Dari Tangan Kecil ke Toga Sarjana

Hari ini, dari jarak yang lumayan jauh, aku menyaksikan sebuah momen yang begitu berharga. Keponakanku, Mona Putri Yudifa, resmi menyandang gelar sarjana muda. Sebuah capaian yang tidak hanya membuatnya bangga, tapi juga kami yang membersamainya sejak ia masih kecil sangat bangga, bangga di atas segalanya.

Sejak kecil, membersamainya, menemani masa-masa tumbuhnya, mendengar celotehnya, melihat tingkah lakunya yang ceria, keras kepala kadang-kadang, tapi selalu punya semangat besar dalam hal belajar.

Aku masih ingat bagaimana dia dulu sering bertanya tentang hal-hal kecil dalam hidup, seakan ingin tahu semuanya sekaligus. Yang kutahu, dia sangat mandiri memilih sekolah sendiri sejak masuk SMP, SMA dan tentunya dengan meminta pendapat kami, dan ujung-ujungnya kami pun setuju dengan pilihannya.

Hari bahagiamu ini, mengingatkanku pada momen beberapa tahun lalu 2021, tepat setelah Mona tamat SMA. Di ruang tamu rumahku yang sederhana, kami duduk bersama membahas masa depannya. Mona, dengan sikapnya yang selalu menghormati orang tua, meminta pendapat kami, pendapat aku dan ibuku. Tentang ke mana ia harus melangkah setelah ini.

Perbincangan berlangsung lama. Sehari, dua hari berlalu tanpa keputusan. Kami ingin memilih yang terbaik untuknya, tapi bingung. Sementara itu, jadwal ujian masuk perguruan tinggi sudah makin dekat.

Di tengah kebuntuan, datanglah sosok yang tak terduga membawa angin segar. Suami dari sepupuku Namanya Bang Yadi. Orangnya santai, suka bercanda, tapi pikirannya tajam dan selalu memberi ide yang di luar dugaan. Dialah yang pertama kali menyarankan Mona untuk mencoba mendaftar ke Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung.

Kami pun mulai menimbang-nimbang saran itu, awalnya kami pikir di kampus itu, hanya untuk cowok, ternyata ada cewek juga. Sepertinya cocok dengan semangat Mona yang tangguh, dan kami setuju asal Mona lulus ujian.

Tak berhenti di situ, Bang Yadi juga menyampaikan ide itu kepada suami sepupuku yang lain, Kak Eko, dia alumni Poltek KP Bitung angkatan pertama yang kini sudah menjadi kapten kapal. Sosoknya tenang, bersahaja, tapi terlihat sangat serius.
Sosok Kak Eko juga sangat mendukung dan memberikan dorongan penuh. Dua abang sepupu kami ini bukan hanya bijaksana, tapi juga dikenal baik hati, penyuka musik, dan jarang marah kecuali saat lagunya dipotong pas karaoke (Hahahaha).

Siapa sangka, dari obrolan di ruang tamu sederhana itu, jalan Mona benar-benar mengarah ke dunia kelautan dan perikanan dan hari ini, perjalanan itu sampai pada titik terang, hari wisuda.

Wisuda bukan hanya tentang menerima ijazah atau memakai toga yang megah. Wisuda merupakan titik dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, tangis, tawa, dan pengorbanan. Mona bukan hanya menjalani kuliah seperti biasa.
Ia melaluinya dengan penuh kerja keras, berdiri di atas kaki sendiri, dan menjaga semangat meski rintangan datang silih berganti.

Melihatnya hari ini, lengkap dengan jubah hitam dan topi segi empat, rasanya seperti menyaksikan bunga yang mulai mekar. Meskipun tidak ada di sana, tidak melihatnya langsung, tetapi setelah dia mengenakan jubah wisuda, foto cantiknya terkirim di ponselku. Aku terharu. Mataku berkaca-kaca, dan doaku semoga ini menjadi awal dari keberhasilan yang lebih besar.

Mona, terima kasih sudah membuat keluarga bangga. Gelar sarjana itu bukan akhir. Ia adalah awal. Awal dari tanggung jawab baru, dari mimpi yang lebih besar, dari kerja keras yang lebih nyata.

Selamat, Mona.
Semoga ijazahmu segera menemukan tempat berlabuh terbaik. Jangan disimpan di laci. Biar dia bekerja.

Continue Reading

Wisuda  Kelulusan Tingkat TK Hingga SMA di Sorot, Ada Anak Tersenyum Bahagia

Wisuda Kelulusan tingkat SD/foto duniacetita

Suasana pagi pada pertengahan bulan Juni  terasa begitu tenang. Anak usia sekolah yang telah menyelesaikan ujian akhir nasional, akan mengikuti rangkaian acara penamatan yang dikemas dalam bentuk wisuda.

Pagi itu, saya ikut mendampingi anak pertama yang akan mengikuti wisuda di salah satu SDIT Islam di kota Makassar, Cobig Islamic School. Sekolah yang berlokasi di Jl. Andi Mangerangi 8 ini, menggelar wisuda kelulusan pertama  di Swissbellcourt Hotel, Sabtu 17 Juni 2023.

Di tengah riuhnya protes orang tua siswa terkait acara wisuda, yang dinilai tidak cocok dan memberatkan. Disisi lain, saya melihat ada anak yang tersenyum bahagia. Mereka dengan santai dan nyaman mengenakan jubah warna hitam. Di lehernya melingkar kain Samir hitam, pinggirannya perpaduan warna biru dan kuning.

Seragam wisuda itu, mungkin baru bagi mereka. Namun, dari pancaran wajah anak-anak yang ikut penamatan, seragam wisuda terkesan sangat istimewa. Sehingga membuat mereka bahagia. Di atas kepalanya terpasang rapi sebuah toga, menyempurnakan penampilannya. Saya ikut terharu melihat anak saya mengenakan seragam wisuda.

Kebahagiaan yang luar biasa yang kurasakan berbeda ketika mendampinginya saat wisuda TK. Anak-anak duduk dengan tenang.

Enam tahun di bangku sekolah bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan yang tentunya tercipta di sekolah saat mereka belajar bersama.  Dan hari itu, merupakan pertemuan terakhir, dengan pendidik dan teman-temannya. Acara wisuda akan menjadi catatan yang tentu tidak akan mereka lupakan.

Saat satu-persatu, anak-anak di panggil ke atas panggung, rasanya sangat sulit untuk tidak meneteskan air mata. Mereka berjalan layaknya baru menyelesaikan pendidikan di tingkat kuliah. Bukan hanya saya, orang tua lain yang ikut hadir di ruangan tempat wisuda berlangsung pun ikut terharu. Ketika menyaksikan tali toga dari kiri ke kanan.

Terharu karena bahagia. Biaya wisuda di tempat anak saya sekolah, tidak membebani para orang tua. Nilainya sangat kecil untuk acara yang menurut saya sangat luar biasa. Digelar di hotel, dengan makanan yang enak

Anggaran wisuda sebesar Rp500 ribu, include dengan pakaian wisuda dilaksanakan di hotel, bagi kami sangatlah murah. Murah tetapi acaranya tidak murahan.

Pada saat yang bersamaan  banyak juga orang tua yang protes dengan wisu kelulusan sekolah.  Aksi protes sejumlah orang tua viral di media sosial.

Sejumlah orang tua di daerah Jawa beranggapan, wisuda jenjang PAUD, SD hingga SMA terkesan pemborosan. Sebagian besar merasa terbebani sebab harus mengeluarkan uang banyak untuk kegiatan penamatan.

Sehingga mereka meminta kepada pemerintah untuk menghapus wisuda kelulusan TK hingga SMA. Wisuda cukup untuk mahasiswa saja.

Dulu, acara penamatan kental dengan kegiatan seni. Para siswa tampil dengan keahliannya masing-masing. Ada yang menari, vokal grop, buat drama, baca puisi dan berbagai kegiatan seni lainnya.

Acara yang dikemas seperti itu, juga memberikan  kesan tersendiri bagi para siswa. Sampai saat ini, pun menjadi kenangan yang tidak terlupakan bahkan menjadi cerita indah bagi generasi berikutnya. Tapi, itu dulu. Beda zaman tentunya beda cerita.

Continue Reading