Dokter Hussam Ditangkap Setelah Menyelamatkan Ratusan Anak Gaza”
Kisah Hussam Abu Safiya, dokter yang bertahan di tengah serangan demi pasien kecilnya hingga akhirnya ia ikut ditangkap saat rumah sakit dikepung.
Langit Gaza hari itu, tidak lagi menyisakan warna selain kelabu dan api. Suara ledakan bersahut-sahutan, memecah sunyi yang seharusnya menjadi milik anak-anak yang terlelap. Di sebuah sudut yang nyaris runtuh di dalam Kamal Adwan Hospital, seorang dokter masih berdiri.
Ia masih sibuk menjalankan tugasnya, menyelamatkan nyawa anak-anak yang ke a ledakan Bom, anak-anak yang tubuhnya sakit, anak-anak yang hampir saja pergi.
Namanya Hussam, disaat semua berlari menyelamatkan diri. Ia memilih diam, bukan karena tidak takut, tapi saat itu, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Ia menemani mereka hingga akhirnya Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, ditangkap tentara Israel akhir tahun 2024.
Hari itu, suara ledakan terdengar lebih dekat dari biasanya. Rumah sakit dikepung. Kepanikan merayap cepat seperti api. Pasien dan tenaga medis tak lagi tahu ke mana harus berlindung.
Ia bukan tentara, tidak membawa senjata. Tangannya hanya terbiasa memegang stetoskop, meraba denyut nadi kecil, dan menenangkan tangis anak-anak.
Serangan demi serangan terus mengguncang rumah sakit. Dinding retak, kaca pecah, listrik padam. Namun Hussam tetap memilih tinggal. Ketika sebagian orang mengungsi untuk menyelamatkan diri, ia justru melangkah lebih dalam ke pusat bahaya.
Bagi Husam, meninggalkan rumah sakit berarti meninggalkan ratusan anak yang tidak punya pilihan lain.
Di lorong-lorong yang gelap dengan peralatan seadanya, ia dan timnya tetap bekerja. Mereka mengubah keterbatasan menjadi keberanian setiap tindakan medis dilakukan dengan risiko yang sama besarnya dengan harapan yang dibawanya.
Di tengah semua itu, ia berhasil menyelamatkan ratusan anak, nyawa kecil yang mungkin akan hilang jika ia memilih pergi.
Sebagai direktur, Hussam tahu betul bahwa setiap hari yang ia jalani bukan lagi sekadar tugas medis melainkan pertaruhan hidup dan mati.
Rumah sakit itu bukan hanya bangunan, melainkan tempat terakhir bagi harapan yang hampir padam.
Satu tahun lebih ia di tahan, tidak ada tanda-tanda kapan ia dibebaskan. Keluarganya menunggu dengan cemas, penuh ketakutan dan rasa khawatir yang sangat dalam.
Saat pengacara Hussam berusaha mengajukan banding, ia justru dipindahkan ke sel tikus, sel tahanan pengasingan di penjara Nafha. Pemindahan tersebut terjadi di tengah kondisi penahanan yang sangat buruk dan penolakan layanan medis.


