Lebaran Tanpa Kalian Rasanya Sesedih Itu

Malam lebaran, suara takbir bergema menusuk ruang rinduku menghadirkan kesedihan hingga melelehkan air mata. Aku menangis, wajahku seketika berubah jadi sendu.

Ya, aku menangis mendengar takbiran. Selain mengingat almarhum bapak yang sudah tujuh tahun berpulang. Aku pun merindukan kalian, suami dan kedua anak lelakiku Nawaf dan Naufal. Malam lebaran tanpa kalian baru tahun ini terjadi. Lebaran sebelumnya kita selalu kompak berada di atap yang sama.

Kita selalu menunggu hingga hari berganti, bersama berjalan bergandengan menuju tempat pelaksanaan Salat Idul Fitri di lapangan masjid Darul Muttaqin Minasa Upa, Makassar. Kita selalu memakai warna baju yang senada meski tak baru.

Kita mengikuti rangkaian pelaksanaan Idul Fitri bersama, setelah selesai kita salaman saling maaf memaafkan kemudian kita menikmati ketupat, buras dan kari ayam yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Seketika bahagia itu serasa milik kita bersama.

Setelah makan, kita berangkat ke makam nenek mendoakannya, lalu lanjut ke makam bapak di kabupaten Gowa. Kita mengabadikan semua momen indah di hari raya sebagai pengingat jika tahun telah berganti lagi.

Lebaran tahun ini, ada yang beda. Kita merayakan di tempat terpisah. Saya dan Safwa di Bumi Aroepala di Jl. Tun Abdul Razak kabupaten Gowa. Rumah baru yang kami beli enam bulan yang lalu. Sementara ayah, Nawaf dan Naufal berangkat ke Bone sehari sebelum lebaran, berkumpul bersama keluarga.

Saat melepas kalian berangkat ke kampung, aku berselimut rasa sedih. Sedih melihat senyum Naufal, apalagi ketika dia melambaikan tangan. Perasaanku sesedih itu sampai tak kuasa menahan air mata. Kubayangkan malam takbiran ku tanpa mereka.

Ternyata benar bukan hanya di malam takbiran, di hari lebaran pun saya merindukan anak-anak menghampiri dan meraih tanganku. Lalu, aku memeluknya dan mencium dahinya begitupula dengan Nawaf.

Bukan hanya Nawaf, baru kali ini juga saya lebaran tanpa ibu. Biasanya kami kompak di atap yang sama. Ibu lebaran di Minasa Upa, harusnya saya juga lebarannya di sana. Kamarku masih tersedia dan rapi di rumah ibu. Hanya saja, saya ingin merasakan lebaran di rumah baru, jadinya lebaran di rumah baru tanpa anak dan suami.

Continue Reading

Tidak Ada Lagi Wangi Ketupat di Malam Takbiran

Membuat menu kari ayam dan opor ayam itu, sudah biasa. Meskipun bukan hari raya kita sering membuatnya di rumah bahkan selama Ramadan ada yang membuat dua menu berbahan dasar ayam ini, sebagai santapan saat sahur maupun ketika berbuka puasa.
Aroma rempahnya begitu menggoda.

Di hari lebaran kari ayam dan opor ayam selalu tersedia di atas meja bahkan sudah menjadi menu yang wajib ada, selain serundeng, ikan goreng dan ayam goreng.

Tapi, kok yang kurindukan aroma wangi ketupat dan harumnya buras. Beberapa tahun lalu, dari kecil hingga menginjak dewasa, nenek yang melahirkan ibuku selalu membuat buras untuk kami santap di hari lebaran.

Lima liter beras dia rendam untuk mengisi daun pandan yang sudah berbentuk ketupat. Saya ikut membantu nenek, meski terkadang kena sasaran kemarahan nenek karena ketupat yang ku buat selalu saja keras.

Selain ketupat buras juga menghiasi meja makan saat lebaran. Nenek bahkan rela begadang dengan penuh keikhlasan menunggu buras yang dibuatnya masak. Biasanya kami buat buras sehari sebelum lebaran, menyiapkan beras 10 liter santan 10 liter. Daun pisang yang kami gunakan juga cukup banyak, untung saja tetangga sebelah rumah menanam banyak pohon pisang. Sehingga kami bisa mengambil daunnya saat lebaran untuk dibuat buras.

Memasak buras cukup lama, lima sampai delapan jam. Lumayan menguras tenaga, bayangkan seharian bungkus buras, malamnya begadang menunggu sampai masak, paginya kita ke lapangan untuk salat Ied dan itu semua dikerjakan oleh nenek, untuk dinikmati oleh cucu-cucu dari anak semata wayangnya.

Sejak nenek meninggal, kami masih tetap makan buras di hari lebaran tetapi, buras yang dikirim dari kampung, kami juga makan ketupat dari keluarga di kampung. Lauknya saya yang masak, soalnya ibu tidak pandai dalam hal masak memasak lauk. Kalau tidak gosong rasanya pasti hambar.

Masak ketupat dan buras di rumah, sangat terasa lebarannya. Wangi daun pandan yang menyengat di seluruh rumah kadang membuat kita semakin semangat. Pokoknya ada kebahagiaan tersendiri lah, malam takbiran dengan wangi ketupat.

Continue Reading

Jalangkote Jadul dan Ikan Asap Menu Andalan Nawaf Saat Berbuka

Dari tahun ke tahun selama Ramadan, jalangkote merupakan penganan populer saat berbuka puasa. Kue yang berbahan dasar terigu dengan isian sayuran dan bihun ini, selalu saja menjadi incaran masyarakat yang sedang berpuasa. Tidak heran, hampir semua pedagang takjil ditepi jalan menjual jalangkote dan selalu saja laris manis. Jalangkote rasanya gurih, asin dan kriuk menjadi menu primadona apalagi dipadukan dengan saus lombok yang rasanya pedis, asam dan manis.

Isian jalangkote bermacam macam, ada yang menggunakan bihun, mie, dan sayuran tergantung yang membuatnya. Jalangkote isian sayuran dan bihun yang paling sering kita jumpai di zaman sekarang ini. Tetapi, dulu ada jalangkote yang isinya mie, sekarang kebanyakan orang menyebutnya jalangkote jadul. Jalangkote ini, ada sejak saya masih SD dan dulu sangat digemari banyak orang, isiannya tidak banyak hanya mie dan ubi jalar yang sudah diberi rempah. Dulu harga jalangkote jadul Rp1000 per biji, sekarang dijualnya Rp5000 empat. Tetapi, jalangkote jadul ini, cukup langka tidak banyak kita jumpai.

Terkait jalangkote jadul ini, saya mau bercerita sedikit tentang anak anak kedua kami, namanya Nawaf. Tidak banyak jenis kue yang dia suka, bisa dihitung jari kue favoritnya. Nawaf sangat suka dengan jalangkote jadul dan lapis legit.

Sejak awal puasa kami membeli jalangkote untuk menu berbuka, yang dicari hanya jalangkote jadul. Saya sempat keliling beberapa penjual takjil tetapi tidak menemukan jalangkote yang isiannya hanya mie dan ubi jalar. Saya sendiri sudah putus asa dan menganggap jalangkote jadul sudah tidak dijual di zaman moderen ini (hehehe). Tetapi, Nawaf masih tetap berharap ada jalangkote jadul di atas meja.

Suatu hari saya melintas di depan Indomaret Jl.Talasalapang, disana banyak berjejer etalase yang isinya takjil beraneka macam. Saya melihat banyak jalangkote tertata dalam etalase, namun tempatnya terpisah-pisah. Tiba-tiba teringat Nawaf, anak kedua kami yang sangat menginginkan jalangkote jadul hampir tiap hari dia mengungkapkan keinginannya seperti sedang mengidam.

Ketika saya bertanya ke pedagang kue, “Bu, diantara jalangkote yang ibu jual, adakah yang isiannya mie dan ubi jalar,” sang penjual dengan sikap menjawab “Iya, ada,” mendengarnya saya pun tidak bisa mengungkapkan rasa senangku. Bukan saya yang mau jalangkote jadul tetapi, saya yang merasa senang menemukan jalangkote dan senang bisa menghadiahkan untuk Nawaf.

Setelah mendapat jalangkote jadul, tiap hari Nawaf buka puasa dengan jalangkote jadulnya dan tidak pernah merasa bosan. menemukan jalangkote jadul seperti sedang mendapatkan harta berlimpah,terlihat sangat bahagia sekali. Selain jalangkote jadul, bocah yang sebentar lagi menginjak remaja ini, pun mempatenkan ikan asap suir-suir sebagai lauk pendamping nasi saat berbuka dan ketika sahur. Selera Nawaf memang sedikit aneh, tidak suka makan buah, tidak suka ikan, tidak suka sayur. Tetapi, saat ketemu ikan asap susir-suir lupa berhenti makan.

Oh, iya, ikan asap kesukaan Nawaf, dari kabupaten Bone, jenis ikan tuna besar, diiris-iris kecil. Kemudian kami olah manjadi ikan suir-suir, dengan memberikan rempah-rempah dan bumbu penyedap, enak dan lezat menambah selera makan.

Continue Reading

Ramadan Kali Ini, Ingat yang Telah Berpulang

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan bertemu bulan suci Ramadan kali ini bersama anak-anak, suami dan ibu. Suasananya masih sama seperti tahun kemarin. Penuh kebahagian dan riang gembira. Kami menyambut bulan penuh ampunan dengan hati yang ikhlas, berkumpul bersama keluarga kecil di rumah almarhum bapak.

Aku mengajak anak-anakku setiap hari bukanya di rumah bapak sambil mengenang dia yang telah berpulang tujuh tahun yang lalu, mengingat saat-saat puasa ketika nenek masih hidup. Kami berkumpul di ruang keluarga, menu buka puasa tertata rapi di atas meja, aneka macam takjil, es buah dan makanan berat, tidak lupa kurma. Ya, almarhum bapak selalu saja membeli kurma untuk disantap saat buka dan sahur.

Kami bersaudara menyantap makanan sesuai selera masing-masing, ada yang bukanya makanan berat, ada  kue dan ada juga yang memilih es buah, dan setelah tarawih baru makan makanan berat. Almarhum bapak sendiri senangnya kopi hitam dan kue tradisional, taripang. Dia baru menyentuh makanan berat setelah salat tarwih, kopi wajib sebagai menu pembuka juga sebagai pembatal puasa.

Selama puasa, bapaklah penentu menu berbuka. Kadang dia request untuk dimasakkan makanan sesuai seleranya, dan juga cocok dengan lidah kami. Masakan yang tidak pernah absen dan wajib ada di Ramadan, kari kambing dan martabak. Setiap tahun saat bulan puasa bapak pasti minta dibuatkan martabak oleh ibu dan kari kambingnya dibuat nenek. Biasanya menu tersebut hadir di meja makan kami pertengahan Ramadan atau akhir puasa karena itu saya jadi ikut-ikutan suka kari kambing.

Sejak bapak meninggal, tujuh tahun yang lalu. Artinya sudah tujuh kali puasa, kari kambing dan martabak tidak tersedia di meja makan. (Rindu sangat rindu). Mau buat sendiri, anak-anak dan suami tidak menyukai masakan yang bersantan ini.

Sementara Nenek, ibu dari orang yang telah melahirkan aku, memiliki peran penting dalam menyediakan buka puasa dan makan sahur. Dari tangannya yang mulai keriput, dia begitu mahir memasak masakan yang rasanya membuat kami selalu ketagihan padahal hanya menggunakan bumbu dapur seadanya. Masakan nenek selalu menjadi nomor satu di lidahku. Ikan Pallu Ma’ranya, sayur bening dan kue nagasarinya.

Masakan itulah yang membuatku selalu merindukan nenek selama Ramadan 2025. Nenek bahkan selalu terbangun di tengah malam memasak makanan sahur untuk kami anak cucunya.  Kadang air mataku menetes saat berada di dapur dan mengingat semua kenangan bersama orang tercinta yang telah tiada.

Alfatiha untuk nenek dan bapakku tersayang.

 

Continue Reading

Merintis Usaha Butik, Berburu Pakaian di Tanah Abang

Akhir 2024 tahun lalu, kami rencana merintis sebuah toko baju muslimah. Segmennya menyediakan pakaian Haji dan umrah beserta oleh-olehnya. Kami pun menyusun dengan apik, memanfaatkan rumah ibu yang kosong. Di sebelahnya sudah ku buat toko bahan kue yang sudah berjalan selama tiga tahun. Ruang yang rencana kami jadikan sebagai tempat jualan pakaian pun kami rehab. Semuanya dari hasil tabungan dari teman tidurku yang juga ayah dari anak-anakku (hehehe). Dialah satu-satunya laki-laki yang memberikan dukungan penuh dari semua ide-ide cemerlang dari bisnisku. Dia bahkan tidak pernah mengeluh saat beberapa bisnis yang ku rintis sebelumnya sudah gulung tikar.

Singkat cerita, kami pun mulai menjalankan usaha awalnya membeli barang di Pasar Butung, pasar yang menjual grosiran. Tempat berbelanja para pedagang dari sejumlah daerah di Sulsel. Pakaiannya pun tidak kalah kualitasnya dengan yang ada di Tanah Abang Jakarta. Hanya saja harganya yang mungkin sedikit lebih mahal, sebab barang-barang yang dijual di sana sebagian didatangkan dari Tanah Abang.

Kami pun mulai melakukan riset sana-sini, mengumpulkan referensi dari para pengusaha fashion. Mencari ide-ide jualan pakaian baju muslimah. Akhirnya, kami pun bertanya ke para suhu, pengusaha-pengusaha yang telah sukses. Semua menyarankan agar aku hunting ke Tanah Abang dan Thamrin City, surganya pakaian grosir. Saran yang cemerlang ini pun ku sampaikan kepada lelaki yang menjadi tulang punggungku sejak belasan tahun lalu. Alhamdulillah, dia memberikan respon positif dan dukungan super maksimal, mulai dari menyiapkan modal merintis butik, modal perjalanan ke Tanah Abang hingga modal belanja.

Kami pun berangkat ke tanah Abang surganya pakaian grosir, lokasi Pusat Grosir Tanah Abang dan Thamrin City tidak terlalu jauh. Kami pun memilih menginap di tengah-tengah antara Thamrin dan Tanah Abang. Lumayan, sedikit menguras tenaga berjalan kaki dari penginapan ke PGMTA. Sebagai pengusaha pemula, banyak hal yang membuatku takjub ketika berada di Tanah Abang. Jika dulu pernah berkunjung ke pasar terbesar di kota Jakarta hanya sekadar jalan-jalan dan belanja oleh-oleh. Kali ini, aku datang belanja pakaian unyuk dijual kembali.

Harganya jauh lebih murah jika belanja di Butung, jelang Ramadan, pasar grosir Tanah Abang membludak, padat dan sangat ramai. Pedagang dari berbagai daerah berkumpul di sana, mereka datang membeli barang untuk stok lebaran.Sebagai orang baru,pedagang pemula saya mutar-mutar dulu, tanya-tanya harga. Sharing-sharing dengan para pedagang, terima masukan. Ternyata dapat banyak pengalaman baru.

Di Tanah Abang, kita bisa keliling dari toko satu ke toko yang satunya. Hari pertama kami membeli barang dengan jumlah yang banyak lalu membawanya ke hotel dengan susah payah. Lumayan menguras tenaga, karena kami masih belajar belum tahu apa-apa.

Hari ke dua di Jakarta, kami lanjut hunting pakaian. Menjelajahi padatnya tanah Abang, Metro Tanah Abang, kami kembali mengumpulkan barang belanjaan di satu titik. Saat belanja barang, si pemilik toko bertanya mau diambil atau dititip. Pertanyaan yang sempat membuat otakku lumpuh seketika memikirkan apa maksudnya. Karena bingung saya jawab saja, mau langsung ambil. Jadinya kami bertiga menenteng semua barang belanjaan. Saat mampir di toko berikutnya, sang pemilik toko melihat bagaimana saya, suami dan anak kelelahan membawa barang belanjaan kami.

Dia pun menghampiri dan bertanya, “Baru mau jualan ya? baru datang ke mari untuk belanja?” katanya dengan nada lembut. “Iya kak, saya baru merintis usaha fashion.” jawabku singkat.
“Pantas kakak bawa sendiri barangnya, disini itu sistemnya para pedagang yang datang belanja dia titip di satu toko kak, bisa menggunakan jasa porter nanti si porter yang mengangkut barang kakak ke ekspedisi. Kakaknya tinggal nunggu di rumah.” Setelah mendengar penjelasan saya pun mengangguk antara paham dan masih bingung. Kemudiam dia mempertemukan saya dengan salah satu porter di Tanah Abang namanya pak Imam.

Dialah yang menyatukan barang belanjaan saya dalam satu karung, kemudian membawanya ke ekspedisi jadi saya tinggal menunggu di Makassar. Biaya angkatnya juga lumayan murah. Di sekitar Tanah Abang, mulai dari Kebun Kacang 1, sampai VII berjejer puluhan ekspedisi yang siap mengangkut barang belanjaan pedagang dan mengirim ke berbagai daerah.

Oh, Iya. di hari ketiga di Jakarta, saya masih melanjutkan pencarian barang-barang untuk isian butik. Namun, kali ini, saya tidak menggunakan jasa porter yang ada di Tanah Abang. Barang-barang kami packing di Hotel Juno, hotel tempat kami menginap yang jarangnya hanya sekitar 100 meter dari PGMTA. Ternyata di hotel tersebut, kita bisa packing barang-barang belanjaan kita, bukan hanya saya banyak pedagang yang menginap di hotel tersebut juga melakukan hal yang sama. Kebetulan, pada hari itu juga kami akan kembali ke Makassar sehingga pihak hotel untuk menyewa porter yang stanby di sekitaran hotel. Porter itulah yang membawa barang kami ke ekspedisi. Aman dan nyaman, pokoknya belanja di Tanah Abang, banyak happy nya.

Continue Reading

Naik Kereta Api Tut Tut Tut, Surabaya-Jakarta

Pagi mulai menyapa, udaranya terasa sangat sejuk saat kami tiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.  Naufal anak bungsu kami sudah terlihat sangat senang riang dan gembira. Ketika kami melangkah menuju lantai dasar KM Dharma Kencana VII. Sejak pukul 06.00 WIB dia sudah rapi, sudah mandi, dan dua kali sarapan.

Terlihat sangat segar saat berjalan meninggalkan dermaga menuju terminal pelabuhan. Berkali-kali matanya menatap sekeliling, seperti ada yang dia cari  tetapi, tidak. Dia hanya mengamati dan menyimpan dalam ingatannya, aku tahu Naufal menyimpan cerita untuk diceritakan kepada saudaranya di Makassar, saat pulang nanti.

Kereta Surabaya-Jakarta berangkat pukul 22.00 wita, sementara kami tiba di kota pahlawan di subuh hari. Cukup lama kami menunggu, pastinya Naufal sudah dua kali mengeluh bosan. Akhirnya kami pesankan makanan, begitulah dia. Saat dilanda rasa bosan, makanan sebagai obat mujarab yang bisa membuatnya tenang.

Nasi goreng Surabaya, soto ayam Surabaya dan ayam lalapan bukan hanya itu, dia bahkan meminta kami pesan ayam krispi katanya buat bekal di kereta selama perjalanan. Selain makanan dia pun request  Roti O. Semua bekal untuknya sudah siap dia terlihat sangat senang sekali.

Singkat cerita malam sudah mengingatkan kami agar siap-siap ke stasiun. Jarak antara stasiun Pasar Turi dan tempat kami istirahat tidak begitu jauh, sekira 10 menit sudah sampai. Tiba di stasiun lebih awal bagiku lebih baik daripada telat, di sana kami duduk di ruang tunggu menunggu kereta. Sembari membayangkan pertama kali aku naik kereta, saat itu aku sudah berstatus mahasiswa, sudah dewasa. Ketika takjub dengan sesuatu aku hanya bisa memendamnya, nanti dibilang norak atau kampungan dan semacamnya.

Naufal bebas mengungkapkan apa yang dia lihat, bahkan dengan nada yang keras. Saat ditegur pun dia makin melonjak. “Waow naik kereta guys, bagus sekali keretanya.”Katanya.

Ketika kereta mulai berjalan, “Ayah jalanmi kereta,” teriaknya. Saat itu, ayahnya duduk di belakang, aku dan Naufal duduknya di depan. Beberapa orang menoleh ke arah Naufal, mereka melemparkan senyum. Si bungsu dengan senang hati membalasnya.

Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, dia hanya tidur memang sih sudah waktunya tidur. Namun, ketika kami yang tidur sebaliknya dia terbangun dan mencari makanan. Ayam krispi, Roti O untung kami sempat membelinya sebelum naik kereta jika tidak wajahnya yang tadi bahagia bisa berubah jadi cemberut.

Naik kereta katanya, perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Tetapi, dia begitu senang sebab dalam perjalanan selalu sedia makanan. Anak yang lucu dan polos bicara sesuka hatinya.

“Enaknya naik kereta,sukaku ji. Nanti kalau sudah sampai di Jakarta saya mau naik Bajai na, Ayah.”

Continue Reading

Penuh Haru, Pertama Kali Naufal Naik Kapal

Serunya pertama kali mengajak anak bungsu kami, Naufal naik kapal laut. Perjalanan menggunakan transportasi laut, salah satu dari sejuta impiannya.

Sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), hampir setiap hari dia mengungkapkan keinginannya. “Ayah, bunda mauku naik kapal, naik kereta dan naik pesawat,” rengeknya kala itu.

Anak seusia Naufal, wajarlah jika banyak bermimpi hal serupa pernah kualami sejak masih seusia dirinya. Namun, tidak semua keinginan anak harus kita penuhi. Saya pun menampung semua keinginannya, kalau ada rezeki bolelah sesekali mewujudkannya.

Akhir Januari, awal tahun 2025, saat Naufal sudah lupa dengan keinginan terbesarnya itu, saat dia sudah tidak ingat dengan mimpi-mimpinya, saat itulah kami mengajaknya ikut ke Jakarta.

Tujuan kami untuk belanja ke Tanah Abang, membeli barang-barang untuk mengisi butik yang baru kami rintis. Awalnya kami rencana berangkat berdua naik pesawat agar cepat sampai dan cepat pulang juga.

Ketiga anak-anakku pun setuju, apalagi saat itu banyak hari libur. Anak-anak bisa tinggal di rumah neneknya, menunggu sampai kami pulang.Tiba-tiba teringat Naufal dan sejuta mimpinya ingin melihat Monas dari jarak yang sangat dekat.

Nah, setelah menghitung pengeluaran dan dana yang akan kami gunakan ke Jakarta, ternyata Cukup untuk mengajaknya, mengajak Safwa dan Nawaf jika kami menggunakan kapal laut.

Hanya saja waktu itu, Safwa dan Nawaf tidak tertarik untuk ikut, mereka lebih nyaman tinggal di Minasa Upa. Akhirnya kami pun berangkat bertiga, kami pesan tiket via aplikasi online. KM Dharma Kencana tujuan Makassar-Surabaya.

Kami sengaja memilih menggunakan kapal Dharma Kencana sebab masih segar ditelinga, kapal ferry milik PT Dharma Lautan Utama tersebut terkesan mewah, mirip kapal pesiar bersih dan suasana di atas kapal menyerupai hotel berbintang.Berangkatnya dari pelabuhan Makassar, Jumat dini hari pukul 24.00 wita. Tiba di Surabaya Ahad pukul 08.00 WIB.

Saat tiba di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, wajah Naufal berseri-seri. Sesekali dia merenung mengingat kakak-kakaknya di rumah. Dia pun meraih telepon genggamnya, segera mengabarkan ke Nawaf bahwa saat ini, dia sudah berada di pelabuhan menunggu kapal.

“Nawaf, adama di ruang tunggu kapalnya sudah datang tapi belum sandar,” katanya dengan nada teriak. Suara Nawaf pun tak kalah nyaringnya mendengar cerita Naufal. “Iya tawwa, Naufal. Vidiokan na, suasana di atas kapalnya kasih lengkap,” katanya lebih heboh.

Pesan Nawaf ini, selalu di ingat bahkan saat kami berjalan menuju kapal berdesak-desakan, Naufal tetap sibuk dengan hanphonenya. Beberapa kali saya menegurnya, takut hanphone nya terjatuh atau hilang. Namun, dia dengan santainya mengabadikan setiap momen untuk dikirim ke Nawaf.

Dari lantai dasar menuju ke loby kapal di lantai 2, kami menggunakan eskalator dengan membawa tiga koper, satu tas ransel dan satu tas jinjing yang isinya makanan.Naufal sendiri tidak menenteng tas, malam itu dia mendadak jadi kameramen. Merekam semua aktivitas di atas kapal.

Sesekali dia takjub dengan apa yang baru saja dilihatnya. Berkali-kali saya mendengar kata Wah, Waow, Addeh bangusnya, keluar dari bibirnya. Dia terlihat tenang-tenang saja. Tidak peduli banyak mata memandang ke arahnya.

Aku pun ikut senyum-senyum, sama seperti aku dulu ketika pertama kali diajak ibu naik kapal, banyak-banyak kagumnya dan sedikit norak.Dua malam kami habiskan waktu di kapal tanpa jaringan, sangat membosankan. Hanya bisa foto-foto tidak bisa berkirim kabar apalagi berbagi cerita pada anak-anak. Naufal terlihat sangat bosan,sesekali wajahnya cemberut.

Untuk mengobati rasa bosannya, kami mengajaknya ke atas. Duduk-duduk sambil makan pop mie, meskipun baru saja makan, dia sangat senang ketika kami menawarkan makan lagi, hehehe. Dia bahkan mengeluh, kenapa di kapal hanya tiga kali dapat jatah makan. Sementara kebiasaannya sampai empat kali. (hehehe)

Hampir setiap saat, setelah Salat kami nongkrong di Dek paling atas kapal, di sana kami bisa menyaksikan deburan ombak, memperhatikan laju kapal, menghirup udara laut dan menyaksikan matahari tenggelam. Naufal terlihat begitu bahagia, dia merekam semua aktivitas para penumpang kapal.

Sesekali Naufal teriak saat melihat kapal-kapal nelayan. Kencangnya angin membuatnya semakin tenang duduk berlama-lama.Setengah jam sebelum kapal sandar, Naufal begitu riang gembira. Dia bahkan teriak ketika melihat ada beberapa pulau yang kami lewati, tak kalah seru teriakannya ketika melihat sudah banyak kapal yang lewat. “Sudah hampir sampai Surabaya,” katanya.

Ketika sudah ada pengumuman sebentar lagi kapal akan sandar di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, anak kami yang masih duduk di kelas III SD ini, terlihat panik. Dia sudah tidak sabar ingin turun dan melihat kota pahlawan, Kota yang sangat jauh berbeda dari Makassar.

Oh, ya, bagi Anda yang juga akan melakukan perjalanan dan tiba di pelabuhan. Sebaiknya jika tidak ada jemputaan, dan tertarik menggunakan kendaraan online. Di area pelabuhan sudah ada perwakilan Grab. Biasanya dari pihak grab akan menawarkan kepada penumpang yang baru saja turun dari kapal. Lumayan harganya murah dan tidak ribet daripada kita yang order sendiri.

Setelah memesan kendaraan, petugas akan mengarahkan ke depan pintu pelabuhan, di sana ada tenda warna hijau atribut grab, dan tersedia kursi untuk menunggu kendaraan. Waktu itu, tujuan kami ke hotel dekat Staisun Pasar Turi karena kami tiba pukul 07.00 WIB, sementara kereta yang akan membawa kami ke Jakarta, berangkatnya pukul 22.00 WIB. Sehingga kami menyewa hotel untuk istirahat, sekedar meluruskan badan dan jalan-jalan di Dupak Grosir Surabaya.

Continue Reading

Liburan Awal Tahun Penuh Warna

Kedatangan anak-anak dari kota Bitung, Abay, Ilham, Memet, Nur Baiti dan Afdal sungguh membuat akhir tahun dan awal tahun kami penuh dengan warna. Rumah yang tadinya sepi seperti tak berpenghuni seketika ramai seperti dalam Asrama. Gelak tawa mulai terdengar, hentakan langkah kaki jelas terasa. Lantai yang tadinya kotor penuh debu, seketika jadi kinclong.

Setiap pagi terdengar riuh suara anak-anak. Kami seperti keluarga berbaur satu dengan yang lain, masak-masak, makan bersama dan jalan-jalan. Oh iya, mereka menginjakkan kaki di kota Makassar, untuk mengikuti kejuaraan silat Kemenpora Cup 3 tiba tanggal 22 Desember 2024. Pertandingan digelar tanggal 29 Desember 2024 dan rencana balik ke Bitung tanggal 9 Januari 2025. Cukup lama kami bersama, banyak kenangan yang tercipta.

Seminggu sebelum anak-anak kembali ke Bitung, kami jadwalkan jalan-jalan ke pantai wisata Galesong. Pantai wisata terletak di desa Sampulungan, kabupaten Takalar. Tempat wisata yang paling sering kami kunjungi bersama keluarga menghabiskan waktu liburan. Selain pantai, terdapat tiga kolam renang, satu untuk dewasa, satu kolam anak dan terdapat satu kolam untuk baby. Bukan hanya itu, ada beberapa wahana bermain. Di tempat wisata ini, pengunjung bebas membawa bekal. Biaya masuknya pun relatif lebih murah jika dibandingkan tempat wisata lainnya.

Tahun ini, tanggal 4 Januari 2025. Liburan awal tahun bersama anak-anakku. Kami mengajak anak-anak dari kota Bitung, suasana semakin ramai dan liburannya sungguh berkesan bagi kami sekeluarga. Kami menyiapkan makanan ala kadarnya cukup untuk 17 orang lengkap dengan cemilannya.

Ada-ada saja keseruan yang tercipta di kolam renang, Nur Baiti yang biasanya sibuk masak di dapur, menyiapkan makanan untuk rekan-rekannya. Di kolam renang pantai wisata, dia malah sibuk mencari kutunya Safwa anak pertama kami.

Afdal menyibukkan diri bercanda dengan Aal dan Nawaf di kolam renang. Cime disibukkan menjaga coki dan selalu menjadi perhatian utama. Ada Mona, yang sibuk mondar-mandir di kolam renang bersama Abay, Ilham dan Memed.

Attaennek, ibu kami yang gelisah menunggu air laut surut namun sampai balik ke rumah air tak kunjung surut, dan memilih tidak membasahi bajunya dengan air kolam. Baru kali ini, kita liburan ke Pantai dan nenek dari anak-anakku itu tidak ikut bermain air bersama kami.

Oh iya, ada Pak Yanto pelatih silat anak-anak dari Bitung. Dia sama seperti Attaennek, pak Yanto pun tidak ikut gabung di kolam renang. Dia hanya duduk di gazebo memainkan ponselnya, mengabadikan kebersamaan kami di kolam renang kemudian mengunggah foto-fotonya di Facebook.

Semuanya terlihat bahagia, kami kembali ke rumah dalam kondisi yang sangat lelah. Berenang dari pagi hingga sore berganti malam.

Continue Reading

Senangnya Dikunjungi Anak-anak dari Kota Bitung

Malam mulai merambat berirama. Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WITA, hari Ahad 22 Desember 2024 bertepatan dengan hari ibu.

Telepon selulerku berdering, Mona mengabarkan kapal Tilong Kabila yang membawanya berlayar dari pelabuhan Bitung, telah berlabuh di pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar.

Seisi rumah riang gembira mendengarnya, rencana menghabiskan liburan di Makassar sudah terngiang di telinga sejak November yang lalu. Rencana itu, sungguh membuat kita senang meskipun kabarnya baru rencana, sebab masih bisa berubah. Namun sudah membuat anak-anak atau para sepupu Mona menghayal tingkat tinggi.

Khayalannya hanya seputar bisa memeluknya dan cerita banyak tentang pengalaman sekolahnya di Bitung, kota dimana dia menimba ilmu. Maklum sejak bayi, balita hingga masa kanak-kanak, mereka menghabiskan waktu bersama. Tinggal di rumah yang sama.

Kalau saya sendiri penasaran dengan gaya dan pribadinya. Ternyata belum ada perubahan, dia masih tetap seperti Mona yang dulu, bergaya seperti laki-laki dan rambutnya sangat pendek, mungkin tuntutan pendidikan kalau panjang sedikit dapat hukuman.

Oh iya, Mona ini ponakan kami. Anak perempuan pertama dari dua bersaudara keduanya perempuan. Masa kecilnya dia habiskan di Minasa Upa, pendidikan mulai TK, SD, SMP dan SMA dia habiskan. Setamat SMA, salah satu suami sepupu menyarankan untuk lanjut pendidikan di Poltek KP Bitung. Singkat cerita dia pun ikut pendidikan tahun 2022 di Bitung, Sulawesi Utara.

Tahun ini, sama seperti tahun lalu, dia bersama teman-temannya berkunjung ke Makassar untuk mengikuti kejuaraan silat Kemenpora ke-3. Mereka menginap di rumah. Masya Allah, kami sangat gembira. Kedatangan mereka sungguh membuat kami terhibur. Mereka anak baik dan ramah-ramah, ada Memet, Afdal, Ilham, Abay, Nurbaiti dan pelatihnya Pak Yanto.

Sebagai tuan rumah kami tidak pernah repot, apalagi merasa disusahkan sebab mereka anak-anak yang rajin. Melayani diri sendiri, pandai memasak dan suka bersih-bersih. Perkenalan pertama sungguh memberi kesan yang baik, senang berkenalan dengan mereka.

Dihari pertama kedatangannya, kami hanya menyuguhkan bakso, ikan goreng sedikit udang dan ikan Pallu Cekla. Namun, mereka begitu senang meskipun kami hanya menyuguhkan makanan yang sangat sederhana.

Continue Reading

Bahagianya Nawaf Saat Diajak Wali Kelas Berenang

Siswa kelas 6 A SD Cobig

Bermain di kolam renang selalu membuat anak-anak terlihat bahagia, riang gembira. Mereka bahkan lupa untuk berhenti, apalagi jika bersama dengan teman-teman se frekuensi.

Seperti yang dirasakan Nawaf, anak ke-2 kami. Dia sangat bahagia ketika sang wali kelas mengumumkan akan mengajak anak-anak ke kolam renang.

Sejak saat itu, hampir tiap hari disetiap pertemuan, entah itu di mobil, di ruang makan bahkan di kamar tidur, dia selalu membahas tentang rencana renang bareng teman-teman kelasnya.

Oh iya, setiap hari Jumat, memang ada jadwal olahraga untuk anak kelas 6 A SD Cobig, yang biasanya diisi dengan bermain futsal. Sehingga anak-anak sangat senang saat disuguhkan hal yang baru.

Mereka bisa berendam, rileks, lebih santai dan tidak menguras tenaga seperti saat mereka futsal.

Anak-anak diusia kelas 6 memang sebaiknya sesekali diberikan kegiatan di luar sekolah, tentunya berkaitan dengan pendidikan. Selain menambah pengetahuan baru, mereka bisa menciptakan kenangan bersama teman-teman dan ustadznya saat mereka berpisah.

Hal sekecil apapun yang membuat anak-anak senang akan tetap hidup dan terus dia kenang hingga mereka dewasa.

Saya pribadi sangat salut dengan wali kelas yang mengajar di kelas 6 A SD Cobig, super keren dan selalu ada gebrakan baru yang diberikan kepada anak-anak. Tidak salah ketika penerimaan Rapor beberapa bulan lalu, dia terpilih sebagai guru terbaik tahun 2024 di sekolah penghafal Al-Qur’an dan hadits shahih.

Untuk pertama kalinya sejak enam tahun belajar di sana, Nawaf si penggemar Risol Mayo dan Mie Gacoan sangat senang dan bahagia. Dia kerap kali memuji ustadznya di depan ayah, bunda, nenek dan saudara sepupunya.

Di matanya, ustadznya itu keren, hebat, gaul,cerdas dan pandai berenang. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun menimba ilmu di sana, saya baru mendengar dia memuji gurunya sedemikian dahsyatnya.

Dulu, sempat dia mengidolakan salah seorang ustadz ketika masih duduk di kelas III, sebegitu kagumnya sampai semangatnya untuk ke sekolah pun memudar saat sang ustadz lolos CPNS di Sinjai.

Kembali ke cerita kolam renang, Jumat 22 November 2024, bukan hanya siswa yang senang mau berenang. Para Orang tua pun tak kalah hebohnya dari ananda.
Mendengar anak-anak diajak renang, bahagianya itu seperti menemukan harta Karun. Saking senangnya, beberapa orang tua siswa ingin mendampingi anak-anaknya sampai ke lokasi renang.

“Tidak usah ikut berenang, kita cukup memantau di kantin sambil menikmati mie ayam. Selain mie ayam, ada banyak jajanan. Seperti itu kalimat salah seorang orang tua di grop kelas.”

Sebenarnya saya pun ingin sekali bergabung, sudah lama tidak pernah ketemu, tetapi banyak pekerjaan yang mendesak untuk dikerjakan.

Para orang tua menyambut baik kegiatan ekstrakurikuler sekolah, mereka memberikan dukungan penuh pada anak-anak. Ananda yang sakit pun dapat izin untuk bergabung dengan teman-temannya, walaupun hanya berada di bibir kolam sudah cukup membuatnya terhibur.

Selalu bangga dengan sekolah Cobig tempat anak-anak menimba ilmu. Pendidiknya tidak hanya keren, sopan dan hebat, juga mampu menjadi orang tua bagi anak-anak saat mereka di sekolah, meskipun usianya masih sangat muda.

Continue Reading