Ini Alasan Ustadz Melarang Jemaah Mengaji Saat Ceramah Belangsung

Alhamdulillah, kali ini masih diberikan kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadan 1446 H. Bulan yang memiliki banyak keutamaan, salah satunya sebagai bulan penuh ampunan. Sebagai bulan suci, peluang bagi umat islam untuk memperbaiki iman dan taqwa.

Setiap kali memasuki Ramadan, sering kita jumpai banyak jemaah yang membaca Alquran di dalam masjid. Biasanya mereka menunggu hingga waktu berbuka tiba.

Membaca Alquran di bulan Ramadan, memiliki banyak keutamaan salah satunya mendapatkan pahala berlipat ganda. Bisanya setelah melaksanakan salat lima waktu, kebanyakan orang melanjutkan lagi bacaan Alqurannya bahkan ada yang berusaha untuk menyelesaikan bacaan Alqurannya.Namun, jemaah biasanya mempergunakan kesempatan melanjutkan bacaan Alquran, saat ustadz sedang ceramah setelah Salat Isya atau sebelum pelaksanaan Salat tarawih.

Ternyata hal tersebut tidak diperbolehkan, beberapa ustadz sempat menegur jemaah yang mengaji saat dia sedang berceramah.
Seperi diungkapkan salah satu ustadz di Makassar, Arifuddin Lewa saat sedang membawakan ceramah Tarwih di Masjid Darul Muttaqin, dia menegur jemaah perempuan yang banyak membaca Alquran. Katanya, saat ustadz membawakan ceramah sebaiknya jemaah menutup terlebih dahulu Alqurannya, dan bisa melanjutkan setelah Salat Tarwih.

Membaca Alquran saat ceramah berlangsung, kata dia bisa mengganggu konsentrasi orang yang mengaji atau sebaliknya mengganggu konsentrasi penceramah. “Saya merasa tidak enak, ceramah sementara banyak jemaah yang mengaji. Siapa tahu saya mengganggu konsentrasinya dan saya juga merasa terganggu.”

Arifuddin pun menjelaskan, tidak ada larangan membaca Alquran, apalagi di bulan Ramadan. Tetapi, jangan saat ceramah berlangsung. Membaca Alquran saat ceramah berlangsung juga bisa dikategorikan seseorang memiliki akhlak yang tidak terpuji sebab dinilai tidak menghargai penceramah bahkan menganggap ceramah itu tidak terlalu penting.

Continue Reading

Kisah Cinta Bojes, Dari Tangisan Memilukan Hingga Tangis Bahagia

Persiapan pernikahan kedua mempelai bagaikan pernikahan anak pejabat, selebrity, atau anak seorang konglomerat. Resepsi pernikahannya tercatat termewah di Majene pada Februari 2025. Saat menuju rumah pengantin wanita, terlihat warga sekitar berdiri di pinggir jalan menunggu rombongan pengantin. Tercatat sekitar 150 mobil yang mengantar Bojes ke rumah calon istrinya, untuk melaksanakan prosesi ijab kabul. Bukan hanya itu, iring-iringan kendaraan pengantin di kawal polisi, semua mata takjub melihatnya.

Siapa sih mereka, sejak kisahnya viral di pelabuhan Passarang, Majene, Sabtu (8/2/2025) saat itupula saya mulai mengenal pasangan kekasih ini.Awalnya, saya menanggapi biasa saja namun berkali-kali video keduanya lewat di beranda media sosialku. Seketika rasa ingin tahuku  (Kepo)sangat tinggi. Aku pun sama seperti masyarakat pada umumnya, penasaran dengan aksi Lia di pelabuhan Passarang saat pacarnya akan berangkat ke Kalimantan.

Berkali-kali kucari videonya dan kuputar berulang-ulang di tiktok sambil membaca komentar para netizen. Menurutku aksi Lia sangat norak, apalagi di pelabuhan banyak yang tertawa bahkan mengejeknya. Namun Lia seakan tidak peduli, rasa takut kehilangan sepertinya sudah menjalar dalam dirinya sehingga dia pun berontak, melawan siapa saja yang menghalanginya ke atas kapal.

Aksi Lia tidak bisa dikendalikan akibatnya pakaian yang digunakan petugas di pelabuhan sampai robek. Siapa sangka aksi konyolnya itu, mengurungkan niat Bojes merantau ke Kalimantan. Dia turun menenangkan pujaan hatinya. Bojes sosok lelaki yang bertanggungjawab, penyayang dan juga bijaksana.

Dia masih terlihat tenang dan sabar meskipun ulah kekasihnya mengundang teriakan orang-orang yang ada di pelabuhan saat itu. Tidak sedikit yang mengejeknya, tidak sedikit yang teriak bahkan komentar pedis netizen pun mengalir. Banyak yang curiga dengan sikap Lia menahan Bojes pergi merantau.

Namun, ada hikmah dibalik semua itu. Ketulusan dan kesabaran Bojes, mengundang simpati sejumlah pihak. Sejumlah konten creator pun bersatu menyatukan cinta Bojes dan Lia. Mulai dengan Menyusun acara lamaran, acara nikahan, hingga resepsi yang megah.

Bojes anak yatim piatu, sejak kedua orang tuanya meninggal. Dia tinggal Bersama dengan kakek dan neneknya di rumah yang sangat sederhana, sangat kecil.Namun, mereka sangat bahagia. Bojes sangat menyayangi keluarganya. Untuk melamar kekasihnya, dia bahkan berniat untuk merantau sebab tidak ingin merepotkan keluarganya mungkin belum ada yang mengenal Bojes, saat kondisi kehidupannya susah.

Peristiwa pelabuhan Passarang,membawa berkah untuk mereka. Banyak yang tersentuh dengan kondisi Bojes, setelah pernikahan hadiah masih tetap mengalir. Selain mobil, Bojes dan Lia bahkan mendapat hadiah umroh.

 

Continue Reading

BRILink Dongkrak Warga Pelosok Jadi Moderen

Gambar ilustrasi yang dibuat oleh Andi amriani

Dari tahun ke tahun zaman menghadirkan banyak perubahan tidak hanya di kota, masyarakat yang tinggal di pedesaan pun ikut merasakan perkembangan yang luar biasa, utamanya dalam bidang teknologi dan digital.

Hadirnya layanan aplikasi digital yang diluncurkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) BRILink, membawa perubahan signifikan bagi masyarakat pelosok. Hampir semua desa yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia terdapat agen BRILink. Tujuannya memberikan kemudahan bagi nasabah yang akan melakukan transaksi.

BRILink seakan mengajak petani untuk berbenah. Aplikasi digital ini, memberikan banyak kemudahan. Sehingga para petani juga bisa menabung di bank dari hasil kerja kerasnya. Mereka tidak lagi malu atau malas ke bank disebabkan jarak yang begitu jauh.
Bukan hanya itu, masyarakat desa yang memiliki anak bekerja di kota pun bisa menarik uang kirimannya di agen BRILink terdekat.Seperti yang diungkapkan Gustiani salah seorang warga Lonjo Boko, kabupaten Gowa, Sulawesi-Selatan.

Dia senang dan sangat terbantu dengan adanya agen BRILink yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Semua transaksi yang biasa dia lakukan seperti menabung, menarik uang, membayar iuran BPJS, dan bayar listrik tidak lagi harus ke kota.
“Bayangkan jika harus ke kota untuk menabung, berapa banyak waktu yang terbuang, ongkosnya juga besar. BRILink, selain memberikan kemudahan untuk transaksi setor dan tarik tunai juga bisa bayar BPJS,”katanya saat dimintai tanggapannya, Kamis (14/11/2024).

Layanan BRILink yang diluncurkan oleh salah satu Bank terbesar di Indonesia mengajak warga desa berpikir cemerlang. Kehadirannya mengubah pola pikir masyarakat, yang tadinya malas menabung disebabkan jauhnya jarak ke bank sehingga penghasilan yang didapatkan dari hasil kerja kerasnya habis begitu saja.

Dengan hadirnya agen BRILink, memudahkan masyarakat untuk bertransaksi dimanapun dan kapanpun mereka mau. Mereka yang memiliki anak sekolah di kota bisa mengirim uang belanja tanpa harus menunda-nunda.

Gustiani kembali menjelaskan, awalnya agen BRILink yang ada di toko klontong dekat rumahnya, membuatnya bertanya-tanya. Setelah dijelaskan pemilik toko, akhirnya dia yang selama hampir enam tahun jadi nasabah BRI pun mulai tertarik untuk menabung di agen tersebut. Sebagai reseller parfum aplikasi digital ini, tentu sangat memudahkan dalam menjalankan bisnisnya.

BRILink, memberikan kemudahan pada nasabah di pedesaan juga memberikan keuntungan bagi para agen. Seperti yang diungkapkan salah seorang agen BRILink Arfah, di desa Dena, kecamatan Madapangga, kabupaten Bima, menjadikan teras rumahnya sebagai agen BRILink, sejak tahun 2019.

Sejak awal buka masih sepi, masih kurang masyarakat yang datang, warga hanya sekadar bertanya-tanya. Namun, Arfah tetap berusaha untuk menjelaskan tentang usaha yang mulai digelutinya. Mengajak masyarakat untuk menabung dan mengirim uang dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke Bank.

Arfah yang dimintai komentarnya, Selasa (19/11/2024) respon masyarakat sangat baik setelah usahanya berjalan selama satu tahun. Setiap hari teras rumahnya sangat ramai. Kebetulan di desanya hanya ada tiga agen, yang jaraknya lumayan jauh sehingga memberikan banyak kemudahan bagi agen.

“Suka duka sebagai agen BRILink, tidak hanya memberikan kemudahan tetapi keuntungan. Kalau lagi ramai, saya sangat senang sekali meskipun terkadang kewalahan. Kalau sepi, saya hanya bisa sabar dan berharap besok ramai lagi,”katanya.

Arfah juga mengakui selama menjadi agen BRILink, bank BRI selalu memberikan support pada semua agen. Selalu memberikan informasi, apalagi ketika terjadi gangguan pada jaringan.

Bukan hanya itu, BRI juga sering memberikan informasi saat ada fitur-fitur baru yang diluncurkan seputar BRILink. Karena itulah, dia tetap bertahan dan tetap semangat menjadi agen.

Ibu dari satu orang anak ini, menjelaskan selam lima tahun menjadi agen transaksi terbanyak nasabah yakni, tarik tunai, top up dana, menabung, bayar BPJS, bayar listrik dan bayar cicilan.

Bersyukur Dapat Membantu Masyarakat

Berbeda dengan Asmawati, salah satu Agen Bri Link,di kecamatan Parangloe, desa Borisallo, Asmawati mengakui sejak berjalan selama 11 tahun, transaksinya lumayan besar. Setiap hari selalu ramai meskipun di kecamatan tempatnya tinggal sudah ada beberapa agen.

Bahkan Asma sudah membuka satu counter BRI Link lagi di kecamatan Tinggi Moncong yang jaraknya sekira 10 kilo dari counter yang pertama. Perempuan yang berprofesi sebagai Kepala Sekolah, salah satu sekolah islam di Parangloe ini, mencatat sejak menjadi agen transaksi yang paling banyak yakni layanan setor tunai, tarik tunai dan pembayaran pinjaman.

“Alhamdulillah keuntungan yang kami dapatkan fee dari transaksi nasabah. Setiap hari jumlah nasabah yang bertransaksi sangat besar. Yang sangat saya syukuri juga karena bisa membantu masyarakat desa,”katanya.

Menurut Asmawati, sebelum ada agen BRILink, masyarakat desa biasanya, menempuh jarak 10 kilo untuk pergi ke Bank yang ada di kota. Karena itulah dia pun mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang di desa yang belum memiliki agen, untuk membantu masyarakat.

Continue Reading

Istri Selingkuh, Suami Bakar 33 Rumah Warga

Namanya Muhammad Rijal, sudah menikah dan memiliki anak. Dia Tinggal di kota Makassar. Pria berusia 36 tahun ini, bikin heboh masyarakat Makassar Senin Oktober 28 Oktober 2024.

Rijal yang diselimuti emosi membakar sampah di depan rumah mertuanya, di Jl. Laiya, kecamatan Bontoala. Dia tidak mampu membendung amarah saat melihat selingkuhan istrinya ada di rumah tersebut.

Akibat ulahnya itu, sebanyak 33 rumah padat penduduk ikut terbakar. Dia bahkan tidak tahu perbuatannya itu merugikan orang banyak. Rijal mulai sadar setelah mendengar kabar keesokan harinya, Selasa 29 Oktober 2024.

Dari informasi yang beredar, Rijal sebenarnya kesal dengan sikap istrinya yang selingkuh dengan temannya sendiri. Dia pun pergi meninggalkan ibu dari anaknya selama tiga Minggu.

Dia memilih meninggalkan keluarga kecilnya, karena jengkel dan merasa tidak dihargai. Namun, ketika mengetahui bahwa anaknya sedang sakit, sebagai seorang ayah, hatinya tergerak untuk menjenguk ke rumah mertuanya. Tetapi, sang istri tidak memberi izin, akhirnya dia pulang.

Rijal datang kembali pagi harinya di hari Senin. Sebelum masuk ke dalam rumah sang mertua, dia melihat selingkuhan istrinya juga ada di sana. Dia terbakar api cemburu, emosinya meletup-letup. Kakinya terhenti hanya sampai di depan pagar rumah.

Melihat tumpukan sampah di depan rumah mertuanya, dia pun membakar sampah plastik itu. Tujuannya untuk memancing temannya itu keluar.

Namun, setelah memastikan apinya membara dia pun meninggalkan rumah tersebut, tanpa menyadari akan berdampak pada rumah-rumah yang lain. Akibat aksinya itu, Rijal kini diamankan Polsek Bontoala.

Masyarakat yang kehilangan rumahnya hanya bisa pasrah, meskipun tidak ada korban jiwa namun warga Bontoala ini, kehilangan tempat tinggal mereka.

Continue Reading

Main Hakim Sendiri, Pantaskah?

Main hakim sendiri,kondisi yang sering dilakukan oleh masyarakat ketika menemukan tindak kejahatan. Tujuannya untuk memberikan titik jera pada pelaku, agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Namun, terkadang tindakan tersebut berakibat fatal, membuat penjahat luka berat bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Masyarakat terkadang lupa diri, saat memukul pelaku kejahatan, bertindak ramai-ramai dengan penuh emosi dan tidak seakan tidak ingin melepaskan jika pelaku masih dalam kondisi sadar.

Sore itu, cuaca tidak seperti biasanya. Mendung tetapi, hujan tidak turun. Aku baru saja tiba di rumah dari menjemput anak sekolah. Seharian mereka di sekolah, terlihat sangat lelah saat sampai di rumah.

Suara ribut- ribut depan penjual bakso tepatnya di samping rumah. Terdengar suara teriakan dan pukulan. Aku berlari keluar, takut terjadi sesuatu pada anak-anak. Orang- orang dari dalam warung bakso pun berlari ke luar.

Mereka ikut menonton dua anak muda kira-kira usia 16 tahun di pukul secara bergantian. Seketika jalan macet, anak muda itu berkali-kali minta maaf, namun pukulan dan hantaman dari warga tidak bisa mereka hindari.

Ada orang yang berusaha untuk menolong tetapi tidak bisa, sebab yang memukul masih lebih banyak. Karena penasaran, aku menghampiri kerumunan orang yang sejak tadi menonton. Dari mereka aku dapat informasi, bahwa kedua anak muda tersebut telah mencuri dua tabung gas ukuran 3 kilo.

Astagfirullah, kenapa dia disiksa? Kenapa tidak di bawah ke kantor polisi? Aku bertanya tetapi, tidak ada yang peduli. Lalu, aku teriak meminta warga yang nonton untuk melindungi anak itu. Setidaknya mereka bisa menghentikan orang yang memukul. Sebab wajah anak itu sudah mengeluarkan darah, kepalanya terluka, bahkan wajahnya sudah bengkak.

Beberapa orang warga berusaha menariknya dan meyakinkan warga yang lain, bahwa anak tersebut akan di bawah ke Polsek terdekat. Setidaknya bisa meringankan pukulan warga.

Budaya main hakim sendiri, ternyata masih terus hidup. Masyarakat sepertinya pura-pura tidak mengerti hukum dan bertindak seenaknya. Padahal negara kita negara hukum, semua masalah kejahatan diserahkan langsung kepada aparat. Tidak ada hak masyarakat untuk memberikan hukuman dengan cara yang sadis.

Continue Reading

Tragis, Anak Kandung Parangi Ibunya Hingga Bersimbah Darah

Peristiwa menggemparkan masyarakat, terjadi di kota Makassar, Selasa (24/09/2024) saat senja mulai berganti malam sekira pukul 17.25 WITA. Saat sebagian masyarakat baru saja selesai melakukan aktivitasnya seharian bekerja, pada saat itu pula beredar sebuah video di media sosial yang sangat memilukan.

Dalam video singkat, terlihat seorang perempuan Samiaty berusia 29 tahun, melukai ibunya secara sadis menggunakan parang. Aksi tersebut dilakukan di teras rumahnya disaksikan banyak warga yang hendak menolong. Ibu yang berusia 64 tahun tidak mampu melakukan perlawanan.

Para tetangga datang untuk menolong, namun pagar rumah yang cukup tinggi itu terkunci. Beberapa warga berusaha panjat pagar agar bisa masuk ke dalam, sebagian lagi berusaha mencegah dengan cara melempar batu kearah perempuan yang memegang parang tersebut agar menghentikan aksinya. Namun, ibu itu sudah terkapar di lantai bersimbah darah. Kondisi yang memprihatinkan membuat warga lainnya tak kuasa menahan air mata.

Sore yang memilukan tidak hanya mendatangkan kesedihan bagi keluarga korban, juga menghadirkan kesedihan dihati masyarakat saat melihat video serangan membabi buta, yang dilakukan seorang perempuan dewasa terhadap ibu kandungnya sendiri.

Hati siapa yang tidak sedih melihat seorang ibu yang dengan susah payah melahirkan, merawat dan membesarkan dengan sepenuh hati tanpa pernah meminta imbalan pada anaknya. Namun, diusianya yang renta bukan balasan kebaikan yang terima melainkan penganiayaan.

Ibu yang sudah tidak berdaya akibat mengeluarkan banyak darah setelah ditebas berkali-kali menggunakan parang oleh anak kandungnya, masih hidup dan dalam perawatan di rumah sakit angkatan laut Makassar. Sedangkan anaknya sudah diamankan oleh warga diserahkan ke pihak berwajib.Tidak sedikit warga menangis, melihat kondisi lansia yang berlumuran darah.

Kapolsek Bontoala, Kompol Muhammad Idris, memberikan keterangan kepada sejumlah media pada Rabu (25/09/2024). Katanya motif pelaku menganiaya ibunya, karena tidak terima saat disuruh membersihkan rumah. Dia tersinggung dan menganiaya perempuan yang telah melahirkannya dengan sebilah parang.

Dia juga mendapat informasi bahwa anak tersebut sudah lama mengalami gangguan jiwa. Sudah sering mengamuk ketika orang tuanya menegur sehingga ayah atau pun ibunya memilih untuk mengalah.

Artikel ini, adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI http://BRI.co.id

Continue Reading

Serunya Bekerja Sambil Ibadah ke Tanah Suci

Semua umat Islam tentu saja memiliki impian untuk melaksanakan ibadah di dua kota suci Makkah dan Madinah. Sudah terbayangkan bagaimana suasana hati saat mimpi itu terwujud.

Namun, untuk sampai ke sana tentu saja membutuhkan uang yang tidak sedikit, kesehatan dan semangat tinggi. Tetapi, yang paling penting menurutku adalah niat.

Dulu, saya tidak pernah yakin pada diri sendiri bisa menginjakkan kaki di masjid Nabawi dan Masjidil Haram, jika hanya mengandalkan gaji yang sehari-hari bekerja sebagai kuli tinta. Nilainya hanya cukup untuk beli bensin dan kebutuhan makan sehari-hari. Kalau menabung entah sampai kapan menunggu sampai uangnya cukup.

Ketika mendengar ceramah saat mengantar ibu manasik umrah. Kata ustadznya, umrah itu bukan untuk orang yang mampu, katanya lagi Allah tidak memanggil orang yang mampu tetapi, memampukan orang yang Dia panggil.

Lagi-lagi sulit ku pahami. Lalu sang ustadz memberikan contoh, dia bercerita bahwa banyak kejadian, ada orang yang memiliki banyak uang terkenal kaya, namun ketika mereka mendaftar untuk ibadah umrah. Ada-ada saja halangan yang menyebabkan dia tidak jadi berangkat. Semangatku mulai berkobar, ada rasa yakin yang begitu kuat. Niat untuk pergi ke tanah suci melaksanakan ibadah umrah menjadi bagian dari doa-doaku setiap hari.

Saat Allah mendengar dan mengabulkan serta mewujudkan mimpiku, seketika aku merasa manusia yang paling beruntung. Sebab aku tidak memiliki uang puluhan juta untuk sampai ke depan Baitullah. Namun, semuanya adalah nyata tahun 2017 aku bisa meneteskan air mata di depan Ka’bah. Bukan air mata biasa, ada rasa bahagiaku di dalamnya, ada doa-doaku yang terkabulkan dan ada mimpi yang telah terwujud.

Semuanya berawal dari Travel Umrah dan Haji tempatku bekerja. Saat itu, dia meminta semua karyawan untuk menyetor paspor. Karena milikku sudah expired, aku pun segera ke imigrasi untuk memperpanjang. Saat itu, semua serba mudah yang biasanya jadi seminggu hanya dua hari.

Jadi Tour Leader

Oh, ya. Travel tempatku bekerja merupakan salah satu travel terbesar di kotaku dan juga terkenal dibeberapa kota-kota besar di Indonesia kala itu. Setiap bulannya memberangkatkan ribuan jamaah dengan paket harga sangat murah tetapi, fasilitas lumayan mewah.

Saya bekerja di salah satu anak perusahaan travel yang bergerak di bidang media berbasis islam. Sehari-hari bertugas mengisi artikel di tabloid Islami dan koran Islam, serta artikel untuk majalah Al-haram.

Mendapat kesempatan membawa jamaah dan bertugas sebagai Tour Leader merupakan tanggung jawab besar yang harus aku jaga dengan baik.

Bulan Maret 2017 saya dan tiga orang teman menjadi Tour Leader dengan jumlah jamaah 435 orang dari berbagai daerah.

Saat itu, saya kebagian membawa jamaah asal Kendari, Palu, dan Makassar, belum memiliki banyak pengalaman. Hanya bermodal keberanian dan kemauan yang tinggi. Apalagi sebelum berangkat kami di training terlebih dahulu, sehingga sudah ada bekal ketika sampai di Arab.

Mengurus jamaah yang kebanyakan lansia menjadi tantangan tersendiri bagi kami para Tour Leader. Seminggu sebelum berangkat, tugas kami menelpon jamaah mengingatkan untuk menyetor koper, kartu vaksin di kantor. Kami membuat dan menyusun id card jamaah dari pagi hingga pukul 23.00 wita.

Sehari sebelum berangkat bahkan kami ke kantor Garuda memastikan tiket dan mengambil paspor para jamaah umrah. Jadwal jamaah berangkat pukul 10.00, kami Tour Leader sudah diharuskan BERADA di Bandara pukul 24.00 malam, mengecek paspor dan ransum yang akan kami bagikan ke para jamaah.

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap jamaah selama umrah, kami para Tour Leader dibekali obat-obat generik, minyak angin, minyak gosok, balsem dan sejumlah vitamin. Sehingga ketika ada jamaah yang sakit, kami bisa segera membantu.

Madinah Kota Mewah dan Indah

Perjalanan panjang dari kota Makassar ke Madinah, tidak membuat kami lelah. Padahal sejak dalam pesawat kami yang para Tour Leader sibuk melayani jamaah, menemani ke kamar kecil dan membantu jamaah yang sakit.Pelayanan yang tidak biasa tapi membuat kami bahagia melakukannya.

Setiap perjalanan memiliki cerita tersendiri, yang akan menjadi kenangan terindah.sama seperti saya, saat tiba di hotel tempat kami menginap. Kami kembali bertugas membagikan kunci kamar pada 435 jamaah. Lumayan, pembagian kunci dari pukul 03.00 sampai selesai salat subuh. Sebuah pengalaman yang tidak bisa terlupakan.

Setelah urusan jamaah selesai, aku dan teman-teman leader menuju masjid Nabawi. Rasanya seperti mimpi bisa berfoto di pelataran masjid. Aku benar-benar takjub. Sampai tidak mampu menggambarkan suasana hatiku saat itu. Aku hanya merasakan pipiku basah seketika mataku berair, sembari berkata semewah inikah rasanya bahagia.

Bisa menginjakkan kaki di masjid Nabawi tanpa mengeluarkan uang, sebuah kesempatan istimewa yang tidak semua orang bisa merasakannya. Kami bekerja melayani jamaah sambil beribadah.

Ketika tiba di kota Makkah, dan bersiap untuk melaksanakan ibadah umrah. Tiba di depan ka’ba, aku kembali menangis bersama para jamaah. “Ternyata kesempatan untukku sungguh luar biasa jalannya begitu mudah,” gerutuku dalam hati.

Kesempatan Kedua

Bukan hanya sekali, Allah memberiku kesempatan di tahun 2017 untuk berkunjung ke kota Makkah sebanyak dua kali. Dua bulan kemudian, setelah berangkat bulan Maret. Aku kembali diminta untuk membawa jamaah lagi di bulan Mei 2017.

Awalnya aku ragu mendapat izin dari suami sebab ada memiliki anak balita yang sudah dua kali kutinggal dalam waktu yang lumayan lama. Ternyata kesempatan dua kali masih berjodoh denganku, doaku di depan ka’ba untuk datang lagi dan lagi, terkabulkan.

Aku kembali lagi mendampingi 339 jamaah, lebih sedikit dari sebelumnya. Namun, lumayan membuat pikiranku terkuras. Penuh rintangan dan ujian, sehingga membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Pada keberangkatan ku membawa jamaah yang kedua ini, ada salah satu koper jamaah yang tertinggal di Jeddah, Bandara King Abdul Aziz.

Alhasil sebagai Tour Leader, siap menerima resiko tiap hari jadi sasaran kemarahan jamaah. Apalagi ketika dia ingin berganti pakaian. Hampir tiap malam kamarku digedor-gedor sehingga tidur malamku tidak nyenyak. Terkadang ingin marah saat dimarahi jamaah, kadang ingin berontak ketika dibentak-bentak jamaah sebab sudah menyampaikan bahwa koper akan segera datang bersama rombongan jamaah berikutnya, namun dia tetap saja marah. Kopernya tiba di Madinah saat persiapan berangkat ke Makkah.

Tiba di kota Makkah, setelah melaksanakan ibadah umrah kembali dihadapkan dengan peristiwa yang memilukan. Salah satu jamaah kami meninggal. Pastinya saya sangat bingung.

Bersama para mutawif saya pun ikut mengurus jenazah,menghubungi keluarganya dan membereskan barang-barangnya hingga mengurus asuransinya.

Sebelum menghembuskan nafasnya di kamar hotel tempat kami menginap, jamaah tersebut sempat sesak. Saking paniknya, aku berlari ke rumah sakit yang kebetulan di sebelah hotel untuk minta tabung oksigen.

Saking paniknya, sampai lupa memberitahu mutawif, padahal saat itu jumlah mutawif mendampingi kami ada 10 orang. Karena tidak paham bahasa Arab, saya kembali ke hotel tanpa membawa tabung oksigen. Aku mendatangi mutawif yang kamarnya tidak jauh dari kamarku.

Artikel ini, adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI http://BRI.co.id

Continue Reading

Tuhan, Aku Gelisah

Entah kepada siapa lagi aku mengadu selain kepada-Mu ya Rabb. Saat ini, hanya engkau satu-satunya yang tahu kegelisahan hatiku.

Aku telah mendapatkan kesempatan menjadi seorang ibu dari tiga orang anak. Aku menganggapnya sebagai sebuah kesempatan emas, tentu saja semua perempuan akan merasakan hal yang sama ketika mereka menyandang gelar ibu.

Kebahagiaan yang tiada duanya bagi sebuah keluarga ketika buah hati hadir sebagai pelengkap keindahan dalam rumah tangga. Aku bisa merasakan rasa senang mengalir di sekujur tubuhku saat bisa menimang anak yang terlahir dari rahimku.

Ternyata tidak sampai disitu, banyak ujian yang harus kita jalani hingga menggapai satu keberhasilan dalam menjalankan tugas sebagai ibu. Ujian yang datang beda-beda, dari hal kecil hingga besar, seakan mengajak aku untuk berfikir dan bertindak.

Tiga orang anak tidak seberapa jika mengingat ibuku melahirkan aku dan lima orang saudaraku yang lain. Kami enam orang dengan jarak yang berdekatan.

Jika kembali mengingat masa kecil bisa kubayangkan bagaimana stress nya ibuku mengurus enam orang anak. Aku hanya tiga, tetapi kenapa tidak bisa setegar ibu.

Anak pertamaku perempuan, harusnya menjadi contoh dan panutan kedua adik lelakinya. Aku pun berharap demikian, dia bisa berpikir jernih dari adiknya sebab usia mereka berjarak tiga tahun.

Anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah SWT kepada manusia, karenanya harus dijaga, diperhatikan dan dididik dengan baik. Sehingga sebagai orang tua, akan melakukan berbagai cara untuk kebahagiaan anak-anaknya.

Sebagai ibu, aku juga sama dengan ibu-ibu yang lain dalam memberikan perhatian pada anak, berharap sempurna. Sehingga bisa menjadi panutan orang-orang sekitar.
Namun, kenyataan yang terjadi tidak sesuai impian. Bidadari kecilku tumbuh menjadi anak yang begitu menggembirakan keluarga kecilku.

Dia tidak seperti anak-anak pada umumnya, banyak diam, dan cenderung tertutup bukan hanya itu, di masa kecil anak perempuan satu-satunya itu, lebih senang bermain sendiri.

Masih tidak seperti anak pada umumnya, anak-anak yang masa kecilnya pemalu ketika mereka memasuki usia sekolah, tingkat TK, SD atau SMP sudah ada perubahan. Bergaul dengan teman sekolah, atau punya sahabat yang se frekuensi.

Bidadari kecilku itu, diusia SD hingga memasuki masa remaja di usia 14 tahun belum ada tanda-tanda perubahan pada dirinya, belum bersikap dewasa.

Dia masih saja seperti saat masih TK, tidak berbaur dengan teman-teman sekolah, malu bergaul dengan sebayanya dan masih tertutup pada orang tua.

Tuhan sebagai orang tua, aku bahkan berpikir itu adalah hal yang biasa. Sebab dia tidak pernah sedikitpun mengeluh, hanya senang membantah ketika dia mulai demam bermain gadget. Saat kecanduan benda canggih yang bentuknya pipih itu, kami pun panik. Resah dan gelisah mulai menghantui, namun mungkin sudah terlambat. Berbagai cara telah dilakukan hasilnya tidak bisa menjadikan anak Perempuanku kembali normal.

Dia bahkan lebih banyak bermain daripada belajar. Sebuah ke khawatiran tingkat tinggi, yang membuat tidur malam kami tidak pernah nyenyak. Bayangan rasa bersalah seakan menjadi cambuk yang siap menghantam ku setiap saat.

Ada sikap tidak biasa yang dia perlihatkan pada kami setiap hari. Mulai dari membantah, tidak mau mendengar nasehat hingga enggan untuk ke sekolah. Situasi itu, kadang membuat kami sebagai orang tua emosi dan kesal.

Dan puncak keresahan serta kegelisahan kami terjadi, dua pekan terakhir ini tepatnya dua pekan di bulan Agustus. Aku sungguh dibuat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba mogok sekolah.

Satu, dua hari kami masih bisa memaklumi, tapi sudah dua pekan sudah hampir masuk sebulan. Memaksanya pun tidak ada gunanya. Hingga kami mendapat satu petunjuk, membawanya periksa ke psikolog.

Bukan hal yang mudah, awalnya dia berontak, marah bahkan sempat ada kata benci keluar dari bibirnya. Namun, akhirnya usaha kami berbuah manis. Bidadari kecilku pun bersedia untuk periksa ke psikolog, dan lanjut ke psikiater.

Mungkin di luaran sana juga ada yang mengalami hal yang sama seperti kami mungkin ada juga orang tua yang anaknya sama seperti kondisi anak kami. Intinya hanya satu senantiasa sabar dan ikhlas, serta harus berusaha memberikan perhatian penuh pada anak agar dia merasa tidak tersisihkan.

Sebab jika hanya bersikap cuek akan berdampak buruk bagi masa depan anak. Pentingnya mengenal karakter anak sejak usia dini. Sesibuk apa pun kita sebagai orang tua, anak tetap harus mendapatkan perhatian utama.

Terima kasih Tuhan atas solusi dari kegelisahan ini.

Continue Reading

33 Tahun Berinovasi Tanpa Batas JNE Gass Terus Semangatnya

Foto: ilustrasi

Perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia, PT Jalur Nugraha Eka Kurir (JNE) kini berusia 33 tahun. Dalam usianya yang tidak muda lagi, tetap memberikan pelayanan terbaik kepada konsumennya.

Wajarlah para konsumen senang mengirim dan menerima kiriman melalui ekspedisi JNE. Tidak hanya packingan barang yang membuat mereka puas, kurirnya pun sangat ramah. Sehingga pelaku UMKM sebagai pengusaha bisnis kecil sangat terbantu dalam pengiriman barang usahanya melalui ekspedisi tersebut.

Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1990 ini, menggelorakan “Gass Terus Semangatmya,” sebagai pemersatu kebersamaan, senantiasa berbagi, menyayangi serta menguatkan semangat penyedia layanan pengiriman. Selain itu, JNE menciptakan komitmen yang tinggi untuk kepuasan para pelanggan.

Memasuki tiga dekade bukan perjalanan pendek bagi Perusahaan distribusi pertama di Indonesia. Selama itu, JNE telah mengembangkan sayapnya dengan jumlah jaringan sebanyak 8.000 tersebar di seluruh Indonesia.

Sama seperti Perusahaan lainnya, JNE juga beranjak dari bawah terus berkembang menghadirkan layanan seperti JNE Express, JNE Trucking dan JNE Logistic, dengan menggelorakan “Gass Terus Semangatnya.” terus berkontribusi untuk memajukan perekonomian di negeri tercinta ini.

Selain menciptakan banyak lapangan kerja, hingga mencapai kurang lebih 50.000 karyawan. JNE berjalan beriringan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Senantiasa mengajak pelanggan, dan mitranya untuk terus berkarya dan berinovasi agar mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Sesuai taglinenya, Connecting Happiness terus berkomitmen untuk mendengarkan masukan dari para pelanggan. Dengan demikian JNE akan menjadi perusahaan ekspedisi yang membanggakan dan menjadi nomor satu bukan hanya di Indonesia tetapi, juga di Asia.

Perusahaan yang didirikan oleh almarhum Soeprapto Soeparno ini, berhasil menyabet penghargaan ”Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) 2024” dalam kategori Jasa Pengiriman.

Penghargaan Diraih JNE 2024

Diusia 33 tahun ini, berbagai prestasi telah diraih JNE sebagai perusahaan exspress.Pencapaian terbarunya, dengan menjadi perusahaan logistik pertama di Indonesia yang berhasil mendapatkan sertifikat ISO 27001:2022

Mendapat Sertifikat ISO 27001:2022

Sertifikat ISO 27001:2022 sebagai sistem manajemen keamanan informasi dengan versi terbaru (versi tahun 2022). Sertifikat ISO menjadi bukti langkah JNE dalam mewujudkan komitmen untuk senantiasa menjaga keamanan data pelanggan.

Sebagai perusahaan yang berkomitmen menjalankan Good Corporate Governance (GCG), sertifikasi. Sistem manajemen keamanan informasi yang didapatkan sebagai langkah nyata dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi seluruh stakeholder, pelanggan, maupun mitra.

Indonesia Digital Popular Brand Award 2024

Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) merupakan sebuah apresiasi dan pengakuan bergengsi bagi brand-brand di Indonesia yang telah sukses membangun popularitas serta meningkatkan citra brand-nya melalui Media Digital (Internet). Riset dan penilaian IDPBA dilakukan pada bulan Maret – Mei 2024.

Lebih dari 1.500 brand dengan 250 kategori produk yang telah dilakukan menggunakan tiga parameter penilaian search engine based, social media based dan website based. Perusahaan yang memiliki prinsip berbagi, memberi dan menyantuni sangat jelas memberikan gambaran akan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Penghargaan dari BNN DKI Jakarta

memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2024, JNE dianugerahi penghargaan atas partisipasinya dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Penghargaan tersebut diberikan di Aula Atmani Wedhana BNNP DKI Jakarta, Rabu (26/6). Penghargaan diserahkan langsung oleh Brigjen.Pol. R. Nurhadi Yuwono, selaku Ketua Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta oleh Samsul Djamaludin selaku SVP – Group Head of Quality Assurance.

Penghargaan Tebar Sejuta Al Quran

Dalam bidan keagamaan, perusahaan express ini, juga mendapatkan penghargaan dari Baitul Maal Hidayatullah, dengan program tebar sejuta alquran pada bulan Ramadan. Penghargaan diberikan, Kamis (28/3/2024).

Melalui program Tebar Sejuta Al-Qur’an, Laznas BMH bersama Kang Maman Suherman, pejuang literasi tanah air yang gencar mengirimkan mushaf Al-Qur’an ke berbagai daerah di Indonesia.

Dalam program ini, JNE ikut berperan aktif dan konsisten dalam mengirimkan Al-Qur’an hingga ke pelosok daerah di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Continue Reading

Tradisi Membagi Bubur Asyura Sambut 10 Muharram

Sugiati Deng Sunggu, sedang menata bubur Asyura di atas piring, siap untuk dibagikan ke tetangga terdekat. Foto: duniacerita

Menyambut 10 Muharram 14412 hijriah, masyarakat di sejumlah daerah memiliki tradisi, membuat bubur Asyura.

Tradisi turun temurun, di Makassar masih terus dilestarikan dan juga beberapa daerah Bugis di Sulsel. Sebagai rasa syukur masyarakat atas Rezki yang didapat.

Bubur Asyura juga dibuat sebagai santapan buka puasa bagi masyarakat yang melaksanakan puasa, pada 10 Muharram.
Pembuatan bubur tidak sama di semua daerah, daerah Bugis misalnya membuat bubur dengan bahan, kacang hijau, beras ketan, labu kuning, pisang raja, ubi, nangka dan durian.

Bahan-bahan itu kemudian dimasak menjadi satu, tetapi ada aturan cara memasaknya. Di mana langkah awal dibuat bubur kacang hijaunya, setelah matang bahan-bahan lain dimasukkan jadi satu.

Di Makassar sendiri, pembuatan bubur Asyura, sama seperti membuat bubur santan biasa menggunakan beras putih yang di masak sampai menjadi nasi bubur.

Bubur yang sudah masak dicetak sesuai bentuk piring kemudian diberi hiasan aneka macam buah-buahan.

Selanjutnya membuat bubur dari beras ketan yang dimasak dengan gula merah dan santan. Selain itu, juga ada bubur dari ketan hitam dan santan juga ada bubur dari beras merah.

Setelah semuanya selesai, ditata rapi dia atas piring, sebanyak 80 piring. Bubur ini, kemudian dibagikan ke tetangga atau masyarakat di sekitar si pembuat bubur Asyura.

Ibu Sugiati daeng Sunggu, yang ditemui usai ,e,buat bubur Asyura mengaku bahwa tradisi membuat bubur Asyura ini, sudah dilakukan oleh neneknya bahkan orang tuanya terdahulu.

Kemudian dilanjutkan oleh anaknya, hingga akhirnya sekarang dia sebagai cucu pun melakukan apa yang telah diwariskan oleh orang tuanya.

Tidak ada yang istimewa kata ibu yang sudah berusia sekira 75 tahun itu. Baginya menyambut 10 Muharram hanya melanjutkan tradisi orang tuanya.

Pembuatannya pun tidak membuatnya repot bahkan dia merasa ada yang hilang jika dalam satu tahun tidak membuat bubur Asyura. Bahkan kata dia, di daerah tempat tinggalnya Jl. Rappocini, keluarganya sudah terkenal membuat bubur istimewa saat menyambut 10 Muharram.

Tidak heran, banyak tamu yang datang hanya untuk menikmati lezatnya bubur dengan aneka macam hiasan buah itu.

Sejarah Membuat Bubur Asyura

Bubur Asyura, satu kuliner yang paling dinantikan saat memasuki bulan Muharram. Untuk mengungkapkan rasa syukur, sebagian masyarakat ada yang patungan membeli bahan untuk membuatnya.

Situasi seperti itu, tentu saja menghadirkan kesenangan tersendiri, apalagi setelah masak mereka ramai-ramai membagi bubur tersebut.
Lalu, dari mana sih, asal muasal tradisi ini muncul?
Dikutip dari laman liputan6.com, bubur Asyura ternyata ternyata sudah ada sejak zaman Nabi Nuh.

Ketika dia dan kaumnya selamat dari banjir besar saat sedang berada di atas perahu.

Kala itu, perahu Nabi Nuh sudah berlabuh, tepat di hari Asyura. Beliau meminta kaumnya, mengumpulkan semua bekal yang ada.
Beliau pun berkata, ambillah kacang sekepal, beras, gandum dan buah yang bijinya keras, lalu masaklah.

“Niscaya kalian akan senang dalam keadaan selamat.”
Sejak saat itulah, tradisi mamasak bubur Asyura dilaksanakan oleh kaum muslimin dari berbagai dunia bukan hanya di Indonesia.

Continue Reading