Wisuda Hubaib, Hadiah untuk Dua Nama yang Dirindukan

Di antara deretan santri yang mengenakan pakaian jubah berwarna putih, berjalan ke atas panggung.

Ada seorang remaja bernama Andi Hubaib Dzaki Al Assrof. Ia merupakan Santri Pesantren Tahfizh Qur’an, yayasan Al-Munir Wahdah Islamiyah.

Dari vidio wisuda yang dikirimkan ke saya, kulihat Wajahnya tampak tenang. Sesekali ia tersenyum ketika namanya dipanggil.

Namun di balik momen bahagia itu, ada ruang kosong yang tak dapat diisi oleh siapa pun.

Hari wisuda santri, biasanya menjadi saat yang dinanti setiap orang tua. Mereka datang dengan mata berbinar, mengabadikan setiap langkah anaknya menuju panggung.

Namun hari itu, Hubaib harus menerima kenyataan bahwa dua orang yang paling ingin melihat keberhasilannya telah lebih dulu pergi.

Hubaib, anak ketiga dari pasangan almarhum Andi Amran Mansyur dan almarhumah Mely Kristalina. Perjalanan hidupnya berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Pada tahun 2023, enam bulan setelah kepergian sang ibu, ia memulai kehidupan baru sebagai santri di Pesantren Tahfizh Qur”an An Nail, Yayasan Al Munir, Wahdah Islamiyah, Kabupaten Gowa.

Keputusan memasuki pesantren bukanlah langkah yang mudah. Saat sebagian anak seusianya masih berusaha menerima kehilangan, Hubaib harus belajar berdiri lebih kuat.

Ia meninggalkan rumah, lingkungan yang akrab, dan membawa luka yang masih terasa segar. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan harapan bahwa ilmu dan pendidikan agama akan menjadi bekal untuk masa depannya.

Hari-hari di pesantren mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya tentang pelajaran dan hafalan, tetapi juga tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati.

Setiap kali rasa rindu kepada ibunya datang, ia belajar menenangkannya dengan doa. Setiap kali merasa lelah, ia mengingat pesan-pesan baik yang pernah diberikan keluarganya.

Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Hubaib tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Namun ujian hidup kembali menghampirinya.

Delapan bulan sebelum hari wisudanya, sang ayah menyusul ibunya untuk selama-lamanya.

Kehilangan kedua orang tua tentu bukan hal yang mudah diterima oleh siapa pun, terlebih bagi seorang remaja yang masih membutuhkan tempat bersandar.

Akan tetapi, kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan dapat ditempuh dengan lengkap. Ada langkah-langkah yang harus diteruskan meski orang-orang tercinta tak lagi berjalan di samping kita.

Di hari penamatan, ketika namanya dipanggil, yang terlihat oleh banyak orang mungkin hanyalah seorang santri yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Namun sesungguhnya, ada cerita panjang tentang kehilangan, ketabahan, dan perjuangan yang turut berjalan bersamanya menuju panggung.

Mungkin tidak ada tepuk tangan dari ayah dan ibunya di ruangan itu. Tidak ada pelukan yang menunggu setelah acara selesai. Tetapi ada sesuatu yang tetap hadir, cinta yang telah mereka tanamkan sejak dulu.

Wisuda ini bukan sekadar tanda berakhirnya masa belajar di pesantren. Ia menjadi bukti bahwa seorang anak dapat tetap melangkah meski berkali-kali diuji oleh kehilangan.

Duka tidak selalu menghentikan perjalanan seseorang. Kadang, duka justru menjadi alasan untuk terus melanjutkan mimpi.

Bagi Hubaib, hari itu mungkin adalah pertemuan antara bahagia dan rindu dalam waktu yang bersamaan.

Bahagia karena berhasil sampai di garis pencapaian. Rindu karena dua orang yang paling pantas menyaksikan momen itu tidak lagi berada di dunia yang sama.

Namun satu hal yang pasti, setiap ayat yang dipelajari, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap kebaikan yang dilakukan kelak akan menjadi hadiah yang tak pernah putus untuk kedua orang tuanya.

Dan mungkin, dari tempat terbaik di sisi Allah, Ayah dan Ibu sedang tersenyum bangga melihat putra mereka berdiri tegak, melanjutkan hidup dengan penuh keberanian.

Banyak selamat untukmu, Nak. Sukses hari ini dan sukses dimasa-masa mendatang.

Continue Reading

Dari Tangan Kecil ke Toga Sarjana

Hari ini, dari jarak yang lumayan jauh, aku menyaksikan sebuah momen yang begitu berharga. Keponakanku, Mona Putri Yudifa, resmi menyandang gelar sarjana muda. Sebuah capaian yang tidak hanya membuatnya bangga, tapi juga kami yang membersamainya sejak ia masih kecil sangat bangga, bangga di atas segalanya.

Sejak kecil, membersamainya, menemani masa-masa tumbuhnya, mendengar celotehnya, melihat tingkah lakunya yang ceria, keras kepala kadang-kadang, tapi selalu punya semangat besar dalam hal belajar.

Aku masih ingat bagaimana dia dulu sering bertanya tentang hal-hal kecil dalam hidup, seakan ingin tahu semuanya sekaligus. Yang kutahu, dia sangat mandiri memilih sekolah sendiri sejak masuk SMP, SMA dan tentunya dengan meminta pendapat kami, dan ujung-ujungnya kami pun setuju dengan pilihannya.

Hari bahagiamu ini, mengingatkanku pada momen beberapa tahun lalu 2021, tepat setelah Mona tamat SMA. Di ruang tamu rumahku yang sederhana, kami duduk bersama membahas masa depannya. Mona, dengan sikapnya yang selalu menghormati orang tua, meminta pendapat kami, pendapat aku dan ibuku. Tentang ke mana ia harus melangkah setelah ini.

Perbincangan berlangsung lama. Sehari, dua hari berlalu tanpa keputusan. Kami ingin memilih yang terbaik untuknya, tapi bingung. Sementara itu, jadwal ujian masuk perguruan tinggi sudah makin dekat.

Di tengah kebuntuan, datanglah sosok yang tak terduga membawa angin segar. Suami dari sepupuku Namanya Bang Yadi. Orangnya santai, suka bercanda, tapi pikirannya tajam dan selalu memberi ide yang di luar dugaan. Dialah yang pertama kali menyarankan Mona untuk mencoba mendaftar ke Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung.

Kami pun mulai menimbang-nimbang saran itu, awalnya kami pikir di kampus itu, hanya untuk cowok, ternyata ada cewek juga. Sepertinya cocok dengan semangat Mona yang tangguh, dan kami setuju asal Mona lulus ujian.

Tak berhenti di situ, Bang Yadi juga menyampaikan ide itu kepada suami sepupuku yang lain, Kak Eko, dia alumni Poltek KP Bitung angkatan pertama yang kini sudah menjadi kapten kapal. Sosoknya tenang, bersahaja, tapi terlihat sangat serius.
Sosok Kak Eko juga sangat mendukung dan memberikan dorongan penuh. Dua abang sepupu kami ini bukan hanya bijaksana, tapi juga dikenal baik hati, penyuka musik, dan jarang marah kecuali saat lagunya dipotong pas karaoke (Hahahaha).

Siapa sangka, dari obrolan di ruang tamu sederhana itu, jalan Mona benar-benar mengarah ke dunia kelautan dan perikanan dan hari ini, perjalanan itu sampai pada titik terang, hari wisuda.

Wisuda bukan hanya tentang menerima ijazah atau memakai toga yang megah. Wisuda merupakan titik dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, tangis, tawa, dan pengorbanan. Mona bukan hanya menjalani kuliah seperti biasa.
Ia melaluinya dengan penuh kerja keras, berdiri di atas kaki sendiri, dan menjaga semangat meski rintangan datang silih berganti.

Melihatnya hari ini, lengkap dengan jubah hitam dan topi segi empat, rasanya seperti menyaksikan bunga yang mulai mekar. Meskipun tidak ada di sana, tidak melihatnya langsung, tetapi setelah dia mengenakan jubah wisuda, foto cantiknya terkirim di ponselku. Aku terharu. Mataku berkaca-kaca, dan doaku semoga ini menjadi awal dari keberhasilan yang lebih besar.

Mona, terima kasih sudah membuat keluarga bangga. Gelar sarjana itu bukan akhir. Ia adalah awal. Awal dari tanggung jawab baru, dari mimpi yang lebih besar, dari kerja keras yang lebih nyata.

Selamat, Mona.
Semoga ijazahmu segera menemukan tempat berlabuh terbaik. Jangan disimpan di laci. Biar dia bekerja.

Continue Reading