Categories: Dunia Parenting

Lezatnya Apang Bugis, Teman nge Teh di Pagi Hari

Apang (Apem) kue khas Bugis, cemilan lezat yang biasa di santap pada pagi hari. Kue berbahan dasar tepung beras dan gula merah ini, sangat cocok sebagai teman nge teh. Apalagi di saat perut masih kosong.

Dulunya di Makassar, Apang  tidak begitu populer  biasanya dibuat oleh orang-orang tertentu. Berbeda di daerah Bugis, khususnya kabupaten Sidrap. Jika berkunjung ke daerah ini, sepanjang jalan kita banyak melihat penjual Apang, bahkan jadi oleh-oleh bagi warga yang datang atau pun mereka yang akan bepergian.

Apang mulai viral sekira tahun 2018 yang lalu. Tiba-tiba penjual Apang menjamur di seluruh wilayah di kota daeng. Hampir tiap hari penjual Apang dipadati pembeli. Mereka bahkan rela antri berjam-jam untuk membawa pulang Apang panas.

Harga yang terjangkau hanya Rp1000 per biji, membuat jajanan tradisional yang bertabur kelapa parut ini laris manis. Minum teh hangat dan Apang panas di pagi hari, menjadikan sarapan Anda terasa nikmat dan lezat khususnya bagi yang buru-buru berangkat kerja.

Tradisi Makan Apang di 16 Ramadan

Kue yang berbahan utama gula merah dan tepung beras ini, selalu ada pada acara sakral, atau songkabala yang biasa dilakukan oleh orang tua terdahulu. Bahkan hingga saat ini, pun masih ada yang melakukan ritual tersebut. Pada acara masuk rumah di kalangan orang Bugis dan Makassar, kue Apang selalu tersaji di antara kue tradisional lainnya.

Beberapa daerah di Sulsel, ada tradisi makan bersama kue Apang tepatnya di malam 16 Ramadan. Kebiasaan ini, turun temurun dilaksanakan oleh orang tua terdahulu dan hingga saat ini, masih terlaksana.

Mengutip jurnal stain Majene, tradisi beppa Apang di bulan Ramadan yang ditulis A. Abdulrahman, tradisi makan Apang bersama di Sulsel hanya dilakukan oleh masyarakat Bugis, yakni kabupaten Pangkep, khususnya yang tinggal di kecamatan Mandalle dan Segera.

Selain itu, warga yang tinggal di kabupaten Barru, Tante Riaja dan Rilau. Bahkan masyarakat biasanya membuat kegiatan festival yang dinamakan “Tradisi Manre Apang”. Kegiatan tersebut diwarnai dengan beragam lomba busana muslim, tilawah da’i cilik. Sebelum acara puncaknya di malam 16 Ramadan.

Andi Amriani

Recent Posts

Wafa Aqila, Hari Pertama Sekolah dan Hari Terakhir Hidupnya

Setiap hari dari media sosial, kita mendengar tentang pembunuhan di Gaza. Kabar yang menyayat dan…

2 bulan ago

Kemerdekaan Indonesia dan Jejak Kebaikan Muhammad Ali Taher dari Palestina

Tidak terasa, Indonesia telah 81 tahun merdeka, pada Agustus 2026 tahun ini. Usia kemerdekaan itu…

2 bulan ago

Tiga Tahun Terkubur di Bawah Reruntuhan, 112 Warga Gaza Dimakamkan

Hampir tiga tahun lamanya, mereka berada di bawah timbunan beton dan reruntuhan rumah yang pernah…

3 bulan ago

Keysa Histeris Memanggil Ayahnya, Jutaan Orang Ikut Menangis

Kisah Pilu Anak Korban Keroyokan Namanya Keysa, usianya sembilan tahun. Nama dan fotonya hampir setiap…

3 bulan ago

Back to School, Ada yang Semangat, Ada yang Masih Mencari Sisa Liburan

Pagi itu, Senin 20 Juli 2026, suasana terasa berbeda. Jalanan yang beberapa minggu terakhir relatif…

3 bulan ago

Liburan yang Berbeda, Belajar Mandiri di English Super Camp

Liburan sekolah tahun ini terasa berbeda bagi keluarga kami. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masa liburan…

4 bulan ago