Cerita Terakhir Elmi Febrianti di Apparalang Bulukumba

Suasana objek wisata Apparalang, kabupaten Bulukumba selalu ramai di akhir pekan. Penikmat wisata berdatangan dari berbagai daerah, dan wilayah sekitar. Mereka datang menikmati pemandangan laut dan karang-karang yang indah.

Beberapa tahun terakhir Apparalang viral media sosial dan membuat sejumlah orang penasaran. Para pelancong tertarik datang sebab tempat ini punya kombinasi keindahan alam dan sensasi yang sulit ditemukan di pantai biasa.

Jembatan kayu yang menjorok ke arah laut jadi favorit banyak orang. Dari sana, foto terlihat lebih ekstrem dan estetik, seolah berdiri di atas samudera. Ini yang bikin Apparalang sering viral di media sosial.

Namun, jika tidak hati-hati. Tempat wisata Apparalang cukup berbahaya, bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa. Seperti yang terjadi pada Ahad, 7 Juni 2026. Seorang siswa SMK Bulukumba, Elmi Febrianti, diterpa ombak saat berswaforo di atas papan yang menjadi ikon Apparalang.

Banyak pengunjung yang mengabadikan pemandangan di tempat itu, ada yang berani dan sudah memimpikan sejak lama berdiri atau dengan gaya duduk, tidak pernah memikirkan bahaya yang akan datang.

Elmi yang saat itu, datang dengan keluarganya memanfaatkan kesempatan untuk foto di beberapa lokasi yang sangat indah. Di atas papan ia dengan gayanya yang cantik, difoto oleh temannya.

Saat itu, ombak kencang menerpanya. Ia jatuh ke laut, dan saat itu hanya bisa teriak minta tolong sambil melambaikan tangannya. Banyak pengunjung, tapi resikonya sangat besar. Tidak ada alat untuk menolong, mereka hanya bisa menonton dari atas, melihat Elmi melambaikan tangan.

Teriakan pecah, memecah suara ombak yang selama ini terdengar menenangkan. Beberapa orang berlari, sebagian lainnya hanya bisa terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Laut yang tadi menjadi latar keindahan, kini menjadi pusat kecemasan.

Hari itu, Apparalang tidak lagi sekadar tempat wisata. Ia berubah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang menyisakan duka.

Perempuan berusia 17 tahun itu, semakin jauh terseret sampai sosoknya hilang. Sore hari, warga bersama Tim Sar, melakukan pencarian, dan Elmi ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.

Kisah Emil menjadi pengingat bahwa keindahan alam selalu berjalan berdampingan dengan resiko yang tak terlihat. Tebing karang yang memukau, ombak yang memesona, semuanya menyimpan kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Sore itu, tawa yang seharusnya pulang bersama kenangan, justru berganti dengan doa dan harap yang tak henti dipanjatkan.

Appalarang tetap berdiri megah, ombaknya tetap datang dan pergi. Namun bagi sebagian orang, Minggu itu akan selalu diingat sebagai hari ketika sebuah cerita berubah arah, dari bahagia menjadi duka yang tak terucap.

Continue Reading

Dokter Hussam Ditangkap Setelah Menyelamatkan Ratusan Anak Gaza”

Kisah Hussam Abu Safiya, dokter yang bertahan di tengah serangan demi pasien kecilnya hingga akhirnya ia ikut ditangkap saat rumah sakit dikepung.

Langit Gaza hari itu, tidak lagi menyisakan warna selain kelabu dan api. Suara ledakan bersahut-sahutan, memecah sunyi yang seharusnya menjadi milik anak-anak yang terlelap. Di sebuah sudut yang nyaris runtuh di dalam Kamal Adwan Hospital, seorang dokter masih berdiri.

Ia masih sibuk menjalankan tugasnya, menyelamatkan nyawa anak-anak yang ke a ledakan Bom, anak-anak yang tubuhnya sakit, anak-anak yang hampir saja pergi.

Namanya Hussam, disaat semua berlari menyelamatkan diri. Ia memilih diam, bukan karena tidak takut, tapi saat itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Ia menemani mereka hingga akhirnya Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, ditangkap tentara Israel akhir tahun 2024.

Hari itu, suara ledakan terdengar lebih dekat dari biasanya. Rumah sakit dikepung. Kepanikan merayap cepat seperti api. Pasien dan tenaga medis tak lagi tahu ke mana harus berlindung.

Ia bukan tentara, tidak membawa senjata. Tangannya hanya terbiasa memegang stetoskop, meraba denyut nadi kecil, dan menenangkan tangis anak-anak.

Serangan demi serangan terus mengguncang rumah sakit. Dinding retak, kaca pecah, listrik padam. Namun Hussam tetap memilih tinggal. Ketika sebagian orang mengungsi untuk menyelamatkan diri, ia justru melangkah lebih dalam ke pusat bahaya.

Bagi Husam, meninggalkan rumah sakit berarti meninggalkan ratusan anak yang tidak punya pilihan lain.

Di lorong-lorong yang gelap dengan peralatan seadanya, ia dan timnya tetap bekerja. Mereka mengubah keterbatasan menjadi keberanian setiap tindakan medis dilakukan dengan risiko yang sama besarnya dengan harapan yang dibawanya.

Di tengah semua itu, ia berhasil menyelamatkan ratusan anak, nyawa kecil yang mungkin akan hilang jika ia memilih pergi.

Sebagai direktur, Hussam tahu betul bahwa setiap hari yang ia jalani bukan lagi sekadar tugas medis melainkan pertaruhan hidup dan mati.

Rumah sakit itu bukan hanya bangunan, melainkan tempat terakhir bagi harapan yang hampir padam.

Satu tahun lebih ia di tahan, tidak ada tanda-tanda kapan ia dibebaskan. Keluarganya menunggu dengan cemas, penuh ketakutan dan rasa khawatir yang sangat dalam.

Saat pengacara Hussam berusaha mengajukan banding, ia justru dipindahkan ke sel tikus, sel tahanan pengasingan di penjara Nafha. Pemindahan tersebut terjadi di tengah kondisi penahanan yang sangat buruk dan penolakan layanan medis.

Continue Reading

Kisah dan Kesetiaan yang Teruji dari Pengantin Viral, Rusli, Warni dan Kasma

Cinta Segitiga Bagian 1

Awal Oktober 2025, media sosial heboh dengan berita pernikahan seorang pelaut asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mendadak viral. Rusli, lelaki berusia sekitar 32 tahun, menjadi perbincangan hangat setelah melangsungkan dua pernikahan dalam waktu dua hari berturut-turut di kampung halamannya. Keputusan kontroversial ini mengejutkan banyak pihak, menyisakan tanda tanya besar tentang cinta, kesetiaan, dan pilihan yang diambil oleh Rusli, serta perempuan-perempuan yang terlibat dalam kisah ini.

Kisah ini, menjadi heboh bermula ketika Rusli kembali ke kampung dan melamar Kasma, perempuan yang dipacarinya tiga tahun terakhir ini. Kabar lamaran seorang lelaki yang baru saja tiba dari berlayar dengan mahar 90 juta pun menyebar di kampung dan sampai ke telinga keluarga Warni.

Warni, seorang guru agama. Perempuan yang menjadi kekasih Rusli sejak duduk di bangku sekolah. Selama Rusli berlayar warni dengan setia menunggu bahkan telah menolak tiga orang laki-laki yang datang melamar, hanya karena janjinya pada Rusli.

Saat Rusli berangkat berlayar untuk bekerja di kapal, menjelajahi samudra luas, Warni perempuan pertama yang diberitahunya. Dia bahkan memberikan dukungan penuh dan terus memberi semangat kepada lelaki pujaannya. Dia tidak pernah berpikir kepergian Rusli sebuah perpisahan yang menyakitkan. Mereka berdua tahu, ini bukanlah akhir, tetapi sebuah ujian bagi cinta mereka.

Dengan penuh harapan, Rusli berangkat meninggalkan kota kelahirannya, dan Warni pun tetap tinggal, menjaga janji mereka. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, dan Warni terus menunggu. Tidak ada keraguan di hatinya, meskipun godaan datang silih berganti. Tiga lelaki datang melamarnya, dengan segala alasan dan perhatian mereka, namun hati Warni hanya untuk Rusli. Setiap kali, dengan tegas, ia menolak mereka.

Suatu hari, kabar tentang lamaran itu sampai ke telinga Rusli. Komunikasi antara Rusli dan Warni terjalin baik dan lancar. Saat Warni memberitahu ada yang datang melamarnya, Rusli dengan tegas meminta untuk menolak sebab setelah kembali ke kampung dia yang akan melamarnya. Pernyataan dari Rusli membuat Warni semakin yakin dan percaya pada Rusli, dia pun terus menunggu dengan sabar.

Waktu terus berlalu, dan Rusli semakin lama semakin jarang mengirimkan kabar. Tetapi, Warni tetap setia menunggu. Hari-harinya dipenuhi dengan doa dan harapan, percaya bahwa cinta mereka akan diuji dan akhirnya berbuah manis. Meskipun godaan dan cobaan datang, ia tetap tidak tergoyahkan.

Setelah bertahun-tahun menunggu, tidak terasa kisah cinta mereka sudah berjalan selama 13 tahun. Warni masih setia dengan kesendiriannya demi janjinya pada seorang pria bernama Rusli. Namun, saat kembali ke Bantaeng, Kapten kapal yang ditunggu-tunggu itu, tidak memberitahu Warni. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru agama justru mendapat kabar bahwa Rusli sudah datang dan sudah melamar perempuan bernama Kasma. Persiapannya sudah 90 persen, undangan sudah beredar.

Hati dan perasaan Warni hancur, penantiannya selama 13 tahun berakhir dengan penghianatan. Keluarganya tentu saja tidak tinggal diam melihat Warni di sakiti. Mereka pun mendatangi rumah Rusli dan meminta pertanggungjawaban sebab sudah meyakinkan Warni untuk melamarnya.

Tidak bisa disangkal, hati Rusli memang terbelah antara Kasma, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun dan Warni yang selalu setia menunggu. Terkadang, perasaan memang bisa berubah seiring waktu, meskipun Rusli masih menyayangi Warni, ia juga merasa terikat dengan Kasma yang selama ini telah menemani perjalanan hidupnya, mereka bertiga tinggal di kampung yang sama.

Tekanan keluarga Warni akhirnya membuat Rusli tersadar. Apa yang ia lakukan ini memang tidak bisa dibenarkan. Warni telah memberikan segalanya—kesetiaan, cinta, dan waktu yang berharga dan kini ia harus menerima konsekuensi dari tindakannya.

Akhirnya Rusli pun melamar Warni dengan memberikan mahar yang sama seperti Kasma, uang panaiks sebesar Rp90 juta. Meskipun dia melamar Kasma lebih dulu, tetapi yang pertama dia nikahi adalah Warni. RUsli dan Warni menikah tanggal 5 Oktober 2025, sementara Kasma dinikahi dua hari setelahnya yakni tanggal 7 Oktober 2025.

Pernikahan pun dilangsungkan, dengan Warni menjadi istri pertama dan Kasma sebagai istri kedua. Pernikahan Warni dilangsungkan di rumahnya, dengan keluarga besar yang datang memberi restu meskipun ada rasa kecewa yang dalam. Dua hari setelah pernikahan Warni, pesta kembali diadakan di rumah Kasma, dengan suasana yang lebih ceria, meskipun ada keraguan yang tersirat di hati banyak orang.

Kabar pernikahan yang tak biasa ini langsung menyebar luas di media sosial. Tidak sedikit yang mengkritik keputusan Warni dan Rusli. Banyak yang menyalahkan Warni karena tetap menerima Rusli yang telah mengkhianati kepercayaannya. Mereka menganggap Warni terlalu mengalah dan tidak menghargai dirinya sendiri. Di sisi lain, banyak yang juga menyalahkan Rusli, menganggapnya sebagai lelaki yang tidak setia dan tidak tahu bagaimana cara menjaga cintanya.

Namun, di balik semua kritik dan kecaman itu, Warni dan Rusli tetap menjalani hidup mereka. Warni merasa bahwa pernikahannya dengan Rusli adalah pilihan yang harus ia jalani, meskipun luka itu takkan pernah hilang. Rusli, meskipun telah mendapat dua wanita yang ia cintai, juga harus menerima bahwa keputusannya membuat banyak hati terluka, termasuk hatinya sendiri.

Meskipun banyak yang menganggap kisah ini sebagai kisah cinta yang penuh pengkhianatan, bagi Warni, ini adalah pelajaran tentang cinta yang rumit dan penuh pengorbanan. Ia belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia, dan terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi pilihan yang ada dan tetap berjalan meskipun jalannya penuh liku.

Continue Reading

Kisah Haru Wanda Hamidah Berlayar ke Gaza, Kapal Bocor dan BBM Jatuh

Wanda Hamidah, aktris sekaligus politisi asal Indonesia, menempuh perjalanan panjang bersama aktivis dari berbagai negara untuk menembus blokade Gaza, sebuah misi penuh rintangan dan ujian keteguhan.

Sejak meninggalkan pelabuhan Tunisia, dalam satu misi kemanusiaan Clobal Sumud Flotilla. Sebagai satu-satunya delegasi Indonesia, Wanda Hamidah ikut berlayar menuju Gaza. Namun perjalanan panjang itu penuh ujian. Kapal Kaiseer yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar, sementara cadangan BBM jatuh ke laut. Akhirnya, kapal harus menepi dan berlabuh darurat di Kelibia, Tunisia.

Tak butuh waktu lama setelah masalah BBM teratasi, pelayaran kembali dilanjutkan. Namun di tengah perjalanan, ujian lain datang kapal kembali bermasalah, air laut merembes masuk ke dalam lambung kapal. Sesaat suasana panik, namun akhirnya semua berusaha tenang dan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Akhirnya, kapal berlabuh di Pelabuhan Portopala, Sisilia, Italia pada Sabtu (20/9/2025). Menurut Wanda Hamidah, karena hari itu bertepatan dengan hari libur, para aktivis penumpang kapal Kaiseer terpaksa bermalam sambil menunggu perbaikan dilakukan. Kondisi tersebut tidak mengurungkan semangatnya untuk tetap berlayar ke Gaza, para relawan bertekad bisa menyampaikan misi kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza.

Melalui media sosial instagramnya @wandahamidahbsa, ibu dari empat orang anak ini, mengatakan sehari di Portopala, mekanik yang memperbaiki kapal Kaisser, disarankan untuk diperbaiki di atas laut. Sehingga para penumpang tinggal di Itali. Katanya bukan hanya kapal yang ditumpanginya, masih ada kapal lain seperti kapal Yaman, kapal Nusantara, dan Aladin yang baru mendarat karena kerusakan maupun untuk pengisian BBM.

‘Dengan kondisi ini, kami belum tahu nasib kami, apakah harus berlayar ke Gaza atau perjuangan kami berhenti disini,” katanya.

Diketahui bersama Wanda Hamidah meninggalkan Indonesia, bersama 33 delegasi menuju Tunisia akhir Agustus 2025 kemarin. Di sana mereka bergabung dengan sejumlah aktivis kemanusiaan dari 44 negara, untuk berlayar me

Continue Reading

Alhamdulillah! PBB Akui Palestina Merdeka, Suara 142 Negara Bergema

Melihat asap membumbung di langit Gaza, gedung-gedung roboh, rumah penduduk hancur rata dengan tanah. Anak-anak banyak yang kehilangan orang tuanya dan orang tua kehilangan anaknya. Pemandangan memilukan tentu saja mengiris hati kita semua yang menyaksikannya. Peristiwa kejam yang menimpa warga Palestina seolah mengetuk mata hati kita, mengingatkan agar terus menumbuhkan empati.

Di Gaza, kehidupan berjalan dalam kepingan-kepingan luka. Genosida 2023 meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus ribuan nyawa melayang, rumah-rumah menjadi puing, dan suara tawa anak-anak berganti tangis pilu. Blokade panjang mencekik setiap pintu masuk kehidupan. Obat-obatan tertahan di perbatasan, pangan langka, dan air bersih menjadi kemewahan yang tak semua bisa nikmati. Kelaparan mengintai, membuat para ibu lebih sering menahan lapar demi memberi sesuap roti kepada anak-anaknya.

Namun, harapan mereka rakyat Gaza dan Palestina tidak pernah padam. Mereka terus yakin dan percaya bahwa dunia akan membantu dan meringankan bebannya. Mereka tidak pernah merasa sendiri, meskipun hidupnya tidak pernah tenang. Setiap jam dihantui Bom dan peluru yang setiap saat bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Pada hari Jumat 12 September 2025, Majelis Umum PBB akhirnya resmi menyebut nama Palestina sebagai negara merdeka, hal itu disampaikan pada Deklarasi New York. Pernyataan itu pun, tentu saja menghadirkan Kebahagiaan pada warga warga Gaza dan seluruh negara yang berharap Palestina segera pulih.

Sebanyak 142 negara, berdiri dan mengakui Palsetina sebagai bangsa merdeka dan sebagai bangsa yang sah. Dalam pemungutan suara tersebut, tercatat 10 negaradan 12 negara di antaranya memilih abstain. Deklarasi New York hadir bukan sekadar teks diplomatik. Ia menjadi payung harapan bagi bangsa yang terlalu lama dipaksa hidup dalam reruntuhan.

Deklarasi New York ibarat jembatan yang dirajut dari serpihan luka Palestina menuju harapan baru. Dari ruang-ruang yang pernah dipenuhi isak tangis Gaza, kini dunia mencoba menghadirkan solusi bagi dua negara sebagai janji dalam damai. Meski luka genosida masih menganga, dokumen ini menjadi penanda bahwa dunia tidak tinggal diam, suara-suara kecil dari reruntuhan akhirnya menggema hingga ke podium tertinggi umat manusia.

Dukungan 142 negara seolah membuat Palestina terlahir kembali bukan dengan pesta melainkan dari air mata yang dipeluk dunia, disitulah kemerdekaan menemukan maknanya. Sebuah bangsa yang berdiri di reruntuhan tetapi, tidak pernah runtuh dari harapan.

Sudah saatnya Palestina hidup merdeka, dari reruntuhan Gaza dari kelaparan dan blokade yang tak pernah berhenti. Harapan tak pernah bisa dibom, dan mimpi tentang negeri yang bebas tak pernah bisa ditembak. Palestina mungkin tak lahir dari pesta meriah, tapi dari air mata yang dipeluk dunia. Sebanyak 142 negara menjadi saksi, bahwa di balik luka panjang, sebuah bangsa tetap bisa berdiri dan “Merdeka.”

10 Negara yang Menolak

1. Amerika Serikat                                                    6.  Paraguay
2. Israel                                                                       7.  Mikronesia
3. Hungaria                                                                8.  Palau
4. Nauru                                                                      9.  Papua Nugini
5. Argentina                                                               10. Nauru

12 Negara yang Abstain

1. Albania                                                                   7. Guatemala
2. Kamerun                                                                8. Moldova
3. Ekuador                                                                  9. Makedonia Utara
4. Kongo                                                                     10. Samoa
5. Ethiopia                                                                  11. Sudan Selatan
6. Fiji                                                                            12. Republik Ceko

Continue Reading

Dari Indonesia ke Gaza, Langkah Nyata Wanda Hamidah Menembus Blokade

Penuh haru, aktris yang juga aktivis asal Indonesia Wanda Hamidah berlayar ke Gaza, dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Dia bersama 33 aktivis meninggalkan tanah air, menuju Tunisia akhir Agustus 2025.

Di negara yang terkenal dengan pasar bukunya, Wanda Hamidah bergabung bersama para aktivis kemanusiaan dari 44 negara. Mereka mengikuti pelatihan intensif selama dua pekan, mempersiapkan diri menghadapi tantangan berat di lautan lepas.

Namun, kabar terbaru menyebutkan bahwa relawan Indonesia pada akhirnya tidak ikut berlayar langsung karena berbagai kendala dan tantangan teknis. Sebagai bentuk kontribusi nyata, mereka menyerahkan lima kapal untuk digunakan para aktivis yang telah berpengalaman dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Keputusan ini menunjukkan bahwa dukungan untuk Palestina tidak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik, tetapi juga dalam kontribusi logistik yang sangat vital. Dengan adanya kapal tambahan, peluang bantuan sampai ke Gaza semakin terbuka.

Tak mudah, namun Wanda Hamidah memilih bertahan. Dua pekan penuh penantian di Tunisia, akhirnya terbayar saat namanya tercatat sebagai penumpang Kapal Kaiser Selasa (16/9), ia berlayar menuju Gaza bersama aktivis dari Tunisia hingga Turki. Dalam perjalanan penuh risiko itu, Wanda menjadi satu-satunya perempuan yang mengibarkan semangat kemanusiaan di atas kapal. Air matanya pun tumpah saat dipeluk rekan-rekannya,

Hari itu, pelabuhan menjadi saksi bisu sebuah perpisahan yang penuh makna. Rekan-rekan sesama aktivis mengiringi langkah Wanda Hamidah menuju kapal yang akan membawanya dalam misi kemanusiaan. Mereka saling berpelukan erat, menetaskan air mata, dan mengucapkan doa-doa penuh harap.

Tangisan yang pecah bukanlah tanda kelemahan, melainkan ungkapan cinta dan kepedulian. Semua berharap agar perjalanan berbahaya itu berjalan lancar agar bantuan bisa sampai ke tangan rakyat Gaza, Wanda bersama rombongan relawan dapat kembali pulang ke tanah air dengan selamat.

Kabar Wanda Hamidah ikut berlayar ke Gaza segera disambut luas oleh masyarakat Indonesia. Dukungan mengalir deras, baik di media sosial maupun lewat doa yang dipanjatkan. Banyak yang bangga karena ada perwakilan dari Indonesia yang hadir langsung menunjukkan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Global Sumud Flotilla merupakan gerakan relawan internasional, yang bertujuan mematahkan blokade di Gaza dan meminta agar genosida di Palestina segera dihentikan. Aktivis kemanusiaan dari berbagai negara mengikuti pelatihan di Tunisia termasuk aktivis dari Indonesia.

Kenapa Wanda Hamidah yang Ikut Berlayar?

Dari 33 delegasi Indonesia yang berada di Tunisia, hanya Wanda Hamidah satu-satunya yang terpilih ikut berlayar menembus blokade Gaza. Kenapa?
Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Muhammad Husain menjelaskan, harusnya 30 delegasi yang ikut berlayar. Namun, hanya Wanda yang ikut berlayar. Sebab dari kesepakatan awal melihat kondisi tidak efektif. Banyak kapal yang rusak di Tunisia akibat cuaca, kapal yang bergerak dari Spanyol melalui badai dan cuaca buruk mengakibatkan kapal rusak.

Sehingga ketika sampai di Tunisia, para delegasi tersebut harus mencari kapal baru.Sementara peserta dari berbagai negara membludak. “Indonesia menarik delegasinya dan menyerahkan kapal, sebab itu dianggap langkah strategis.” katanya.

Menurut Husain, aksi kemanusiaan itu komposisinya 47 negara. Delegasi Indonesia memprioritaskan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk politik begaining, sebagai bentuk tekanan politik.

“Ini bukan perkara kita naik kapal atau tidak, tetapi bagaiaman bisa mensukseskan misi besar yang dilakukan secara bersama-sama. Wanda Hamidah, ikut berlayar sebab dia memiliki politik bergainning, dia mantan anggota DPR dan menurut steering comitte, yang diutamakan ikut berlayar mereka yang memiliki strong figure.” katanya.

Continue Reading

50 Kapal, Seribu Doa untuk Gaza

Ada sesuatu yang menggetarkan hati saat mendengar kabar ini, Saya sering memantau perkembangan rakyat palestina, masyarakat Gaza melalui media sosial. Seringkali teriris saat melihat kondisi saudara-saudara kita di sana.

Mereka kehilangan rumah, kehilangan keluarga hanya dalam hitungan jam. Bayangan senyum berubah menjadi jerit. Atap tempat berlindung, luluh lantak menjadi debu.

Sungguh terluka hati ini, mendengarnya Ya Allah. Mereka yang masih hidup seakan dipaksa untuk menyerah, bukan oleh tembakan peluru, tetapi karena kelaparan berkepanjangan.

Anak-anak tetap semangat menunggu roti yang tak pernah tiba, sementara para orang tua hanya bisa menatap kosong dan terus berdoa agar besok masih bisa tetap bertahan hidup.

Sebenarnya bantuan dari berbagai negara selalu ada, tetapi blokade membuat Gaza tetap kosong. Dunia seakan ingin memberi, namun dinding besi seolah menghalanginya. Kondisi ini, sungguh menyakitkan dan melukai hati bukan hanya warga Gaza, tetapi semua umat Islam di dunia.

Ketika program kemanusiaan Global Sumud Flotilla di gencarkan, dunia seolah diingatkan bahwa kemanusiaan tidak boleh mati. Harus terus diperjuangkan.Para relawan dan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara, mulai menggencarkan program ini.

Dari 44 negara, aktivis dan para relawan bersatu. Mereka tida peduli perbedaan, tujuannya hanya satu mengantarkan harapan ke Gaza. Awal September, awal dimulainya gerakan. Sejumlah aktivis berkumpul di Tunisia, mereka mengikuti training, persiapan berlayar ke Gaza.

Kita semua tahu, resikonya sangat besar. Namun, bagi mereka yang memiliki tekad besar, menyala dan membara, tentu saja akan menjadikannya kuat. Sebab yang mereka bawa bukan sekadar bantuan, melainkan sebuah pesan untuk dunia bahwa blokade tidak bisa membungkam solidaritas.

Sebanyak 50 kapal siap berlayar menembus blokade Gaza, pada Ahad 7 September 2025. Bukan kapal perang, bukan pula kapal dagang, melainkan armada kemanusiaan yang dipenuhi doa dari berbagai penjuru dunia.

Dari Indonesia ada sekitar lima buah kapal, yang masing-masing kapal diberi nama pejuang nasional. Sungguh luar biasa semangat mereka. Kita yang tidak ikut ke sana, bisa terus memberikan dukungan dan doa.

Melihat persiapan kapal-kapal tersebut di dunia maya, saya membayangkan ada seribu doa mengiringi. Doa para ibu yang kehilangan anak-anaknya, doa anak yang ingin bermain tanpa dentuman Bom. Ada doa orang di luar sana, yang tidak bisa hadir secara fisik, namun hatinya tertambat di Palestina.

Laut akan menjadi saksi,kemanusiaan tidak pernah mati.Lima puluh kapal berlayar sebagai saksi bahwa Gaza tidak sendiri.

Bukan sekadar kapal, dia armada harapan. Sebanyak 50 layar dibentangkan menantang ombak dan dinding blokade demi Gaza yang merintih.

Armada itu, bukan sekadar deretan kapal, tetapi simbol perlawanan. Mereka berlayar mengusung keberanian, mereka akan mengukur cerita bahwa kemanusiaan tidak boleh di blokade.

Continue Reading

Affan dan Dandi, Dua Nama, Dua Kota, Satu Takdir

Tragedi Aksi Akhir Agustus 2025

Di dua kota yang berbeda, dua nama terukir dalam duka yang sama. Rusdamdiansyah atau Dandi, seorang driver Ojol di Makassar, Affan Kurniawan di Jakarta. Mereka hanyalah pencari nafkah di jalanan, namun malam itu jalan justru menjadi saksi bisu kepergian mereka.

Affan, seorang driver ojek online berusia 21 tahun, setiap hari meninggalkan rumah dengan satu tujuan mencari nafkah demi keluarganya. Hidup dalam keterbatasan tak membuatnya menyerah, justru menggerakkan hatinya untuk ikut membantu sang ayah yang juga bekerja sebagai driver. Di balik tubuh mudanya yang letih, tersimpan tekad sederhana agar keluarganya bisa bertahan.

Siapa sangka langkahnya begitu cepat terhenti, semangat juangnya pun terkubur bersama raganya. Affan menjadi korban ketidakadilan aparat kepolisian. Malam itu, Kamis 28 Agustus 2025, ia tak pernah berniat ikut berteriak dalam barisan demonstrasi. Ia hanya sedang menjalankan tugasnya, mengantarkan pesanan yang dipesan seorang pelanggan. Namun, takdir berkata lain ketika kendaraan taktis milik Brimob melintas, tubuh ringkihnya tak mampu menghindar. Roda besi itu menghentikan hidupnya.

Affan meninggal. Kepergiannya yang tragis tak hanya meninggalkan duka di rumah kecil tempat ia dibesarkan, tetapi juga menghadirkan luka mendalam di hati masyarakat Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Seorang anak muda yang seharusnya pulang dengan senyum dan hasil jerih payah, justru pulang dalam keheningan kafan.

Rakyat pun marah, rakyat murka. Dari Makassar hingga Jakarta, dari pelosok desa hingga jalanan kota, nama Affan disebut dengan getir. Ia bukan lagi sekadar driver ojek online berusia 21 tahun yang bekerja demi keluarga, melainkan simbol ketidakadilan yang merenggut masa depan seorang anak bangsa.

Bagi rakyat, Affan bukan hanya korban, ia adalah wajah perlawanan, suara yang dibungkam oleh kekerasan, dan jiwa yang harus diperjuangkan agar keadilan tak sekadar jadi kata tanpa makna.

Dimata Zulkifli, ayah kandung Affan, anak kedua dari empat bersaudara itu, memiliki sosok yang penyayang, dan perhatian terhadap keluarganya. Baik kepada semua orang dan tidak pernah berkata kasar, sekalipun sedang kesal. Affan tidak pernah mau terlibat dalam aksi kekerasan, hari itu tidak pernah dia mengatakan akan mengikuti demo, atau ikut menonton.

Bagi ayahnya, Affan bukan hanya seorang anak, ia adalah tulang punggung kecil bagi keluarganya. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ia selalu berusaha membantu keuangan rumah, bahkan tak jarang ia ikut membantu ayahnya mencicil kendaraan yang mereka gunakan bergantian untuk bekerja sebagai driver ojek online.

Di sejumlah wawancara, Zulkifli ayah Affan kerap merasa bangga sekaligus terharu, memiliki anak yang begitu peduli di usia yang masih belia. Baginya, Affan adalah anugerah, penopang semangat dan harapan di tengah hidup yang serba kekurangan.

Kabar duka yang datang malam itu, terasa mustahil dipercaya. Seolah bumi runtuh, sang ayah tak kuasa menerima kenyataan bahwa anak yang baru saja berangkat mencari nafkah, kini telah tiada. Affan pergi secara tragis, meregang nyawa di tengah aksi yang ricuh di depan gedung DPR RI, meninggalkan luka yang tak akan pernah terhapus dari hati keluarganya.

Rusdamdiansyah Tewas Dipukuli Dikira Intel

Di Makassar, ada seorang pemuda bernama Muhammad Rusdamdiansyah, akrab disapa Dandi. Sehari-hari ia mengais rezeki dari jalanan kota sebagai driver ojek online (Grab). Panas terik, hujan deras, hingga malam larut yang sepi sudah menjadi sahabatnya dalam mencari nafkah.

Karena itu, Dandi memilih diam di rumah. Kata Reza, adik iparnya, hari itu ia tidak keluar mencari orderan dan menghabiskan Waktu dengan tiduran, seolah ingin menghindar dari hiruk pikuk kota yang sudah dipenuhi kabar kerusuhan. Hingga menjelang senja, sekitar pukul 17.00, ia terbangun dari tidur siang.

Rumah tempat Dandi tinggal memang tak jauh dari titik aksi mahasiswa, hanya terpisah lorong sempit. Niatnya sederhana, mungkin sekadar ingin melihat-lihat situasi. Malam itu ia bahkan hanya berjalan kaki, tanpa rencana besar selain menonton aksi.

Namun siapa sangka, langkah singkat itu justru menyeretnya ke dalam tragedi. Menjelang malam, di tengah kericuhan yang makin panas, tiba-tiba teriakan pecah dari kerumunan, “Intel!” Suara itu menggema, memicu amarah yang sudah membara.

Dandi, pemuda 25 tahun itu, seketika menjadi sasaran. Massa yang kalap tak lagi peduli benar atau salah. Emosi yang menutup akal sehat menjelma menjadi kekerasan. Mereka menghajar Dandi tanpa ampun, memukul kepalanya dengan benda tumpul. Tubuh yang sebelumnya hanya berniat keluar untuk melihat aksi, menjadi korban salah sangka yang mematikan.

Tubuhnya terbujur kaku, saat itupula seseorang melarikannya ke rumah sakit terdekat. Namun,tidak tertolong. Menurut Reza, ada yang menghubungi menggunakan handphone Dandi. Dia mengabarkan bahwa saudaranya sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Tapi, keluarganya tidak percaya.

Dandi sempat menjalani perawatan medis, namun kondisinya terus menurun hingga dinyatakan meninggal Sabtu 30 Agustus 2025, dia menjadi korban setelah dituduh sebagai intel saat unjuk rasa di depan kampus UMI yang berujung ricuh.

Affan dan Dandi telah pergi dengan cara yang tak pernah kita bayangkan. Dua anak bangsa yang sederhana, pekerja keras, yang hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga. Namun, takdir menjemput mereka di tengah hiruk-pikuk bangsa yang sedang bergolak.

Kepergian mereka bukan sekadar duka bagi keluarga, tetapi juga cambuk bagi kita semua betapa mudahnya nyawa melayang saat amarah menguasai dan keadilan abai ditegakkan.

Ya Allah, ampunilah mereka, lapangkanlah kuburnya, jadikanlah setiap langkah mereka sebagai amal jariyah, dan tempatkanlah mereka di sisi-Mu. Semoga kita yang ditinggalkan, bisa belajar untuk lebih bijak menjaga persaudaraan, menahan amarah, dan menegakkan kebenaran dengan cara yang Engkau Ridhohi.

Continue Reading

Catatan Hati dari Tiga Hari yang Mengguncang

Pemimpin Lupa Amanah, Rakyat Lupa Akhlak

Agustus tahun 2025, bukan hanya bulan kemerdekaan ke-80 Indonesia, tetapi juga bulan ujian bagi bangsa. Di saat kita seharusnya mengenang darah dan air mata para pejuang, justru negeri ini diguncang oleh rentetan peristiwa yang menyayat hati.

Ada pembunuhan sadis terhadap rakyat kecil, ada penindasan, penjarahan, konflik, dan wajah wakil rakyat yang dipertanyakan keberpihakannya.

Tiga hari menjelang pergantian bulan, tepatnya 28 Agustus 2025, merupakan awal dari bergejolaknya amarah. Di tengah semangat merah putih yang berkibar, kita dipaksa menunduk, mengenang perjuangan mereka yang rela mengorbankan jiwa demi negeri, sekaligus menyadari betapa mudahnya rasa aman yang diwariskan itu bisa terusik oleh tragedi.

Awal demo dimulai sejak Senin 25 Agustus 2025, yang bertajuk Revolusi Rakyat Indonesia berlangsung di depan gedung DPR RI. Ribuan massa turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sorotan utama tertuju pada rencana kenaikan tunjangan wakil rakyat, di tengah kondisi ekonomi nasional yang justru sedang tidak baik-baik saja, dan pajak naik.

Aksi tersebut terus berlanjut hingga Kamis malam, 28 Agustus 2025, yang kemudian menjadi sebuah peristiwa memilukan. Di tengah keriuhan demonstrasi yang memanas, kerusuhan tak terelakkan. Saat itu, seorang driver ojek online tanpa sengaja terjebak di antara lautan massa. Ia hanya berniat menyeberang jalan untuk mengantarkan pesanan kepada pelanggan, namun takdir membawanya pada kejadian yang tak pernah ia bayangkan.

Namanya Affan Kurniawan, dia tewas terlindas kendaraan taktis milik Brimob. Semua hati rakyat di seluruh Indonesia ikut teriris. Aksi pun berlanjut di hari berikutnya, amarah rakyat semakin tak terbendung. Mahasiswa di sejumlah kota besar di Indonesia, turun ke jalan. Mereka menyuarakan keadilan atas meninggalnya Affan Kurniawan.

Aksi berlangsung tak mengenal waktu, dari pagi hingga sore hari mahasiswa berkumpul di jalan membakar Ban. Menghambat arus lalu lintas, banyak warga yang mengeluh, dari pagi meninggalkan rumah menuju kantor, pulang sore mereka terjebak macet hingga malam. Mereka berusaha mencari jalan lain, namun tetap saja macet tak terbendung. Banyak masyarakat yang memilih diam menunggu demo berakhir.

Namun, semakin malam, aksi semakin seru, dan mulai memanas. Bukan hanya itu, aksi yang tadinya damai, berujung rusuh. Tercatat dalam sejarah akhir Agustus pada hari Jumat, tanggal 29. Aksi itu keluar dari kendali, massa bertindak anarkis, mereka merusak fasilitas umum, mendatangi kantor wakil rakyat, membakar kendaraan di area parkir, hingga melalap kantor DPRD dengan api.

Kantor DPRD Makassar hancur, tidak ada satupun yang tersisa. Semua arsip, berkas penting hilang. Mereka tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Betapa susahnya para staf mengarsipkan berkas, surat-surat penting dari tahun ke tahun.

Massa melampiaskan kemarahan dengan membakar gedung DPRD Makassar, puluhan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Banyak yang mendukung mahasiswa perjuangkan keadilan, tetapi banyak juga yang menyesali terjadinya pengrusakan, pembakaran hingga mengakibatkan orang yang tak bersalah menjadi korban.

Di gedung megah itu, aksi sudah menjadi pemandangan yang tak asing. Masyarakat kerap datang mengadu, berteriak, bahkan tak jarang bertindak anarkis dengan memecahkan kaca atau merusak ruangan. Namun, belum pernah sekalipun gedung tempat wakil rakyat bekerja dilalap api, sebab biasanya aparat sigap menghadang, berusaha sekuat tenaga menenangkan massa agar tetap menyampaikan aspirasi tanpa kebablasan.

Tetapi, Jumat malam suasananya berbeda. Api benar-benar menyala, seolah ada pembiaran bahkan terkesan ada unsur kesengajaan, hingga akhirnya massa lain ikut terprovokasi dan semuanya menjadi abu.

Empat nyawa melayang sia-sia, mereka tidak bersalah. Mereka tidak bersalah, tidak ikut dalam anarkisme, hanya berusaha menyelamatkan diri. Namun kealpaan negara dan ulah segelintir oknum membuat mereka menjadi korban.

Di titik ini, pertanyaan yang mengusik hati, siapa yang pantas disalahkan? Siapa dalang dari pembakaran ini? Apakah murni ledakan amarah rakyat, atau ada tangan-tangan lain yang sengaja meniup bara hingga menjelma menjadi api?

Namun satu hal yang pasti, tak ada rahasia di hadapan Allah. Apa yang disembunyikan manusia, tetap tercatat di Lauhul Mahfuz. Mereka yang berbuat zalim, mereka yang menabur fitnah, dan mereka yang bermain di balik layar, kelak akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan-Nya. Dunia mungkin bisa menipu, tetapi akhirat adalah kepastian.

Continue Reading

Dari Gedung yang Hangus, Empat Ruh Terangkat ke Langit

Innalillahi waiinailaihi rojiun, 

Ya, Allah..

Makassar sedang rusuh, masyarakatnya sedang memperjuangkan keadilan. Gedung megah dibakar, tiga nyawa melayang. Sudah benarkah langkah mereka, ya Allah?

Malam itu, kota ini dipenuhi teriakan dan bara. Suara mahasiswa yang menuntut keadilan melakukan aksi hingga malam hari, perjuangannya cukup panjang. Menutup jalan, menimbulkan kemacetan di seluruh ruas jalan. Masyarakat yang sejak pagi pulang kerja terjebak macet.

Namun di tengah riuh itu, api menjalar, meruntuhkan dinding gedung DPRD yang siang tadi masih gagah berdiri. Peristiwa itu, terjadi Jumat (29/8/2025) saat para pejabat berkumpul di sana sedang mengikuti rapat Paripurna.

Sungguh menyedihkan. Ya Allah.

Ditemukan tiga orang  meninggal di dalamnya. Mereka bukanlah penguasa, bukan pula pembuat kebijakan. Mereka hanyalah pekerja biasa. Seorang staf, pegawai, dan penjaga yang setiap hari datang untuk mencari nafkah. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Sarina merupakan staf komisi yang berugas di kantor wakil rakyat, Akbar salah seorang staf fotografer dibagian Humas, sementara yang satunya lagi, Kepala Seksi Bidang Kesra kantor Camat Ujung Tanah, namanya Syaiful. Mereka orang-orang baik, mereka tidak bersalah, tetapi kini mereka telah pulang lebih dulu, di Tengah kobaran api. Mereka datang menghadap Mu.

Ya, Allah, merinding rasanya tubuh ini, gedung itu mungkin bisa dibangun kembali, tapi tiga nyawa itu tidak. Kepergian mereka meninggalkan duka yang dalam. Mereka dinantikan oleh keluarganya pulang dengan selamat. Orang tua mereka merindukan anaknya.

Ya Allah, apakah ini sebuah peringatan bagi kami. Bahwa dalam memperjuangkan sesuatu yang besar, jangan sampai kami kehilangan nurani. Dalam menuntut keadilan, jangan sampai ada yang tak bersalah justru menjadi korban.

Kami berdoa, semoga Engkau menerima mereka dengan husnul khatimah. Semoga Engkau lapangkan kuburnya, ampuni dosanya, dan jadikan setiap tetes air mata keluarga mereka sebagai penghapus dosa dan penambah pahala.

Ya Allah, Makassar boleh saja kembali tenang setelah ini. Api boleh padam, gedung boleh direnovasi. Tapi duka keluarga yang ditinggalkan, hanya Engkau yang bisa menyembuhkannya.

 

 

Continue Reading