Istri Selingkuh, Suami Bakar 33 Rumah Warga

Namanya Muhammad Rijal, sudah menikah dan memiliki anak. Dia Tinggal di kota Makassar. Pria berusia 36 tahun ini, bikin heboh masyarakat Makassar Senin Oktober 28 Oktober 2024.

Rijal yang diselimuti emosi membakar sampah di depan rumah mertuanya, di Jl. Laiya, kecamatan Bontoala. Dia tidak mampu membendung amarah saat melihat selingkuhan istrinya ada di rumah tersebut.

Akibat ulahnya itu, sebanyak 33 rumah padat penduduk ikut terbakar. Dia bahkan tidak tahu perbuatannya itu merugikan orang banyak. Rijal mulai sadar setelah mendengar kabar keesokan harinya, Selasa 29 Oktober 2024.

Dari informasi yang beredar, Rijal sebenarnya kesal dengan sikap istrinya yang selingkuh dengan temannya sendiri. Dia pun pergi meninggalkan ibu dari anaknya selama tiga Minggu.

Dia memilih meninggalkan keluarga kecilnya, karena jengkel dan merasa tidak dihargai. Namun, ketika mengetahui bahwa anaknya sedang sakit, sebagai seorang ayah, hatinya tergerak untuk menjenguk ke rumah mertuanya. Tetapi, sang istri tidak memberi izin, akhirnya dia pulang.

Rijal datang kembali pagi harinya di hari Senin. Sebelum masuk ke dalam rumah sang mertua, dia melihat selingkuhan istrinya juga ada di sana. Dia terbakar api cemburu, emosinya meletup-letup. Kakinya terhenti hanya sampai di depan pagar rumah.

Melihat tumpukan sampah di depan rumah mertuanya, dia pun membakar sampah plastik itu. Tujuannya untuk memancing temannya itu keluar.

Namun, setelah memastikan apinya membara dia pun meninggalkan rumah tersebut, tanpa menyadari akan berdampak pada rumah-rumah yang lain. Akibat aksinya itu, Rijal kini diamankan Polsek Bontoala.

Masyarakat yang kehilangan rumahnya hanya bisa pasrah, meskipun tidak ada korban jiwa namun warga Bontoala ini, kehilangan tempat tinggal mereka.

Continue Reading

Imbas Kemarau Panjang, Pemadaman Bergilir, Krisis Air Bersih dan Kebakaran

Kota kelahiranku sedang sakit, sedang tak baik-baik saja….

Dua bulan terakhir ini, mati lampu jadi pemandangan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat di Sulsel, pada umumnya dan kota Makassar pada khususnya.

Pemadaman bergilir datang dan pergi begitu saja menghadirkan keluhan, kecewa dan kesal dihati warga. Dampak paling memilukan banyak barang elektronik yang tiba- tiba rusak.

Telah dijadwalkan lampu padam selama empat sampai lima jam sehari, digilir masing-masing wilayah. Akibatnya banyak yang tidak betah tinggal di rumah. Mereka memilih ke Mall atau menginap di hotel. Apalagi bagi yang memiliki anak kecil.

Anak-anak merasa gerah, kepanasan dalam waktu yang lama. Mereka mengamuk dan menangis, mereka tidak akan pernah memahami kondisi yang terjadi.

Kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang merupakan penyebab utama listrik terpaksa dipadamkan, secara bergilir dibeberapa wilayah yang ada di Sulawesi-Selatan. Karena debit air kurang maksimal dibeberapa PLTA. Sehingga PLN pun menempuh jalan pemadaman bergilir. Sehingga mati lampu terjadi disebabkan pengoperasian pembangkit yang terbatas.

Kebakaran Nyaris Setiap hari

Dampak lain dari pemadaman bergilir dan kemarau panjang, kebakaran hampir setiap hari terjadi yang disebabkan korsleting listrik.

Seperti yang terjadi di SMP 8. Salah satu sekolah unggulan di Makassar, habis dilalap api. Penyebabnya kipas angin yang lupa dimatikan. Saat itu, anak-anak sedang belajar. Tiba-tiba mati lampu, sampai jam sekolah berakhir lampu tak kunjung menyala. Anak-anak pun pulang tanpa me ncabut colokan kipas.

Sehingga ketika listrik menyala, sudah tidak ada siswa atau guru di sekolah. Kabel kipas angin pun meleleh menyebabkan gedumg sekolah terbakar. Kemarau panjang dan kekeringan membuat daerahku tidak baik-,baik saja.

Kesulitan Air Bersih

Sebagian wilayah di Sulsel, terdampak kekeringan. Air yang merupakan kebutuhan pokok kita jadi sangat sulit. Krisis air bersih membuat warga berkecil hati. Semua serba sulit, selain untuk minum mereka butuhkan juga untuk mandi.

Namun, pemerintah tidak tinggal diam. Uluran tangannya sangat dibutuhkan. Mendistribusikan air untuk wilayah terdampak sudah dilakukan.

PDAM telah membagikan air bersih ke sejumlah titik yang membutuhkan air bersih. Selain pemerintah, bantuan dari pihak lain pun berdatangan. Senyum manis warga pun merekah, setidaknya masalah di tengah kemarau bisa teratasi.

Continue Reading