Kisah Sarah, Bocah 9 Tahun Syahid Menyusul Ayah, Ibu dan Dua Adiknya
Dua hari menjelang Idul Adha tahun 2026, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, berdiri di atas tumpukan puing-puing runtuhan bangunan di Gaza.
Sarah rindu pada ayahnya, ia pun menyiram air di atas makamnya yang syahid enam bulan yang lalu. Ia berdiri di atas batu besar yang berserakan, memegang wadah berisi air dan menyiram di atas gundukan tanah, tempat ayahnya beristirahat untuk selama-lamanya.
Momen itu, sederhana namun sangat mengharukan. Bagi Sarah, makam itu merupakan tempat terakhir ia bisa merasa dekat dengan sosok yang paling ia cintai.
Sarah mengenang enam bulan yang lalu, takdir kejam telah memisahkan mereka. Ayah Sarah syahid menyusul ibu dan dua adiknya saat lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT, saat pertemuan berkecamuk November 2023.
Sejak saat itu, Sarah kecil merasa dunianya telah runtuh. Ia merasa satu-satunya dalam keluarga kecilnya yang tersisa yang akan hidup untuk mengenang nama-nama keluarganya. Di usia yang seharusnya penuh tawa, dan bermain, Sarah sudah harus
Namun, kehidupan di Gaza, tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti bernapas lega, kesedihan belum sempat kering bahaya sudah datang menyapa.
Sarah masih sempat merasakan Idul Adha mungkin bukan perayaan yang riuh dan penuh hadiah. Setidaknya hari itu, ia masih bersama kakek dan bibinya. Dua orang kerabat yang menjadi penopang dalam hidupnya.
Ia berharap mungkin sisa hidupnya bisa berlalu aman bersama mereka. Namun, harapan itu bertahan hanya sebentar. Tak lama setelah hari raya berlalu, suara ledakan memecah keheningan. Sebuah rudal menghantam gedung tempat mereka tinggal.
Di detik itu juga, napas kecil Sarah berhenti, ia pergi tidak sendirian tapi bersama kakek dan bibinya. Sejak hari itu, tidak ada lagi keluarga dari marga mereka yang tersisa.
Kantor catatan sipil pun mencoret nama keluarganya. Tidak ada lagi baris nama mereka yang tertulis di daftar penduduk Gaza.


