Naufal, si Bungsu yang Tumbuh Bersama Doa dan Harapan

16 Maret 2016 – 16 Maret 2026. Tanggal yang sama, bulan yang sama 10 tahun yang lalu, saat itu, saya di antar Ibu, bapak ke rumah sakit untuk menjalani operasi Caesar.

Bapak dan Ibu menemaniku di ruang Instalasi Gawat Darirat (IGD) hingga masuk ke ruang operasi Rumah Sakit Siti Halijah, Jl. kartini Makassar. Rumah sakit yang sama saat ibu melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain.

Saat itu, saya tengah menanti dengan perasaan yang bercampur antara harap dan cemas. Dokter mengatakan bayi yang akan lahir diperkirakan memiliki berat sekitar 3,8 kilogram.

Bayi itu, bernama Naufal Said Al Fatih. Anak ketiga kami, sekaligus si bungsu yang melengkapi cerita kecil dalam rumah kami.

Sejak hari pertama hadir di dunia, Naufal sudah membawa warna tersendiri. Sebagai anak bungsu, tentu saja ia tumbuh dengan sedikit manja.

Ia sering ingin dipeluk lebih lama, ingin ditemani lebih dekat, dan selalu mencari kehangatan dari orang-orang yang ia cintai.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Manjanya Naufal bukan sekadar ingin dimanja, tetapi juga tanda betapa hangatnya hatinya.

Hari demi hari berlalu, Naufal tumbuh bersama waktu. Tawa kecilnya sering memenuhi rumah, langkah-langkah kecilnya menjadi bagian dari cerita yang tak tergantikan. Kadang ia membuat kami tersenyum, kadang juga membuat kami terharu dengan kepolosannya.

Memasuki usia sekolah, kami mulai mempercayakan pendidikannya pada sekolah yang juga mengajarkan nilai-nilai agama.

Naufal pertama kali bersekolah di TK Islam Al Ikhlas. Di sanalah ia mulai mengenal huruf-huruf, belajar bersosialisasi, dan perlahan memahami arti disiplin serta tanggung jawab.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SDIT Cobig Islamic School. Di sekolah inilah Naufal semakin banyak menimba ilmu agama.

Ia belajar bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga tentang bagaimana menjadi anak yang baik, menghormati orang tua, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kami sering merasa terharu terhadap sikapnya terhadap apa yang diajarkan oleh para ustadz di sekolah.

Naufal termasuk anak yang sangat patuh pada nasihat guru. Apa yang disampaikan oleh ustadznya seolah tertanam kuat di hatinya.

Setelah pulang sekolah, Naufal sering mengulang kembali pelajaran yang ia dapatkan dengan caranya sendiri, ia mencoba mengingat dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan.

Hal-hal sederhana seperti itu membuat kami diam-diam merasa bangga dan bersyukur.

Di balik sifat manjanya, ternyata Naufal memiliki hati yang lembut dan keinginan untuk belajar menjadi lebih baik.

Kami sadar, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Namun melihat langkah kecilnya hari ini sudah cukup membuat hati kami penuh harapan.

Setiap kali kami bertemu tanggal 16 Maret, tanggal ananda, seakan kami diajak untuk mengenang perjalanan hidupnya.

Dari bayi mungil yang selalu kami gendong dengan penuh kehati- hatian, hingga Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, manja, tetapi memiliki hati yang sangat baik.

Selamat bertemu tanggal lahir kesayangan, doa kami selalu sama. Semoga kamu selalu dijaga Allah SWT.

Semoga hatimu senatiasa dekat kebaikan.
Dan semoga kelak, ketika kamu tumbuh besar, kamu tetap menjadi anak yang sederhana, patuh, dan penuh kasih seperti hari ini.

Continue Reading

Ketika Anak Kecanduan Game, Belajar Sabar dari Si Sulung

Kali ini saya sedikit bercerita tentang besarnya tantangan hidup orang tua masa kini. Ya, ini tentang anak kecanduan game.

Saya adalah seorang ibu dari tiga anak. Anak pertama, perempuan, kini duduk di kelas 2 SMP. Anak kedua, laki-laki yang baru tamat SD, sebentar lagi menyusul kakaknya. Si bungsu, anak laki-laki kelas 3 SD, manja dan sangat sensitif.

Setiap hari rumah kami penuh warna, tawa, tangis, pertengkaran kecil, dan pelukan yang saling menyembuhkan. Mereka sering berantem, lalu akur, lalu berantem lagi begitulah dinamika hari-hari kami.

Tiga anak, tiga karakter, tiga sumber tawa sekaligus ujian jiwa.

Hampir setiap hari rumah kami ramai oleh riuhnya pertengkaran kecil, berebut remote, saling sindir, berteriak, lalu tertawa bersama seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kadang saya ikut tersulut, kadang hanya bisa menghela napas panjang dan berkata dalam hati, “Namanya juga anak-anak”

Namun, hari itu berbeda. Saya mulai kehilangan anak pertama saya, bukan secara fisik, tapi jiwanya seolah mulai menjauh.

Saat Game Mengambilnya dari Kehidupan Nyata

Anak kami kecanduan game, bangun pagi yang dicari handphone. Tidak ada lagi semangat belajar, apalagi berangkat sekolah. Dunia baginya hanya layar dan karakter digital.

Sebagai orang tua, kami sangat terpukul. Puncaknya, saat kami mengambil handphonenya, dia mengamuk luar biasa, tantrum. Teriakan, tangisan. Ia seperti orang lain. Anak pendiam kami berubah menjadi lautan emosi yang meledak-ledak.

Kami mencari jawaban ke mana-mana, bertanya ke teman, membaca ratusan artikel parenting. Tapi tidak ada yang benar-benar menjawab keresahan hati kami.

Lalu saya mengambil langkah yang tidak biasa, kami izinkan ia tidak masuk sekolah seperti permintaannya. Bukan karena menyerah, tapi karena saya ingin membangun ulang jembatan antara hati kami berdua. Kami ingin dia tahu, kami bukan musuhnya.

Mencoba Jalan Profesional

Atas saran seorang sahabat, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi ke psikiater. Selama dua minggu kami mendampingi si sulung. Kami belajar tentang trauma, emosi yang tak bisa diungkapkan, dan pentingnya koneksi batin dengan anak remaja.

Namun hasilnya belum terlihat, ia masih diam, masih jauh dan di titik itu, kami sadar bahwa sabar bukan tentang menunggu hasil cepat,tapi tentang tetap hadir meski tak tahu akhir.

Pelajaran yang Tak Kami Temukan di Buku

Kami belajar bahwa anak-anak tidak tumbuh dari teori kita, tapi dari teladan dan pelukan. Kadang cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi harus ditunjukkan. Menjadi ibu berarti menjadi ruang pulang bahkan saat anak tidak menginginkan kita dekat.

Saya tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini, tapi saya tahu, saya tidak boleh menyerah.

Untuk semua ibu yang sedang menghadapi anaknya yang “berubah”
Kamu tidak sendiri, kamu tidak gagal, kamu hanya sedang tumbuh bersama anakmu di medan yang sunyi dan penuh air mata.

Sabar yang Membutuhkan Waktu

Tidak hanya berhenti pada psikiater pertama, kami terus mencari jalan lain.
Kami ingin putri sulung kami kembali meski hanya satu langkah kecil saja.
Kami ingin ada harapan, walau tipis.

Hingga akhirnya kami membawanya ke dokter penyakit dalam, bukan karena yakin ada penyakit fisik, tapi karena kami kehabisan arah. Kami bercerita dari awal tentang tangisan, kemarahan, keputusasaan.

Dari dokter tersebut, kami diberi rujukan ke rumah sakit untuk bertemu lagi dengan dokter psikiater yang berbeda.

Pertemuan itu seperti menemukan cahaya samar di lorong panjang. Ada ketenangan, ada harapan kecil. Anak kami diberi beberapa jenis obat untuk dikonsumsi selama seminggu.

Kami harus rutin kontrol, seminggu sekali. Sebulan penuh kami jalani itu, bolak balik rumah sakit ke rumah dan selama itu pula, anak kami tidak bersekolah.

Tapi dari hari ke hari, perlahan wajahnya mulai kembali seperti dulu. Suaranya lebih tenang, tatapannya tidak seasing kemarin.

Dan suatu pagi yang tak akan pernah saya lupakan, ia sendiri yang bangun dan berkata, “Bunda saya mau sekolah.”

Saya hanya bisa menangis bukan karena sedih, tapi karena Tuhan menjawab kesabaran kami.

Kini, ia kembali menjalani hari-harinya. Tak lagi sulit dibangunkan.
Tak lagi teriak ketika kami menyebut kata “belajar”. Ia kembali menjadi anak perempuan kami yang selama ini seperti hilang dalam kabut.

Saya belajar bahwa sabar itu tidak instan. Ia bisa menjadi ujian yang menyesakkan dada dan menguras air mata, tapi andai dulu kami menyerah, entah bagaimana nasib putri kami hari ini.

Continue Reading