Asap Hitam di Gedung DPRD, Tangis Putih di Rumah Duka

Aksi demonstasi mahasiswa dan sejumlah komunitas yang berlangsung di kota Makassar, sejak siang sungguh mencuri perhatianku. Teringat masa lalu, sering turun ke jalan meliput aksi mahasiswa. Kala itu, senang sekali rasanya, apalagi saat melihat para demonstran dibubarkan oleh aparat sementara mereka masih tetap bertahan.

Situasi seperti itu, membuat liputan saya menjadi sempurna, banyak bahan yang bisa disodorkan pada pembaca esok hari. Sebab zaman itu, belum ada media online, belum ada media sosial, belum ada konten kreator yang bisa menyiarkan langsung peristiwa. Sehingga masyarakat menunggu satu hari untuk tahu kejadian pada hari sebelumnya.

Jumat Malam, 29 Agustus 2025. Saya memantau sejumlah media sosial, tidak satu pun terlewatkan. Aksi mahasiswa berlanjut hingga malam dan berakhir ricuh pada tengah malam. Semakin malam, suasana semakin memanas. Hingga kabar itu datang, kantor DPRD Makassar terbakar. Api menjulang, membelah langit malam, Videonya ramaikan sejumlah media sosial.

Saya terdiam, sementara seluruh anggota keluarga sudah terlelap. Kemudian saya memilih membuka tablet, mencoba menuliskan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang bergemuruh, Saya salut pada mahasiswa yang terus menyuarakan keadilan, mengungkapkan keresahan rakyat dan ketidakpuasan terhadap keputusan pemerintah yang sangat membebani masyarakat.

Tetapi, ketika melihat kantor DPRD Makassar dan kantor DPRD Sulsel, dibakar. Hatiku tiba-tiba sedih, marah, sekaligus takut. Beginikah cara menyampaikan aspirasi? Sudah berkelaskah caranya? sejuta pertanyaan berkecamuk, membebani pikiranku.

Gedung itu, sudah habis terbakar dan nanti pemerintah akan menganggarkan lagi pembangunan gedung baru, uangnya tentu dari kita juga. Bukan hanya gedung, puluhan kendaraan roda empat dan roda dua milik kepala dinas dan para pejabat pemerintah juga habis terbakar.

YA, pada hari terjadinya insiden pembakaran, seluruh anggota dewan berkumpul, wali kota makassar dan wakilnya serta jajaran kepala dinas, kepala seksi hadir mengikuti Rapat Paripurna. Wali kota dan wakilnya, serta kepala dinas diselamatkan lewat pintu belakang menggunakan kendaraan roda dua. Sejumlah kepala dinas pun banyak yang meninggalkan mobilnya di parkiran kantor DPRD. Malam harinya kendaraan itu sudah terbakar, dan paginya menjadi abu.

Suasana Malam Semakin Mencekam

Gedung yang siang tadi masih terlihat megah, kini tinggal arang dan puing. Di antara sisa asap itu, ditemukan jasad seorang perempuan, staf komisi, yang setiap hari datang bekerja tanpa pernah menjadi sorotan. Ia bukan pengambil kebijakan, ia hanya menjalankan tugas.

Masih di gedung yang sama ditemukan staf Humas DPRD, orang yang sehari-hari hanya memegang kamera, mengabadikan kegiatan anggota dewan agar terlihat rapi di pemberitaan. Ada pula seorang staf kantor kecamatan, dan satu lagi anggota Satpol PP.

Ya Allah, merinding rasanya tubuh ini mendengar kabar itu. Mereka tidak bersalah, mereka bukan bagian dari janji-janji politik yang diingkari. Mereka bukan bagian dari kebijakan yang menyakiti rakyat. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang bekerja, yang barangkali pagi tadi sempat tersenyum pada keluarga sebelum berangkat, tanpa pernah tahu bahwa itu adalah hari terakhirnya.

Suasana Makassar Jumat malam, sungguh membuat hatiku pilu, demo memang hak rakyat, suara memang harus lantang. Tapi ketika amarah berubah menjadi bara, siapa yang bisa memastikan bahwa yang terbakar bukanlah orang-orang yang sama sekali tak bersalah?

Namun, dari semua itu, kematian tiga orang di dalam gedung sungguh menyisakan luka yang jauh lebih dalam daripada dinding hangus. Luka itu bernama kehilangan. Kehilangan itu akan dirasakan selamanya oleh keluarga yang ditinggalkan.

Gedung Hangus, Pemulung Berdatangan

Makassar mencatat sejarah di akhir Agustus 2025, gedung DPRD hangus terbakar, tidak ada yang tersisa, semua menjadi debu. Paginya di hari Sabtu, gedung yang apinya belum padam kembali dipadati manusia. Mereka datang membawa kepentingan yang berbeda, ada yang menyelamatkan barang-barang yang masih utuh, dan mengambil alat-alat pada kendaraan roda empat yang sudah menjadi debu.

Pemulung berdatangan, merebut besi-besi tua, bahkan Saya sempat melihat ada beberapa orang yang membawa alat untuk mengambil benda-benda yang masih terpajang di dinding. Kursi anggota dewan masih utuh pun jadi rebutan.

Continue Reading

Aidil dan Syamsul, Potret Lapar di Hari Kemerdekaan

Pagi itu, saat membuka ponsel, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang sedang viral di media sosial. Dua bocah terekam sedang memungut kue dari kardus berisi sisa makanan para tamu undangan pada upacara peringatan 17 Agustus 2025. Video tersebut sungguh mengharukan sekaligus menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Dalam video tersebut, tampak dua orang anak berusia sekira tujuh tahun mengenakan kaos cokelat. Mereka terlihat jongkok di sela-sela kursi yang berjejer rapi. Kursi itu baru saja ditinggalkan para tamu undangan usai upacara di Lapangan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sabtu pagi tanggal 17 Agustus 2025.Dua bocah tersebut, membuka dos putih berisi snack, ada beberapa yang masih utuh. Mereka lalu, mengumpulkan nya dalam satu kantong plastik.

Saya pun mencoba mencari beberapa artikel yang membahas kisah anak tersebut. Sejumlah artikel menuliskan kisahnya, ternyata mereka bernama Aidil dan Syamsul. Kue-kue tersebut, tidak ingin di makan sendiri. Mereka mengumpulkan untuk di bawah pulang ke rumah, makan bersama kedua orang tuanya.

Sungguh, sebuah potret sederhana yang menyayat hati. Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, masih ada anak-anak yang harus berjuang dengan caranya sendiri demi sekadar mengisi perut.

Video Aidil pun viral, mengetuk hati banyak orang. Ada yang merasa iba, ada pula yang merenung dalam-dalam, betapa kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun belum sepenuhnya dirasakan oleh semua anak bangsa.

Kemerdekaan bukan hanya soal upacara dan bendera yang berkibar megah. Ia seharusnya juga berarti terbebas dari lapar, terbebas dari kesenjangan, dan menghadirkan kesempatan hidup layak bagi setiap warga, termasuk anak-anak seperti Aidil.

Kisah Aidil mengingatkan kita, bahwa tugas bangsa ini belum selesai. Di balik senyum polosnya, ada pesan yang tak boleh kita abaikan: kemerdekaan adalah janji yang harus diwujudkan, agar setiap anak Indonesia bisa merasakannya dengan utuh.

Aidil dan Syamsul adalah siswa SD Inpres Bertingkat di Kabupaten Gowa. Mereka tinggal di Jalan Beringin Kompleks Agus Salim. Kedatangan mereka ke Lapangan Sultan Hasanuddin pada Sabtu, 17 Agustus 2025, semata-mata hanya untuk menonton suasana peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bukan hanya Aidil dan Syamsul, banyak pula anak-anak lain yang datang dengan antusias. Bagi mereka, momen 17 Agustus adalah sesuatu yang luar biasa, momen yang hanya bisa mereka saksikan sekali dalam setahun. Sebuah perayaan yang tidak hanya menghadirkan upacara, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kagum di hati anak-anak kecil yang menyaksikannya.

Siapa sangka, aksinya mengumpulkan makanan viral dan mengetuk hati Kapolres Gowa AKBP Muh. Aldy Sulaiman, ia langsung mengunjungi rumah keluarga keduanya. Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian sekaligus dukungan moral dari jajaran kepolisian kepada Aidil, Syamsul, dan keluarga mereka.

Masya Allah! Tak hanya datang bersilaturahmi, AKBP Aldy juga berencana mengundang kedua anak itu ke Mapolres Gowa. Dalam kesempatan tersebut, ia akan memberikan hadiah berupa sepeda baru sebagai bentuk kepedulian sekaligus motivasi bagi Aidil dan Syamsul.

Continue Reading

Delapan Dekade Indonesia Merdeka, Apa Kabar Keluarga Pejuang?

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, bukanlah waktu yang singkat, cerita dalam sejarah diwarnai dengan perjuangan yang tak sederhana. Dari masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, pergulatan politik, pembangunan ekonomi, hingga era reformasi, semuanya membentuk wajah Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di sejumlah kantor pemerintah, sekolah, hingga perusahaan swasta, peringatan Hari Kemerdekaan dirayakan dengan upacara bendera. Sang Saka Merah Putih dikibarkan dengan penuh khidmat, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama-sama. Momen ini bukan sekadar formalitas, tetapi simbol tekad untuk menjaga persatuan dan meneguhkan rasa cinta tanah air.

Bukan hanya di kota, semarak kemerdekaan pun ramai dilaksankan di sejumlah pelosok desa. Kemeriahan diwarnai dengan lomba makan kerupuk semua tingkatan, dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Aneka lomba panjat pinang, balap karung, hingga pawai budaya, semuanya menjadi wajah keceriaan rakyat. Di balik tawa, ada makna mendalam bahwa kemerdekaan adalah milik semua masyarakat Indonesia.

Apa Kabar Keluarga Pejuang ?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir di semua daerah, seusai upacara peringatan Hari Kemerdekaan, para pejabat pemerintah melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Doa dipanjatkan, bunga ditaburkan, mereka menundukkan kepada dengan khidmat di hadapan makam para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi merah putih.

Sehari sebelum upacara, biasanya digelar Renungan Suci pada malam tanggal 16 Agustus, suasana hening menyelimuti area pemakaman. Hanya suara lantunan doa yang terdengar, mengingatkan kita betapa besar jasa para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan.

Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi wujud rasa hormat dan syukur bahwa kemerdekaan yang kini kita rayakan dengan keceriaan, sejatinya berakar dari pengorbanan dan darah para pendahulu bangsa.

Bukan hanya itu, biasanya sejumlah komunitas, kantor swasta, bahkan instansi pemerintah mengagendakan berkunjung ke rumah keluarga para pejuang kemerdekaan. Sekadar bersilaturahmi, menyampaikan terima kasih, dan membawa bingkisan sederhana sebagai bentuk kepedulian.

Kegiatan seperti ini biasanya pada bulan Agustus, saat peringatan Hari Kemerdekaan, Akhir September dan pada 10 November ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan.

Meski tampak sederhana, silaturahmi ini sarat makna. Ia menjadi pengingat bahwa keluarga para pejuang tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri dalam kehidupan. Mereka adalah bagian dari sejarah bangsa, penjaga cerita tentang pengorbanan, dan pewaris nilai-nilai perjuangan. Dengan hadir langsung ke rumah mereka, kita tidak hanya menghormati jasa pahlawan, tetapi juga menebarkan semangat bahwa bangsa ini tidak pernah melupakan.

Hari kemerdekaan menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa para pahlawan, dan memastikan keluarga pahlawan mendapat perhatian yang layak.

Continue Reading

Kisah Heroik Abdul Rahman Agu Satu Jam Mengapung, Satu Nyawa Diselamatkan

Di balik tragedi selalu ada cerita yang pantas dikenang. Abdul Rahman Agu, salah seorang penumpang KM Bercelona V, yang terbakar di perairan Desa Talise, Kecamatan Likupang Barat, Minggu (20/7/2025) sekitar pukul 14.00 Wita.

Di antara kepulan asap, teriakan panik, dan ombak yang menggulung, seorang pria bernama Abdul Rahman Agu berdiri sebagai sosok yang menolak pergi tanpa menolong. Ia bukan petugas penyelamat, bukan pula seorang tentara hanya pria biasa yang hatinya terpanggil oleh jeritan seorang ibu.

Hari itu, kapal yang ditumpangi Abdul Rahman terbakar hebat. Ia yang berprofesi sebagai pekerja lepas di sebuah instansi pemerintah sedang dalam perjalanan biasa, hingga api dan kepanikan mengubah segalanya. Para penumpang mulai mengenakan pelampung, sebagian sudah melompat ke laut, sebagian lain masih terpaku oleh ketakutan.

“Panasnya luar biasa. Akhirnya saya putuskan untuk melompat.” Kenangnya pada sejumlah awak media yang menemuinya.

Kisah Agu pun viral di sejumlah media sosial, saat dia merekam semua yang terjadi di laut saat kapal terbakar. Video itu pun dia bagikan ke media sosial, dengan tujuan ada yang melihat dan menolongnya.

Saat ia berenang menjauh dari kapal yang terbakar, tiba-tiba terdengar suara memilukan—teriakan seorang ibu, meminta tolong. Ia menoleh dan melihat seorang wanita yang hampir tenggelam, memeluk erat anak balitanya yang masih sangat kecil.

Tanpa pikir panjang, Abdul Rahman berbalik arah. Ia berenang melawan arus, mendekati sang ibu dan anak itu. Dengan tenang, ia berkata, “Kita kasih tenang itu adik supaya tidak menangis.”

Ia mengambil balita itu dari pelukan sang ibu, berusaha menenangkan sambil menahan rasa lelah dan cemas. Mereka bertiga kemudian terapung selama satu jam, bersama dengan semua penumpang kapal di tengah laut.

Sama seperti penumpang lainnya, dia pun menanti pertolongan, harapannya sangat besar, bisa kembali berkumpul bersama keluarganya.

“Saya lihat ibu itu sudah lemas sekali. Tapi saya harus kuat. Kalau saya bisa bertahan, mereka juga harus,” ucapnya.

Akhirnya, pertolongan datang. Ibu dan anak itu selamat berkat keberanian seorang lelaki biasa yang memilih bertahan bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk jiwa lain yang begitu rapuh.

Continue Reading

Ternyata Palestina Masih Terluka 1

Tulisan untuk Gaza I

Sore itu, Selasa 08 Juli 2025, hujan turun pelan-pelan, membawa dingin yang tak mudah kuurai. Di teras rumahku yang sederhana, aku duduk diam sambil memainkan ponsel dan minum secangkir teh hangat..

Rintik hujan jatuh seperti irama pelan dari langit yang murung, tiba-tiba di sela kesunyian itu, mataku menangkap beberapa postingan tentang Palestina di media sosial. Pikiranku melayang kemana-mana. Sudah lama ingin kudengar kabar itu.

Setelah tahun 2023 berlalu, aku kehilangan kabar terbaru tentang Gaza. Padahal aku selalu mencari, hampir setiap hari aku seperti terpanggil untuk mengetahui kabar terbaru dari Palestina.

Biasanya, saat kubuka media sosial khususnya Instagram, selalu update postingan tentang Palestina, tentang anak-anak yang kehilangan orang tua, warga yang bertahan hidup di tengah reruntuhan, dan potongan kabar terbaru dari tanah yang tak pernah benar-benar damai.

Saat itu, serangan udara yang dilakukan oleh Israel menewaskan ribuan warga, banyak wartawan dan bayi yang tewas. Rumah sakit dan masjid jadi sasaran. Kami yang menyaksikan dari jauh, ikut merasakan perih. Luka dan derita saudara-saudara di sana terasa begitu dekat, meski kami tak berada di tengah reruntuhan itu. Hati kami ikut terluka, tetapi kami bingung tak tahu harus berbuat apa selain mendoakan dan menangis dalam diam.

Setahun berikutnya, kabar itu tak pernah muncul lagi. Semua terasa hening, seolah tidak ada yang terjadi di sana. Padahal, serangan demi serangan brutal masih terus menghantam Gaza. Suara jerit dan tangis itu mungkin tak terdengar di sini, tapi di sana mereka tak pernah benar-benar berhenti.

Aku terus mencari searching di google dan mencari di instagram milik para aktivis Palestina, ada beberapa yang posting tetapi tidak sebanyak tahun 2023. Pada tahun 2024 hanya ada beberapa postingan yang cukup membuat kami tahu di sana luka masih terus menganga, ada beberapa postingan foto dan vidieo yang sungguh memilukan.

Waktu itu, aku ingin menulis tentang Palestina, tentang perasaan yang berkecamuk setiap kali mendengar kekejian pemerintah Israel terhadap rakyat Gaza, tapi aku tak tahu harus menuangkannya di mana. Sampai aku teringat, aku punya blog kecil ini. Mungkin tidak banyak yang membaca, tapi setidaknya di sinilah aku bisa menulis sedikit tentang luka Palestina dan suaraku yang ingin turut bersaksi.

Di blog yang ku ciptakan ini, aku ingin mengungkapkan isi hati tentang Palestina, tentang anak-anak yang tidak pernah mengenal ketenangan.

Tahun ini, 2025, ketika perang antara Iran dan Israel pecah, kabar tentang Palestina kembali memenuhi linimasa media sosial. Ada rasa lega meski getir melihatnya. Senang rasanya bisa kembali mengetahui kabar dari Gaza, tapi di balik itu, hati ini kembali sesak. Ternyata, penderitaan mereka belum juga berubah bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Salah satu kabar yang paling menghantam adalah syahidnya dr. Marwan Al Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ia wafat bersama istri dan lima anaknya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka. Kekejaman seperti ini bukan lagi hal baru. Dunia melihat, tapi banyak yang tetap memilih bungkam.

Aku selalu bangga melihat postingan tentang situasi di Gaza, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat, aku melihat keberanian mereka bahkan ketika suara tembakan begitu dekat dari tempatnya berpijak dia masih bisa tersenyum dengan ikhlas.

Mereka terlihat tabah padahal tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa suara ledakan. Anak yang luar biasa masih bisa tetap bermain tanpa rasa was-was.

Aku merasa sangat sedih, saat melihat postingan anak-anak Gaza makan di atas tanah yang retak dan di tengah bangunan yang runtuh. Sungguh memilukan melihatnya, apalagi saat melihat postingan ada yang meninggal karena kelaparan, kekurangan air bersih, Astagfirullah. Tanganku belum bisa membantu, tetapi aku ikut mendoakan. Aku berharap kelak tulisanku bisa menjadi jembatan dari hati ke hati.

Sungguh kejam pemerintah Israel yang menyerang tanpa titik, dokter Marwan Al Sultan satu-satunya dokter spesialis jantung yang masih bertahan di Gaza juga menjadi sasaran. Dia dan keluarganya tewas di ruang yang paling aman, sebagai bukti bahwa Israel tidak mengenal batas kemanusiaan.

Kepergian sang dokter menjadi catatan kelam dalam sejarah, dokter yang ke 70 yang tewas akibat serangan udara dalam dua bulan terakhir ini. Serangan yang tak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga harapan, dan nyawa mereka yang setiap hari berjuang menyelamatkan orang lain.

bersambung

Continue Reading

JNE SAT SET, Dari Tangan Kurir ke Hati Penerima

Tak banyak yang tahu bahwa setiap langkah kaki seorang kurir menyimpan cerita. Ia tak hanya mengantar barang, tapi membawa titipan rindu, harapan yang dirangkai dalam kardus, dan cinta yang dibungkus rapi oleh doa. Dari tangan kurir JNE, semua itu berpindah, lalu mengetuk hati penerima dengan cara yang tak pernah sederhana.

Di Indonesia cukup banyak perusahaan bidang jasa pengiriman, sejak maraknya belanja online semua perusahaan dipadati oleh paket. Setiap ekspedisi memiliki cara yang berbeda dalam memberikan pelayanan terhadap konsumennya, tentu memberikan layanan yang sangat baik.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu perusahaan pengiriman barang Jalur Nugraha Ekakurir. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1990 ini, terus berinovasi dan memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya setiap tahun.

Sejak beroperasi selama 35 tahun, JNE tak hanya menjadi penyedia jasa logistik tapi juga penyampai harapan, penghubung cerita, dan penjaga kepercayaan dengan semangat Connecting #Happiness dan filosofi SAT SET, JNE terus melesat di tengah tantangan zaman.

Bagi JNE, satu paket bukan sekadar kiriman. Ia adalah janji yang harus ditepati, perasaan yang harus dijaga, dan nilai yang tak ternilai. Wajar jika semangat “SAT “SET bukan hanya jargon, tapi telah menjadi napas dalam setiap perjalanan.

Dengan semangat “Melesat SAT SET, Inspirasi Tanpa Batas”, JNE terus bergerak, melayani dan menyebarkan inspirasi dari Sabang sampai Merauke sebab selama masih ada harapan yang ingin dikirimkan, JNE akan terus melesat.

Di era serba cepat seperti sekarang, masyarakat menuntut layanan yang tak hanya tepat waktu, tapi juga sigap, terpercaya, dan terus berinovasi. Inilah semangat yang dibawa oleh JNE dalam memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pelanggan di penjuru negeri. Semangat itu terangkum dalam satu kata kunci SAT SET.

Saya sendiri salah satu pelaku UMKM yang tinggal di kota Makassar, menggunakan jasa JNE untuk pengiriman barang. Rasanya tidak ingin berpaling apalagi para kurir JNE bersikap sangat ramah. Bukan hanya itu, saat mengirim barang di kantor JNE pegawai yang melayani customer juga tak kalah ramahnya.

Tentang Kepercayaan

Menggunakan jasa pengiriman JNE sejak beberapa tahun yang lalu, saya sempat berpaling sempat mencoba ekspedisi yang lain, lalu kembali lagi menggunakan jasa JNE, bukan karena tidak percaya, tetapi sudah merasa nyaman dengan pelayanan dan keramahannya.

Mengirim paket tentu saja tentang mempercayakan sesuatu yang berharga kepada orang lain. Saya merasa JNE memahami itu, SAT SET bukan hanya tentang kecepatan, tapi juga menjaga amanah pelanggan sebaik mungkin. Bagi JNE, setiap paket bukan sekadar barang, melainkan janji. Janji itu harus sampai dengan selamat, tepat waktu, dan penuh tanggung jawab. SAT SET menjadi napas dalam setiap langkah tim JNE, bukan hanya mengejar target, tapi menghadirkan senyum di wajah pelanggan.

Sebagai pelanggan kita juga harus memahami, di balik setiap paket yang sampai tepat waktu, ada ribuan karyawan JNE yang bekerja dengan semangat SAT SET. Kurir yang mengantar di tengah hujan, petugas sortir yang teliti memilah ratusan paket, staf customer service yang selalu siap membantu. Mereka adalah wajah-wajah inspirasi yang bekerja dengan hati.

SAT SET bukan hanya slogan, tapi budaya kerja. Sebuah semangat untuk selalu tanggap, cepat, dan memberikan solusi terbaik demi kepuasan pelanggan. Dengan moto baru “Melesat SAT SET, Inspirasi Tanpa Batas”, JNE membuktikan bahwa layanan pengiriman tak sekadar kirim barang—tapi juga menyampaikan amanah, harapan, dan kebahagiaan.

Bekerja di JNE bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tapi juga tentang mewujudkan mimpi banyak orang. Banyak pelaku UMKM kini bisa mengirim produk ke seluruh Indonesia berkat kehadiran JNE. Banyak kisah sukses bisnis kecil yang berawal dari kepercayaan pada satu kurir JNE yang konsisten datang setiap hari.

Oh iya, di balik semua paket yang di antar oleh kurir JNE pastinya ada cerita inspiratif dari para pengantar paket. Kisahnya tentu saja sangat menyentuh, mereka berjuang sebisa mungkin agar paket sampai pada pelanggan dengan selamat, agar customer tetap memberikan kepercayaan pada JNE untuk pengantaran paketnya.

Pernah saya membaca artikel tentang kurir JNE di pulau Sulawesi, peristiwa itu mungkin di tahun 2022. Seorang anak di Malang yang menitipkan surat kecil untuk ayahnya yang merantau di Kalimantan. Surat itu diselipkan dalam kardus mie instan. Ia menulis, “Ayah, semoga sehat ya. Aku tunggu pulang.” Kurir JNE yang membawa paket itu tak pernah tahu isi suratnya, tapi ia tahu, paket itu harus sampai. Karena itu bukan sekadar kiriman, tapi kerinduan yang menempuh jarak jauh.

Setiap paket yang dikirim bukan sekadar barang dalam kotak. Ia adalah bentuk cinta yang menempuh jarak, harapan yang dititipkan lewat perjalanan, dan cerita yang tak terucap namun sampai di waktu yang tepat.

JNE, dengan semangat SAT SET, terus membuktikan bahwa kecepatan bukan satu-satunya tujuan. Yang utama adalah bagaimana setiap kiriman bisa hadir dengan amanah, tanggung jawab, dan sepenuh hati.

Continue Reading

Dari Pendeta Hebat Jadi Pendakwah Kondang, Yahya Waloni Meninggal Usai Baca Khutbah

Yahya Waloni. Foto Instagram

Seorang mantan pendeta yang telah menemukan cahaya hidayah dan menjadi pendakwah kondang, Yahya Waloni menghembuskan napas terakhirnya saat tengah menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Darul Fallah, Minasa Upa Blok M Makassar, (6/06/2025) bertepatan hari Raya Idul Adha.

Di antara kalimat dakwah yang menyejukkan dan jemaat yang khusyuk menyimak, Allah memanggilnya pulang dalam keadaan mulia di rumah-Nya, saat dia menyerukan kebaikan.

Betapa indahnya akhir hidup seorang hamba yang wafat dalam tugas suci menyampaikan pesan-pesan Ilahi.Semoga Allah menempatkannya di sisi orang-orang saleh dan membalas setiap langkah hijrahnya dengan pahala yang tak terputus.

Lelaki itu lahir di Manado pada 30 November 1970, dibesarkan dalam keluarga Kristen yang taat beribadah. Sejak muda, ia mengabdikan hidupnya sebagai pendeta. Dia berdiri teguh dalam keyakinan yang diwariskan turun-temurun, tapi takdir Allah punya rencana lain.

Pada Oktober 2006, cahaya hidayah mengetuk hatinya. Bersama sang istri, ia mengambil keputusan terbesar dalam hidup, mereka memeluk Islam dengan sepenuh jiwa. Nama lamanya ditinggalkan, dan ia pun terlahir kembali sebagai Muhammad Yahya Waloni. Istrinya, yang setia mendampingi setiap langkah, memilih nama Mutmainnah, artinya jiwa yang tenang.

Sejak hari itu, hidupnya didedikasikan untuk menyebarkan Islam. Ia tak hanya berpindah keyakinan, tapi berpindah arah hidup dari podium gereja ke mimbar masjid dan pada hari Jumat yang penuh berkah, saat sedang menyampaikan khutbah di Masjid Darul Fallah, Minasa Upa Makassar, Allah memanggilnya pulang.

Ia wafat dalam keadaan mulia, di rumah Allah, saat menyerukan kebenaran. Sungguh, tak ada akhir yang lebih indah bagi seorang hamba yang telah mengorbankan segalanya demi Tuhannya.

Selamat Jalan Ustadz Yahya Waloni

Continue Reading

Mata Kering Mengganggu, Jangan Anggap Remeh

Mata kering sering mengganggu aktifitas ku, apalagi saat menggunakan laptop dalam waktu yang lama. Awalnya aku anggap biasa saja, namun makin kesini semakin mengganggu.

Setiap hari, aku selalu duduk di depan laptop  menatap layarnya berjam-jam. Biasanya berhenti ketika memasuki waktu Salat kemudian lanjut lagi menyelesaikan tugas-tugas yang masih berantakan di laptop, semua kulakukan hingga hari berganti sore. Malam hari lanjut mengetik di handphone sambil rebahan sampai mata lelah dan tertutup.

Esok harinya, aku menyambut pagi berusaha dengan suasana hati yang nyaman, menyapa semua penghuni rumah. Sambil melangkah mencari sarapan pagi, setidaknya teh hangat tanpa gula dan sepotong roti. Seperti biasa paling enak sarapan jika berhadapan dengan laptop. Saat itu, aku merasakan mataku perih. Awalnya kupikir karena begadang, tapi lama-lama terasa makin aneh, gatal, seperti berpasir, dan kadang tiba-tiba buram bahkan berkedip pun rasanya tidak nyaman.

“Aku kenapa ya?” pikirku.

Setelah cari di apotik dekat rumah ternyata aku mengalami gejala mata kering. Sesuatu yang selama ini aku anggap sepele, ternyata bisa bikin hari-hariku terganggu. Aktivitas biasa seperti membaca, mengetik, atau bahkan menonton jadi terasa berat.

Ada seorang dokter yang kutemui di sana, dia sedang membeli sesuatu. Tapi, saat mendengar keluhanku yang ku sampaikan kepada petugas di Apotik itu, dia pun menjelaskan bahwa mata kering bisa terjadi karena banyak hal terlalu lama di depan layar, kurang tidur, udara ruangan yang kering, atau bahkan karena faktor usia dan faktanya, aku beberapa kali mengalaminya tapi memilih diam. Menahan rasa tidak nyaman sambil berharap akan hilang sendiri.

Jika dibiarkan, bisa menyebabkan komplikasi lebih serius mulai dari infeksi, luka pada kornea, sampai penurunan penglihatan, ini menurut artikel yang pernah aku baca searching di google tapi lupa apa nama situsnya, kejadiannya sudah lama sih.

Singkat cerita aku disarankan oleh Apoteker untuk menggunakan #InstoDr Eyes, katanya ini bagus sebagai tetes mata sebagai pengganti air mata buatan yang bisa langsung memberikan efek lega. Aku pun langsung membelinya, sebelum periksa ke dokter mata, memang aku rencana akan konsultasi ke dokter spesialis mata tetapi belum sempat.

Tiap kali mataku mulai kering atau terasa tidak nyaman, aku langsung meneteskan Insto Dry Eyes. Rasanya seperti mata dikasih minum, adem, lega, dan nyaman.

Oh, iya untuk mengetahui gejala mata kering seperti yang aku rasakan, mulai dari ada rasa kering dan perih, mata seperti berpasir, kemerahan, sensitif terhadap cahaya penglihatan sesaat jadi buram.

Bukan Lelah Biasa

Awalnya kupikir mata kering itu, hanya terjadi karena kurang tidur ternyata, saat aku mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari, aku sadar banyak hal kecil yang tanpa disadari bisa memicu mata jadi kering.

Misalnya, aku sering bekerja di ruangan ber-AC seharian penuh. Udara yang terlalu dingin dan kering ternyata bisa membuat kelembapan mata berkurang drastis. Belum lagi kebiasaan menatap layar tanpa jeda. Dalam sehari, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam lebih di depan laptop belum lagi termasuk buka handphone saat makan dan sebelum tidur.

Sekarang, aku selalu menyimpan #InstoDryEyes di tas jadi kapan pun dan di mana pun, mataku tetap bisa bernafas dan Saya tidak jadi periksa ke dokter mata. Untuk kamu yang mulai merasakan gejala mata kering, Insto Dry Eyes(https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes)bisa jadi solusi cepat dan aman. Tetes mata ini dirancang khusus untuk memberikan efek pelumas seperti air mata alami, membantu mengurangi iritasi dan rasa tidak nyaman. #JanganSepeleinMataKering.

Nah, mulai saat ini rawatlah mata kita sebab kita sering lupa, mata adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Kita pakai setiap hari, tanpa istirahat. Tapi, berapa kali kita benar-benar menjaganya?

Jangan tunggu sampai mata terasa sakit baru sadar pentingnya merawatnya.Jika Anda mengalami gejala seperti yang Saya tuliskan di atas, segera teteskan Insto Dry Eyes. Praktis, aman, dan bisa jadi penyelamat hari-harimu seperti yang aku alami.

Continue Reading

Ternyata Mudik Itu Menyenangkan, Loh!

Ilustrasi

Mudik merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat untuk kembali ke kampung silaturahmi dengan keluarga, setelah lama tinggal di perantauan. Biasanya dilakukan orang menjelang hari raya Idul Fitri.

Perjalanan panjang saat mudik akan terasa dekat jika sudah membayangkan berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung. Tentunya hari-hari yang melelahkan saat tinggal di kampung orang akan terbalaskan dengan keindahan ketika menginjakkan kaki di tanah kelahiran.

Perjalanan panjang dari rantau ke kampung bukanlah penghalang, uang pun tidak menjadi masalah saat niat mudik sudah diagendakan. Tidak heran, kebanyakan orang sudah menyisihkan dananya, menabung berbulan-bulan dan pada saat lebaran bisa merayakan hari kemenangan di kampung.

Bukan hanya sekadar silaturahmi biasa, ada cinta dan kasih disetiap momen kebersamaan bersama keluarga. Salah satunya mengenang kembali masa-masa kecil, dan mencicipi masakan ibu yang sudah lama tidak bisa dinikmati. Selain itu, juga bisa berkunjung ke rumah teman kecil untuk berbagi cerita. Momen pulang kampung juga kadang dijadikan ajang reuni. Banyak hal yang membuat suasana hati tenang dan damai ketika berkumpul bersama keluarga di kampung, rindu masakan ibu, rindu suasana kampung di pagi hari.

Oh, Ya. Dulu, saat masih aktif di media, saya sering wawancara masyarakat yang melakukan perjalanan mudik. Mereka sangat senang mengungkapkan kebahagiaannya, ada yang menangis karena terharu.

Dulu, saya juga pernah merasa ingin sekali pulang ke kampung untuk lebaran. Banyak hal yang kubayangkan jika bisa mudik, bagaimana dalam perjalanan. Pastinya seru melewati perkampungan yang rindang, menghirup udara segar dan memandang hijaunya persawahan di sepanjang perjalanan seperti kata para pemudik. Sayang sekali, orang tua saya tinggalnya di kota Makassar. Sejak kecil sampai besar kami tinggal sama-sama. Sehingga yang namanya mudik hanya impian semata.

Ketika teman-teman sekolah mudik lebaran, kala itu, saya paling senang saat mereka pulang. Mereka menceritakan kisahnya dan membawa oleh-oleh dari kampung. Lagi-lagi saya hanya bisa membayangkan saja, bagaimana bahagianya mereka.

Setelah menikah, pertama kali saya merasakan mudik ke rumah suami di kabupaten Bone. Lebaran pertama setelah menikah, kami di kampung. Akhirnya mimpi untuk mudik pun terwujud, rasanya memang indah. Perjalanan mudik dari Makassar ke kabupaten Bone, kami tempuh selama lima jam. Melewati jalan berliku dan terjal, kiri dan kanan jurang. Penuh perjuangan untuk sampai ke kampung namun, cukup membuat hidupku terhibur meskipun sedikit tegang dalam perjalanan.

Saat tiba waktu Salat, kami istirahat di masjid, cukup banyak masjid yang kami lalui dan beberapa kali juga kami mampir untuk buang air kecil. Nah, pada musim mudik tahun 2025 ini, pemerintah mengimbau kepada semua masjid yang dilewati oleh para pemudik agar terbuka selama 24 jam. Tujuannya agar memudahkan masyarakat yang mudik untuk bisa singgah istirahat.

Continue Reading

Penundaan Pengangkatan CPNS 2024 Menguras Emosi Banyak Orang

Ilustrasi

Beberapa hari terakhir ini, kita digegerkan dengan berita penundaan pengangkatan CPNS dan PPPK yang telah dinyatakan lolos seleksi tahun 2024. Saya pun sedemikian Kepo nya mencari tahu di berbagai sumber apa penyebabnya.

Bruakk…,informasi ini, seakan membunuh secara berlahan dan melukai hati masyarakat.

Surat edaran yang dikeluarkan Menpan-RB, nomor B/1043/M.SM.01.00/2025 yang mengatur pengangkatan serentak CPNS pada 1 Oktober 2025 dan PPPK pada 1 Maret 2026, serentak menjadi perbincangan hangat di seluruh daerah.Isi surat edaran itu, seketika melukai hati CPNS. Mereka hanya bisa berharap keajaiban akan datang, pasalnya banyak di antara CPNS yang telah lolos seleksi, sudah mengundurkan diri dari tempat mereka bekerja sebelumnya.

Sejumlah anggota DPRD diberbagai daerah pun angkat bicara, mereka protes kebijakan pemerintah pusat. Tidak ketinggalan anggota DPR RI, sebagai wakil rakyat mereka memperjuangkan hak-hak rakyat. Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka juga angkat bicara terkait masalah penundaan pengangkatan CPNS. Videonya beredar di media sosial, saat protes dan menganggap pemerintah zolim.

Dia meminta dengan tegas pemerintah untuk memberikan alasan yang logis. Pemeran Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri ini, menjelaskan CPNS yang sudah lolos seleksi banyak yang mengundurkan diri dari pekerjaannya sebab berharap sudah bekerja sebagai aparatur negara. Kata Diah Pitaloka, jika seperti ini keputusan dari Menpan-RB maka sangat merugikan para CPNS dan PPPK yang sudah lolos.

“Masalahnya apa, ayo kita omongin secara baik-baik. Harus terbuka, anggarannya ada gak?” katanya di Gedung DPR RI, dilansir Kamis (13/3/2025).

Continue Reading