic School. Namun kami tahu, setiap langkah yang mereka ambil hari ini, tak lepas dari bimbingan sabar dan tulus kalian. Kalian bukan hanya pengajar, tapi penuntun bukan hanya membekali mereka dengan ilmu, tapi juga dengan iman.

Di tangan kalian, anak-anak kami belajar mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan memahami arti akhlak yang baik. Kalian tanamkan adab sebelum ilmu, kalian ajarkan sujud sebelum sukses. Itulah warisan para nabi, dan hari ini kalian menjalaninya dengan cinta dan keikhlasan.

Kalian bukan hanya menuntun pena mereka saat belajar menulis,tapi menuntun hati mereka agar dekat dengan Allah. Tak ada yang lebih indah daripada itu. Karena itu, kembali aku percayakan sekolah Cobig sebagai tempat anak kami melanjutkan pendidikan di tingkat menengah pertama, agar ilmu yang dia dapat di sekolah dasar bisa berlanjut di SMPIT.

Kami percaya, setiap huruf hijaiyah yang kalian ajarkan, setiap nasihat yang kalian ucapkan, dan setiap doa yang kalian panjatkan untuk mereka akan kembali padamu dalam bentuk pahala yang tak terputus.

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari kehidupan anak kami.
Menjadi cahaya di awal perjalanannya menjadi guru dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberkahi hidup kalian, menjaga setiap langkah kalian, dan membalas setiap lelah dengan surga yang tertinggi.

Barakallahu fiikum, ustadz dan ustazah, pendidik akhlak dan aqidah.
Terima kasih telah menuntun.

Continue Reading

Ibu Sakit, Aku seperti Kehilangan Arah

Tiba-tiba ibu sakit, hatiku galau, pikiranku melayang, entahlah apa yang aku pikirkan. Seketika aku ikut lemas melihat kondisi ibu yang menurutku tidak biasa.

Selama ini, diusianya yang renta ibu seorang nenek yang paling aktif. Hobi jalan dan keluyuran, kalau tidak ke Mal, arisan dan sekadar jalan-jalan.

Aku anaknya yang paling sering mengajaknya liburan ke pantai, ke tempat yang sejuk seperti Malino, atau sekadar menginap di hotel. Ibu selalu terlihat bahagia saat keluar rumah.

Kini, usianya sudah 74 tahun, rambutnya memutih, langkahnya masih tegap, cahaya wajahnya tetap sama,penuh kasih, seperti sejak pertama kali aku mengenalnya sebagai seorang Ibu.

Hari ini, Ibu terbaring di rumah sakit. Katanya cuma lelah, tapi aku tahu lelah itu bukan sekadar fisik. Ada lelah yang terkumpul dari puluhan tahun mencintai tanpa jeda, melayani tanpa pamrih, dan mendoakan tanpa pernah putus.

Melihat Ibu dalam kondisi seperti itu, membuatku berpikir sudah cukupkah aku membalas semua pengorbanannya? Sudah cukupkah pelukanku? Sudah cukupkah doa-doaku untuknya?

Sakit Ibu membuatku ingin menulis bukan untuk mendramatisasi penderitaan, tapi untuk mengabadikan cinta agar dunia tahu, aku punya sosok luar biasa yang tak pernah meminta apa-apa, tapi selalu memberi segalanya.Ibu penyemangat keluarga, ketika beliau mendadak sakit dan harus terbaring, rasanya seperti dunia ikut melambat.

Hari ini, Ibu justru harus beristirahat di rumah sakit. Tubuhnya kelelahan, tapi bukan karena sakit biasa. Seperti ada energi yang terkuras diam-diam dari seorang perempuan yang terlalu lama mengutamakan semua orang, kecuali dirinya sendiri.

Di balik selimut rumah sakit, Ibu tampak berbeda. Tidak sibuk seperti biasanya, tidak berseliweran ke dapur atau teras. Tapi saat kami menjenguk, matanya tetap hidup. Tetap ada cahaya yang sama, cinta yang tak berubah meski tubuhnya lemah.

Aku duduk di sisinya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa kehilangan arah karena selama ini, Ibulah yang menjadi arah itu.

Ibu selalu bangun paling pagi di rumahku. Saat langit masih gelap dan udara masih dingin menusuk tulang, beliau sudah duduk di atas sajadahnya. Salat tahajud, lalu duduk tenang mendengarkan ceramah dari handphone nya. Matanya mungkin mulai rabun, tubuhnya tak lagi sekuat dulu, tapi semangat ruhiyahnya tak pernah surut.

Biasanya selepas subuh, Ibu hanya tidur sebentar. Waktu paginya diisi dengan bersih-bersih, terutama kamarnya sendiri. Tak ada yang boleh menyentuh kamar itu selain dirinya. Baginya, menyapu dan merapikan bukanlah beban, tapi cara menunjukkan cinta pada hidup yang masih Allah izinkan ia jalani.

Ibu memang tidak memasak. Itu tugasku, tapi bukan berarti beliau santai-santai. Saat aku sibuk di dapur, dia sibuk melipat pakaianku, walau aku melarangnya berkali-kali, ibu tetap ngotot mau melipat.

Hari-hari di rumah sakit terasa seperti berhenti dalam waktu. Detik berjalan lambat, tapi hati berdegup cepat. Setiap suara napas Ibu, setiap gerak tubuhnya di ranjang, menjadi perhatian utama kami, anak-anaknya dan cucu-cucunya bergantian menjaga.

Kadang satu orang, kadang berdua. Tapi rasanya, tak ada satu pun dari kami yang benar-benar ingin pulang. Seolah di situlah tempat kami seharusnya berada—di sisi perempuan yang dulu tak pernah jauh dari kami.

Aku duduk di samping ibu, saat dia terlelap. Ku pandangi wajahnya, ku perhatikan dahinya yang mulai keriput, rambutnya yang memutih, dan nafasnya pelan naik turun secara berlahan.

Menjaga ibu, adalah momen yang memberiku arti sebuah kesabaran, arti berserah dan arti berbakti yang tak sekadar memberi, tetapi hadir dengan ketulusan yang utuh.

Sebab menemani orang tua yang sakit bukan tentang berapa lama kita duduk di sampingnya, tapi tentang seberapa dalam hati kita hadir untuknya.

Anak-anak mu selalu menengadah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar Ibu selalu sehat dan diberi usia yang lebih panjang.

Ibu jangan menyerah, ya. Aku masih butuh ibu.

Continue Reading

Pertemuan Ibu dan Ummi Sanga, Ada Tangis yang Tak Pernah Usai

Ibuku tidak memiliki saudara kandung tetapi, dia selalu kaya dengan saudara sepupu. Ikatan persaudaraan dengan para sepupunya itu, sangat dekat dan unik. Ibu memang memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, dia tidak hanya sabar tetapi selalu menghargai adik dan juga kakak sepupunya. Ibu tidak memiliki sifat yang egois mungkin karena itulah dia selalu akur dengan para sepupunya. Seperti Ibu dan Ummi Sanga.

Ummi Sanga adalah sepupu ibu lebih tepatnya adik sepupu. Jika dilihat dari garis keturunan sepertinya sudah sepupu dua kali. Sebab tercatat dalam silsilah keluarga, nenek Saya orang yang melahirkan ibuku sepupu satu kali dengan perempuan yang telah melahirkan ummi Sanga. Tetapi, suami Ummi Sanga almarhum Puang Tutu, sepupu sekali dengan ibuku. Meskipun sepupu satu kali, tetapi ibu selalu menyebut Puang Tutu adiknya dan ummi Sanga adalah adik iparnya.

Dulu saat ibu masih aktif mengajar, dia sering cerita ke teman-temannya bahwa dia memiliki adik laki-laki bahkan ibu kerap kali mengajak teman mengajarnya berkunjung ke rumah Puang Tutu. Karena itu, hampir semua teman-teman mengajar ibu kenal dengan Puang Tutu dan juga istrinya. Tidak heran, ummi Sanga juga sering menanyakan kabar teman ibu yang pernah berkunjung ke rumahnya, seperti Ibu Sompa, Ibu Huriah dan Ibu Tari. “Di manami itu ibu Tari dan ibu Sompa,” katanya pada ibu kala itu.

Oh, Iya. Sepeninggal Puang Tutu, aku selalu melihat kesedihan di mata Ummi Sanga. Apalagi ketika dia bertemu dengan ibuku. Air dari pelupuk matanya mengalir begitu saja. Sebulan sekali kami berkumpul di arisan keluarga. Saat itu juga saya selalu memperhatikan Ummi Sanga selalu menangis saat memeluk ibu. Kadang aku bertanya dalam hati kenapa dia menangis, kadangpula Saya sendiri yang menyimpulkan bahwa Ummi Sanga mengingat Puang Tutu saat melihat Ibu.

Setiap kali mereka bertemu, tak pernah ada basa-basi panjang. Hanya pelukan yang erat, air mata yang tumpah, dan satu nama yang tak pernah mereka lupakan yakni suaminya. Dulu, mereka bertiga begitu dekat. Dalam setiap pertemuan mereka selalu tertawa dan berbagi cerita. Ibu dan Puang Tutu selalu saling menjaga, sepereti itu yang aku amati sejak aku menginjak dewasa dan melihat keakraban ibu dan puang Tutu.

Sehingga saat dia pergi untuk selamanya, aku melihat ibu benar-benar menangis. Baru dua kali aku melihat ibu meneteskan air mata dihadapan orang yang telah meninggal. Di depan jenazah bapak dan di depan jenazah Puang Tutu. Ketika nenek meninggal orang yang melahirkan ibu, tidak kulihat air mengalir dari matanya. Dia hanya diam seperti patung.

Ibu selalu saja menyimpan kenangan indah bersama saudara laki-lakinya itu (Puang Tutu). Di setiap waktu, saat kami duduk-duduk di ruang tamu dan minum teh panas tanpa gula, ibu selalu cerita masa kanak-kanaknya bersama Puang Tutu. Dia dibesarkan di rumah yang sama katanya. Kata ibu, almarhum Puang Tutu orang yang sangat sabar dan baik mungkin karena sifat itulah mereka sangat dekat.

Beberapa bulan lalu, Ummi Sanga dan Ibu kehilangan orang yang mereka sayangi dengan cara yang berbeda, namun sama-sama dalam. Setiap kali bertemu, luka itu menganga lagi, mereka biarkan tangis mengalir, sebab di sanalah letak kekuatan mereka—dalam merelakan, mengingat, dan saling menguatkan bukan karena mereka lemah, tapi karena kasih sayang memang tak pernah benar-benar pergi walau orangnya telah tiada.

Aku selalu senang melihat Ibu dan ummi Sanga, kedekatan keduanya sungguh membuatku iri. Sangat jarang ada sepupu yang seperti itu, saling mencari jika ada pertemuan keluarga dan saling menanyakan kabar. Saling berpelukan saat mereka bertemu.

“Sehat Selalu Kedua Orang Tua kami, di panjangkan usianya agar bisa bertemu lagi di arisan berikutnya,”

Continue Reading

Halal Bihalal, Pererat Silaturahmi Keluarga Pangeran Diponegoro

Alhamdulillah, keluarga Pangeran Diponegoro yang ada di Sulawesi Selatan tetap menjalin silaturahmi dengan menggelar kegiatan Halal Bihalal.

Pertemuan yang singkat namun penuh makna, ada pengajian, ceramah serta bincang hangat dengan antar keluarga yang merupakan para cucu pahlawan nasional dari Jawa ini.

Kegiatan Halal Bihalal,yang dilaksanakan di RM Ulu Juku, depan Benteng Roterdam Ahad (27/04/2024). Tidak hanya pada kegiatan itu mereka berkumpul, setiap bulan bahkan sesepuh pahlawan perang Jawa ini, rutin mengadakan pertemuan. Sekadar silaturahmi di makam Pangeran Diponegoro dan bincang-bincang hangat.

Tujuannya tidak lain, agar para turunan Pangeran Diponegoro yang tinggal di kota Makassar tetap saling kenal. Pertemuan dengan keluarga dari garis keturunan ibu, selalu saja menghadirkan cerita baru.

Ternyata, perempuan yang telah melahirkan aku ke dunia ini, masih tercatat sebagai turunan ke lima dari Pangeran Diponegoro dari anak perempuannya, Raden Ayu Munadimah Diponegoro. Cerita ini, saya tahu sejak duduk di bangku SMA, padahal ketika mengenyam pendidikan di tingkat SD, nama Pangeran Diponegoro selalu menghiasi buku sejarah dan buku bahasa Indonesia kami.

Ibu guru selalu membacakan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin Perang Jawa dalam mengusir penjajah. Pangeran Diponegoro seorang kesatria yang hebat dengan kepandaiannya dan pemikirannya mengusir penjajah dari tanah Jawa, yang pada akhirnya dia dan istrinya Raden Ayu Ratnaningsih diasingkan ke Makassar.

Makam Pangeran Diponegoro bersama istri dan enam orang anaknya terletak di Jl. Diponegoro Makassar, tempat kami para keluarga sering mengadakan pertemuan. Berkumpul dan bercerita bersama.m

Continue Reading

Perempuan yang Kupanggil Ibu, Kini Berusia 74 Tahun

Subhanallah, Ya Allah terima kasih. Aku mengucapkan banyak rasa syukur dan sangat bahagia, Ya Allah. Sebab perempuan hebat yang telah melahirkan aku ke dunia, hari ini Kamis 24 April 2025 usianya memasuki angka 74 tahun.

Sungguh luar biasa, aku bisa melihatnya tersenyum dalam kondisi yang sehat dan kuat diusianya yang renta. Engkau memberikan kesempatan pada Ibuku untuk memperbaiki kesalahannya, memberikan kesempatan untuk menemani kami anak cucunya dalam suka dan duka.

Masya Allah, ternyata Tuhan se sayang itu sama kamu Ibu. Aku saja yang usianya 40 an kalah sama Ibu. Kakiku setiap malam menggunakan minyak gosok, kepalaku harus tersentuh fresh care baru bisa merasa nyaman (hehehe).

Alhamdulillah ya Ibu, mungkin karena ibu selalu patuh dengan anjuran dokter, kata dokter ibu harus rutin minum obat diabetesnya, minum teh bergelas-gelas tanpa gula. Tidak boleh makan nasi berlebihan, beras diganti dengan Porang. Kadang aku kasihan melihatmu, Bu. Tapi itu, semua kamu lakukan sebab masih ingin membersamai kami dalam suka dan duka.

Ibu, aku tahu dirimu sangat menyayangi kami anak-anakmu, cucu cucumu, dan juga semua orang yang baru kau kenal. Kadang kamu mengorbankan perasaanmu demi melihat kami bahagia, sebaik itu dirimu Ibu. Aku sampai menangis tidak bisa membalas kebaikanmu.

Ibu jangan pergi dulu ya, kami masih sering menyusahkan kamu. Tapi, kami berusaha kok untuk bisa membuatmu bahagia walau hanya sesekali. Ibu, bisa dekat denganmu saja hatiku bahagianya tidak terukur.

Sehat-sehat selalu ya ibu, maaf belum bisa memberikan terbaik untuk ibu, hanya bisa membawamu liburan di kampung orang, harusnya sih ke negara orang. Tapi, aku belum mampu.

Ya Allah terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk memeluk ibu dihari jadinya.

Continue Reading

Arisan Keluarga, Ajang Silaturahmi Terheboh dan Kocak

Kumpul bersama keluarga salah satu ajang untuk mempererat tali silaturahmi agar kita tetap bisa melanjutkan hubungan keakraban yang telah dibina oleh orang tua kita sebelum mereka berpulang.

Kedua orang tua kita tentu akan merasa bangga dan senang melihat anak dan cucunya tetap bisa berkumpul bersama dan mengenang masa-masa ketika mereka masih hidup.

Salah satu kegiatan yang kita lakukan untuk berkumpul yakni dengan membentuk arisan. Bukan sekadar arisan biasa, bukan pertemuan biasa tetapi, sebagai ajang seru-seruan, kocak-kocakan yang tentunya sedikit membuat kita terhibur.

Seperti Saya, dan para sepupu dari keluarga ibu. Kami baru saja tertarik untuk kumpul-kumpul setelah usia kami sudah tidak muda lagi. Ketika kami masing-masing sudah memiliki anak dan ada yang sebentar lagi memiliki cucu (hehehe). Acara kumpul-kumpul sangat memberikan nilai positif agar anak-anak kami juga bisa saling mengenal dengan sepupu-sepupunya.

 

Singkat cerita, pekan lalu entah tanggal berapa tiba-tiba saya mendapat telepon dari kakak sepupu yang paling tua namanya Andi Amrah biasa kami panggil Puang Nannu. Dia menyampaikan rencana membentuk arisan agar kita tetap bisa saling mengenal (hehehe). Saya sih, oke-oke saja lagian kita memang tidak pernah kumpul-kumpul lagi.

Belum selesai telepon, Saya sudah masuk dalam group bertajuk Arisan Konglomerat. Sejenak membuat hatiku bergetar, jantungku seakan berhenti berdetak. Nama gropnya nyaris membuatku sesak nafas. Sempat protes juga soalnya saya masih jauh dari kata konglomerat tapi, semoga saja ini adalah doa dan kita semua memang akan jadi konglomerat (berharap).

Grop Whatshap Arisan Konglomerat, salah satu grop terkocak dari sekian banyak grop yang aku punya. Hampir 24 jam aktif anggotanya ada sekitar 12 orang dan semuanya bicara secara bergantian. Ada-ada saja yang kami bahas, sekadar lucu-lucuan, pembahasan kami tidak hanya seputar arisan, makanan, minuman bahkan sampai membahas air galon.

Kami juga membahas pakaian yang akan kami gunakan di acara arisan, alat yang kami pakai untuk lot arisan yang masih sangat tradisional, seperti berada di zaman jahiliyah menggunakan kertas buku tulis, nama peserta arisan ditulis tangan, setelah itu kertasnya digulung lalu dimasukkan ke dalam toples. Seharusnya di zaman moderen seperti saat ini, di era digital kita sudah menggunakan aplikasi (hehehe) karena kita konglomerat.

Bukan hanya itu, ada yang mengusulkan nama kita ditulis lengkap mulai dari gelar haji, titel sampai nama padaengang kata orang Makassar. Lebih kocaknya lagi, peserta arisan hanya 12 orang tetapi, alat yang di pakai untuk lot menggunakan toples Jar ukuran 1000 Ml (dasar konglomerat)

Tiba Saatnya Arisan

Tiba di hari H, masih terlalu pagi. Azan subuh baru saja bergema di telinga, grop Arisan sudah ramai, ada yang sudah datang sejak pagi padahal arisan dimulai pukul 14.30 WITA, ada yang was-was takut uang konsumsi tidak mencukupi, dan ada yang melarang membawa anggota keluarga selain peserta arisan. Ada juga yang melarang suaminya untuk ikut dengan alasan takut makannya banyak Uppss, katanya arisan konglomerat tapi kok kita tegang (hehehe).

Heboh di dunia Maya, heboh di grop whatshap nyaring bunyinya lebih nyaring lagi ketika kita berkumpul di Warung Ma’daeng. Sebuah tempat yang dipilih oleh ibu sebagai tempat arisan kita ini, terletak di Jl. Sultan Alauddin.

Saat rombongan arisan konglomerat tiba, sejumlah pramusaji terlihat tegang. Dari parkiran kehebohan sudah mulai terdengar menandingi suara alat-alat dapur warung Ma’daeng. Kami memilih ruang yang tertutup, hanya ada dua meja yang kosong selebihnya ada orang yang sedang asyik menikmati makan siangnya. Sebagai konglomerat yang baik kita menunggu mereka menghabiskan makanannya terus kita satukan kursinya.

Sepertinya kedatangan kami, seakan membuat orang itu tidak konsentrasi untuk makan mungkin dia kaget ada konglomerat antri di Ma”daeng. Kami yang hanya 12 orang bercerita seperti mahasiswa yang sedang orasi. Teriak-teriak padahal kita duduknya berhadap-hadapan.

Ku Perhatikan beberapa pramusaji memperhatikan kami sangat seksama sesekali mereka tertawa. Mereka mungkin bertanya-tanya kami ini datang dari kutub mana, kenapa bicara bersamaan tanpa ada jedahnya (hahaha). Kedua orang tua yang kami banggakan yang pada saat itu juga mungkin terpaksa memakai kostum warna hijau, ikut tersipu-sipu, mereka sudah maklum bahkan sudah terbiasa dengan kegilaan kami.

Kehebohan semakin menggema saat arisan sudah mulai di lot, ada yang deg-degan ada juga yang terlihat santai. Arisan pertama diterima oleh yang kami agungkan ibunda Nursiah Rahman uang arisan 1,2 miliar katanya. Diterima dengan utuh, tanpa ada potongan sedikitpun. Konon kabarnya uang arisan sebesar 1,2 miliar itu akan dibelikan satu unit mobil, rumah dan dua hektar tanah (Alhamdulillah).

Kemudian kami lot arisan untuk berikutnya dan yang naik, seorang sepupu yang aslinya konglomerat, Puang Prof yang kami banggakan kakak sepupu nan jauh di Bogor tetapi, hati dan semangat kekeluargaannya masih tertinggal di Makassar. Puang Prof yang begitu mendukung dan mensupport arisan keluarga meskipun kehadirannya hanya lewat dunia Maya saja dan hanya bisa melihat kekocakan kami lewat video yang dikirim di grop.

Semoga bulan berikutnya bisa berkumpul, bisa hadir ditengah-tengah para peserta arisan agar suasana semakin seru dan bisa menyaksikan kami saudara-saudaranya yang saat berkumpul sangat kacau padahal balon hijau tidak pernah meletus.

Oh, iya.. saat arisan kami juga merayakan hari ulang tahun adik sepupu kami yang paling kecil Andi Mutmainnah, Barakallahu FII Umrik Adiks, sehat selalu, cepat dipertemukan dengan belahan jiwanya pokoknya doa para peserta arisan konglomerat untukta segera dikabulkan Amiin.

Continue Reading

Kumpul-kumpul setelah Lebaran, Makan Coto dan Pisang Peppe

Ilustrasi

Alhamdulillah, setelah sekian juta purnama akhirnya para sepupu dari pihak ibu kumpul di rumah tepat di hari ke lima setelah lebaran Idul Fitri 2025. Hanya sekadar kumpul biasa tidak ada yang istimewa tetapi, rasanya itu seperti sedang merayakan pesta besar padahal kami hanya membuat bakwan dan pisang goreng.

Jadi ceritanya itu, kakak sepupu saya yang tertua keponakan dari Ibu saya, menelepon. Katanya dia ada daging untuk buat coto dan konro kelebihan dari yang dia masak saat lebaran. Rencananya mau masak di rumah ibu, di Minasa Upa tetapi, jadinya masak-masak di rumahku.

Saya menawarkan agar acara kumpul-kumpulnya di rumahku saja di Aroepala agar tetangga-tetangga melihat bahwa rumah berwarna abu-abu blok U127 yang penghuninya setiap hari pergi pagi dan pulang malam ini, juga punya keluarga (hehehe). Akhirnya acara kumpul-kumpulnya pun terlaksana dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, eits seperti teks proklamasi saja.

Kami pun mengolah perdaginan menjadi Coto,sebenarnya sih bukan Coto sebab aku tidak melihat ada daging sapi, tidak ada usus, hati, daging pipih dan paru, pokoknya tidak ada pernak-pernik isian Coto selain babat sapi. Tetapi, bukan soal menu coto nya, kumpul-kumpulnya dan silaturahminya yang penting dan sulit terulang lagi. Satu lagi, yang penting bumbunya sudah menggunakan bumbu Coto. Rasanya tak kalah enak dari Coto Paraikatte, Coto Maros Jl. Urip Sumohardjo dan Coto Abdesir (hehehe, sedikit sombong).

Oh, iya pada hari Jumat tanggal 5 April masih dalam suasana lebaran, kami pun berkumpul. Hari itu, juga suami dan anak-anak saya sudah pulang dari kampung. Wah, yang datang bukan hanya satu atau dua keluarga, bukan cuma satu atau dua kendaraan roda empat yang terparkir. Ada banyak sepupu, sepupunya sepupu dan ada sepupu dari ibuku juga dari Rappocini, yang bikin ramai dan tak kalah serunya, banyak bocah-bocah.

Pokoknya acara kumpul-kumpulnya berjalan lancar dan sukses, hati senang walaupun tak punya uang. Kendaraan terparkir tidak hanya di depan rumahku tetapi, juga di depan rumah beberapa tetangga, Oh tetanggaku maafkan saya acara kumpul-kumpulnya hanya sekali setahun. Selain coto dan konro, ada satu menu yang selalu ada saat kita kumpul-kumpul Pisang peppe dan sambal terasi.

Pisang peppe merupakan pisang kepo yang masih muda, di goreng setengah masak kemudian diangkat lalu, dipipihkan sampai tipis. Setelah itu, di goreng kembali sampai garing, sebelum di goreng ada baiknya di rendam air garam, kalau mau tambahkan sedikit masako. Setelah semua pisang matang, kita buat sambel terasinya. Cemilan ini, sangat cocok di makan selagi masih panas dan saat ramai.

Continue Reading